23 January 2023, 08:57 WIB

Ikan Air Tawar di AS Tercemar Polutan Kimia Berbahaya


Devi Harahap |

Sebuah studi dari Kelompok Kerja Lingkungan (EWG) mengungkapkan bahwa ikan air tawar di wilayah Amerika Serikat telah terkontaminasi dengan bahan 'kimia selamanya' tingkat berbahaya, termasuk yang disebut PFOS (Perfluorooctane sulfonic acid).

Akibat dari tingkat polutan tersebut, para peneliti menyatakan mengkonsumsi satu ikan air tawar yang ditangkap di sungai atau danau di Amerika Serikat (AS) sama dengan meminum air tercemar dan beracun selama sebulan.

PFOS adalah bagian dari kelompok aditif yang diproduksi yang dikenal sebagai zat perfluoroalkyl atau PFAS, yakni sebuah zat yang pertama kali dikembangkan pada tahun 1940-an untuk menahan air dan panas. Selain itu, PFAS biasanya digunakan dalam proses pembuatan barang-barang seperti panci antilengket, tekstil, busa pencegah kebakaran, dan kemasan makanan.

Dilansir dari AFP pada Jum'at (20/1), PFAS disebut bahan kimia selamanya karena tidak terurai di lingkungan dan sering terakumulasi dan menumpuk secara biologis dari waktu ke waktu di udara, tanah, danau, sungai, makanan, air minum, dan bahkan pada tubuh manusia serta spesies, seperti ikan.

Tingkat bahaya dari PFAS telah mendorong sejumlah pihak membuat regulasi yang lebih ketat untuk pengguna PFAS, sebab hal ini sering berdampak pada berbagai masalah kesehatan yang serius seperti kerusakan hati, kolesterol tinggi, penurunan respon imun dan beberapa jenis kanker.

Untuk mengetahui kontaminasi PFAS pada ikan tangkapan lokal, tim menganalisis data dari lebih dari 500 sampel fillet ikan yang dikumpulkan dari 2013 hingga 2015 dari sungai dan danau di seluruh Amerika Serikat, di bawah program pemantauan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), Penilaian Sungai dan Aliran Nasional, dan Studi Jaringan Fillet Ikan Kesehatan Manusia Great Lakes.

Para Ilmuwan juga menemukan jumlah rata-rata PFAS pada ikan air tawar di AS 278 kali lebih besar dari bahan kimia yang terdeteksi pada beberapa ikan yang ditangkap dan dijual secara komersial. Data pengujian menunjukkan bahwa konsumsi terlalu sering ikan air tawar dapat menyebabkan paparan PFAS yang serupa dengan mengonsumsi ikan yang dibeli di toko setiap hari selama setahun.

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research, tingkat rata-rata PFAS pada ikan adalah 9.500 nanogram per kilogram. Ini hampir tiga perempat dari "bahan kimia selamanya" yang terdeteksi adalah PFOS, salah satu yang paling umum dan berbahaya dari ribuan PFAS.

Tim dalam penelitian juga menemukan bahwa mengonsumsi satu ikan dalam setahun sama dengan meminum air dengan PFOS sebesar 48 bagian per triliun (ppt) selama satu bulan.

"Orang yang mengonsumsi ikan air tawar, terutama mereka yang menangkap dan makan ikan secara teratur, berisiko mengalami tingkat PFAS yang mengkhawatirkan dalam tubuh mereka. Ancaman kimia adalah yang terbesar dan saya tidak bisa lagi melihat ikan tanpa memikirkan kontaminasi PFAS, "kata David Andrews, seorang ilmuwan senior di EWG yang memimpin penelitian.

Menurut Andrewss temuan itu sangat memprihatinkan karena berdampak pada masyarakat kelas bawah atau kurang mampu yang mengonsumsi ikan sebagai sumber protein atau karena alasan sosial atau budaya.

"Penelitian ini membuat saya sangat marah karena perusahaan yang membuat dan menggunakan PFAS mencemari dunia dan tidak bertanggung jawab," ujarnya.

Patrick Byrne, seorang peneliti tentang pencemaran lingkungan di Liverpool John Moores University Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan PFAS mungkin merupakan ancaman kimia terbesar yang dihadapi umat manusia di abad ke-21.

"Studi ini penting karena memberikan bukti pertama penyebaran PFAS langsung dari ikan ke manusia. Sudah seharusnya kita fokus untuk membuat peraturan yang jauh lebih ketat untuk mengakhiri semua penggunaan PFAS yang tidak penting," katanya kepada AFP.

Sedangkan studi tersebut dilakukan setelah negara seperti Denmark, Jerman, Belanda, Norwegia, dan Swedia mengajukan proposal untuk melarang PFAS ke Badan Bahan Kimia Eropa UE pada hari pekan lalu.

Proposal terkait pelarangan PFAS yang merupakan salah satu terbesar dalam sejarah UE itu muncul setelah lima negara tersebut menemukan bahwa PFAS tidak cukup dikontrol, dan peraturan di seluruh blok diperlukan.(M-3)

BERITA TERKAIT