28 December 2022, 07:05 WIB

Melestarikan Budaya tanpa Kehilangan Hakikat Aslinya


Nike Amelia Sari |

INDONESIA terus mendaftarkan beragam warisan budaya untuk diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda (WBTB). Belum lama ini, Kemenparekraf Sandiaga Uno mengatakan pemerintah mendaftar kebaya melalui jalur single nation atau pengajuan oleh satu negara.

 

Sebelumnya, jamu juga sudah didaftarkan menjadi WBTB dan masih berproses di UNESCO. Hingga kini, Indonesia setidaknya memiliki 12 budaya yang sudah disahkan sebagai WBTB oleh badan PBB tersebut.

 

Di sisi lain, status WBTB tidak menjamin jika budaya itu akan tetap lestari. Pelestarian dan pengembangan tetap menjadi tantangan yang harus dijalankan bersama.

 

Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Pudentia MPSS mengingatkan jika pengembangan dan pelestarian budaya jangan sampai menghilangkan hakikat asli budaya itu. ATL merupakan asosiasi yang berpengalaman dalam melestarikan budaya dan telah kembali mendapatkan akreditasi dari UNESCO. Hal tersebut memungkinkan ATL menjadi mitra UNESCO dalam memberikan pelayanan terkait Konvensi 2023.

 

Ia memberi contoh perubahan pengembangan budaya yang sudah kehilangan hakikat, salah satunya adalah lenong. Lenong kini lebih dikenal dengan goyunan sementara pada hakikatnya tidak itu saja.

 

 Lenong hakikatnya bukan hanya guyonan, tapi juga ada dialog, ada unsur teater yang lengkap. Pakemnya apa, kalau sudah beda, orang gak akan kenal lagi sebagai Lenong. Atau misalnya cerita pantun Sunda, jadi ini bagaimana ceritanya, anak-anak gak ngerti. Tapi ini harus dipentaskan dalam konteks, artinya orang harus tahu ini memang harus pakai bahasa Sunda. Apabila juru pantunnya berbicara pakai bahasa Indonesia, nah ini menjadi berubah," tuturnya saat dihubungi Media Indonesia via telepon, Jumat (23/12).

 

Agar tetap mempertahankan hakikat asli maka pelaku pelestarian dan pengembangan budaya perlu melibatkan maestro dari WBTB tersebut.  "Pengembangan ini yang masih melihat apa aslinya, masih ada maestronya, masih ada diskusi, dan lain sebagainya. Nah, itulah cara yang benar untuk melestarikan,” lanjutnya.

 

Pelestarian budaya juga disarankan dimasukkan itu ke dalam materi muatan ke sekolah dan mementaskannya di  ruang-ruang publik.

 

Namun, ia juga mengingatkan jika hal dasar penting dalam melestarikan budaya adalah memberi pemahaman. Hal itu berarti juga memberi pengetahuan soal sejarah budaya tersebut hingga makna dan artinya bagi masyarakat setempat.

 

 "Dia (orang yang mau melestarikan) harus memiliki pemahaman yang mumpuni. Artinya enggak cuma sembarang asal tahu, misalnya asal tahu cuma deskripsi saja, tapi enggak tahu sebenarnya sejarahnya, maknanya, dan artinya untuk masyarakat setempat. Mumpuni itu dia harus mengetahui seutuhnya mengenai itu," lanjutnya. Dengan hal tersebut maka ia menyakini jika pengembangan WBTB tetap memiliki roh aslinya atau pola-pola dasar aslinya dan sekaligus dapat dibuat menarik. (M-1)

BERITA TERKAIT