23 January 2023, 09:07 WIB

Polusi Cahaya Halangi Penampakan Bintang di Langit Malam


Devi Harahap |

Sebuah Studi terbaru dari Pusat Penelitian Geosains Jerman mengungkapkan pandangan kita tentang bintang-bintang semakin menghilang. Para peniliti mengatakan jumlah bintang yang dapat dilihat orang dengan mata telanjang di langit malam telah berkurang drastis lebih dari setengahnya dalam waktu kurang dari dekade terakhir.

Tim peneliti menyatakan bahwa peristiwa ini disebabkan oleh "Skyglow" yakni sebuah pencahayaan buatan atau kecerahan cahayayang meningkat setiap tahun sejak 2011. Mereka juga menyebutkan bahwa polusi cahaya meningkat dengan cepat di beberapa lokasi.

Tim peneliti dalam proyek Globe at Night, Dr Christopher Kyba dan rekan-rekannya telah menerbitkan penemuan ini di jurnal Science. Mereka mengatakan, peningkatan polusi cahaya atau skyglow, yang mereka temukan jauh lebih besar daripada yang terukur oleh pengamatan satelit Bumi pada malam hari.

Untuk mempelajari perubahan kecerahan langit global dari cahaya buatan, para peneliti menggunakan pengamatan bintang pada malam hari selama 11 tahun dari tahun 2011 hingga 2022 yang diajukan oleh lebih dari 51.000 "warga ilmuwan" di seluruh dunia.

Peserta dalam proyek yang dijalankan oleh Laboratorium Penelitian Astronomi Optik-Inframerah Nasional AS inu diberi peta bintang dan diminta untuk membandingkannya dengan langit malam di lokasi mereka.

"Perubahan jumlah bintang yang terlihat dilaporkan setara dengan peningkatan kecerahan langit hampir 10 persen per tahun, rata-rata di atas lokasi para peserta. Artinya,  seorang anak yang lahir di area di mana 250 bintang terlihat, mungkin akan melihat kurang dari 100 bintang di lokasi yang sama 18 tahun mendatang," kata para peneliti seperti dilansir dari BBC pada Sabtu (21/1).

Menurut Christopher, sebagian besar pengamatan bintang dengan mata telanjang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Tren global dalam skyglow yang telah diukur kemungkinan meremehkan tren di negara-negara dengan peningkatan pembangunan ekonomi paling cepat, karena laju perubahan emisi cahaya paling tinggi di sana.

"Melihat gambar dan video Bumi di Stasiun Luar Angkasa Internasional pada malam hari, orang umumnya terpesona oleh 'keindahan' lampu kota. Namun, mereka tidak menyadari bahwa itu adalah gambar polusi. Ini seperti mengagumi keindahan warna pelangi yang dihasilkan dari bensin dalam air dan tidak menyadari bahwa itu adalah polusi kimiawi," ujarnya.

Sementara itu, penelitian lain mengenai polusi cahaya yang diterbitkan bersamaan dengan penelitian tersebut telah menegaskan bahwa polusi cahaya tak hanya mengurangi pandangan kita terhadap bintang, tetapi telah terbukti mempengaruhi kesehatan manusia dan mengganggu pola tidur.

Studi tersebut juga mengatakan bahwa polusi cahaya telah memengaruhi perilaku beberapa hewan nokturnal yang dikaitkan dengan penurunan jumlah serangga lokal.

Dr Kyba berharap bisa melihat beberapa tanda perbaikan dalam polusi cahaya dalam beberapa tahun terakhir, karena banyak pusat kota baru-baru ini mengubah pencahayaan mereka menjadi lebih hemat energi dengan dioda pemancar cahaya (LED).

Pola pergantian LED telah terjadi terutama di kota-kota negara maju. Mereka menukar lampu jalan yang lebih tua dengan LED modern yang lebih efisien dan mampu digunakan menerangi ke arah bawah jalanan.

"Dan ingat bahwa polusi cahaya adalah pemborosan energi. Kita terus memasukkan energi cahaya itu ke atmosfer, dan mungkin bukan itu yang seharusnya kita lakukan," jelas peneliti dalam pernyataannya.

Menurut sebuah studi tahun 2022 oleh Badan Antariksa Eropa, biaya pencahayaan LED yang relatif rendah dan mampu berkontribusi mengurangi masalah polusi cahaya. Diharapakan jika cahaya diarahkan dengan lebih baik, situasinya akan menjadi lebih baik.

"Tapi ada begitu banyak jenis pencahayaan seperti lampu jalan, dekoratif gedung, papan iklan. Jadi, dengan gabungan semua itu, mungkin lebih banyak pencahayaan yang dibutuhkan secara keseluruhan, yang mana juga memperburuk kecerahan langit," jelas peneliti dalam pernyataannya.

Akan tetapi, peneliti menggambarkan kondisi tersebut sebagai "paradoks pencahayaan" mereka mengatakan bahwa semakin murah dan semakin baik pencahayaan, semakin tinggi kecanduan masyarakat terhadap cahaya.

"Sementara revolusi pencahayaan LED berjanji untuk mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan penglihatan manusia di malam hari, namun justru secara keseluruhan polusi cahaya telah meningkat," jelasnya.

BERITA TERKAIT