03 December 2022, 18:45 WIB

Waduh, Banyak Pakaian Donasi untuk Korban Gempa Justru Tak Layak Pakai


Devi Harahap |

SEMANGAT berdonasi warga Indonesia setiap kali bencana terjadi memang patut diacungi jempol. Namun di antara banyak aksi simpatik, nyatanya ada pula ulah orang-orang yang membuat gerakan donasi justru menjadi masalah baru dan beban bagi para korban.

 

Salah satu contoh yang banyak terjadi adalah donasi pakaian yang tidak layak pakai. Akibatnya, bukan saja tidak menolong korban, pakaian-pakaian itu menjadi sampah baru di lokasi bencana.

 

Ini pula yang diungkapkan Britania Sari, salah satu pendiri Akarintis yang juga pegiat Komunitas Peduli Bogor Barat sekaligus Praktisi Zero Waste, yang sudah beberapa waktu ini menjadi relawan bagi korban gempa Cianjur, Jawa Barat. 


 

"Donasi pakaian terus berdatangan untuk membantu penyitas gempa. Sayangnya, pakaian yang datang banyak yang tidak layak pakai, seperti pakaian sobek, kancing yang hilang, resleting yang rusak, baju kumal dan bau apek, pakaian dalam bekas, bra sobek dan lain sebagainya" ujar perempuan yang akrab disapa Sari, ini saat dihubungi Media Indonesia pada Jum'at (2/11). 

 

Sari mengungkapkan pada minggu pertama pascabencana, dia bersama tim yang bertugas di Desa Barulega RT. 04, Cirumput itu menerima begitu banyak pakaian tak layak pakai. Sekitar 60 persen dari donasi pakaian yang masuk termasuk kategori tidak layak pakai, jumlahnya hampir 10 karung.

 

"Walaupun standar layak pakai orang itu berbeda-beda, tapi untuk kami layak pakai itu artinya bisa dipakai lama oleh para penyintas gempa karena kita tidak pernah tahu mereka akan stabil itu kapan, bisa jadi sebulan atau beberapa bulan atau tahun depan mungkin baru stabil artinya mereka butuh pakaian yang benar-benar dalam kondisi layak," jelas perempuan 38 tahun itu. 

 

Donasi pakaian tidak layak bukan saja menunjukkan ketidakpekaan donatur akan 

kondisi di lokasi bencana yang, tentunya, sulit untuk mencuci dan memperbaiki pakaian yang kotor maupun rusak. Bahkan, dengan kondisi kerusakan yang cukup banyak, tampaknya memang ada orang-orang yang menganggap aksi donasi sebagai cara 'membuang sampah'.

 

Ada pula pakaian yang dalam kondisi baik namun sangat tidak cocok dengan kondisi setempat. Contohnya, Sari menemukan donasi pakaian jenis jas, gaun, dan tanktop dengan aplikasi berkilauan. 

 

Dengan kondisi itu, Sari dan timnya bukan saja harus bekerja ekstra untuk menyortir pakaian dan mencari solusi agar tidak berujung menjadi limbah, ia juga harus membuat cara untuk menghentikan donasi pakaian tidak layak. 

 

Maka ia gencar membuat kampanye dan edukasi melalui akun instagram @britaniasari. 

 

Ia pun mengakui jika pengelolaan donasi pakaian lebih sulit dari donasi makanan. Tidak hanya itu penyortiran membuat waktu dan tenaga terbuang, padahal banyak hal urgen lain yang harus dilakukan bagi korban bencana.


 

"Pengelolaan donasi pakaian ini sebenarnya lebih sulit dari donasi makanan, kalau makanan hanya tinggal beli bahan atau dimasak lalu dibagikan. Tapi kalau pakaian ini harus didata, mulai dari usia, gender, ukuran, sampai dengan identitas seperti ada yang berjilbab dan sebagainya jadi memang kita sudah disibukkan dengan pendataan," tuturnya.

 

Agar donasi pakaian tepat sasaran, Sari dan timnya kemudian membuat pendataan korban bencana dengan detil, berikut jenis kelamin, usia, ukuran pakaian, hingga jenis pakaian yang sangat dibutuhkan. Termasuk, kebutuhan berupa kerudung, gamis, dan lainnya. 

 

Tidak berhenti di situ, Sari juga paham jika cara pemberian donasi pakaian akan mempengaruhi ketergunaan. Pakaian yang hanya diletakkan dalam tumpukan akan lebih cenderung tidak diambil para korban dan akhirnya hanya menjadi sampah.

 

Sebab dengan tertumpuk dan teraduk-aduk maka bentuk dan kondisi pakaian tidak terlihat jelas dan semakin tidak menarik. Ada pula kemungkinan muncul konflik saat warga berebut pakaian.


 

Maka Sari dan timnya menggantung satu-persatu pakaian yang sudah disortir. Dengan begitu bentuk pakaian akan terlihat jelas. 

 

Kesempatan memilih pakaian donasi ini, ia gabungkan dalam kegiatan pembagian kebutuhan peralatan lainnya, termasuk peralatan mandi, sandal jepit, dan lainnya. Sari menyebut kegiatan ini ibarat bazar yang semua, tentu saja, gratis. 

 

Agar berjalan tertib, warga korban bencana dibagikan kupon urutan dan diberi keranjang besar yang menjadi tempat untuk menaruh barang-barang yang mereka dapatkan. Keranjang per keluarga ini juga sangat signifikan membuat kondisi tenda pengungsian tetap rapi.

 

Sari juga melibatkan warga korban bencana bergotong-royong dalam pengaturan pembagian ini, termasuk para remaja yang membuat kupon urutan dan para bapak yang menyiapkan bambu untuk rak menggantung baju donasi yang siap dipilih. Hasilnya, kegiatan ini menarik dan menjadi semacam trauma healing, khususnya bagi para ibu yang memang senang memilah-milah barang. 

 

"Kami siapkan bazar ini sekitar 5 jam, kemudian dibuka untuk para penyintas jadi mereka bisa datang dan memilah-milih baju yang sudah digantung rapi menggunakan bambu. Secara psikologis mereka lebih suka memilih-milih pakaian sendiri daripada dikasih dengan cara diantarkan. Di bazar gratis ini seolah mereka seperti lagi berbelanja baju, rasanya dikasih dengan memilih sendiri juga pasti beda, mereka jadi lebih happy, hal ini akan meningkatkan imun mereka, setidaknya bisa menyegarkan pikiran," ungkapnya. 


 

Di sisi lain, meski terus menerapkan sistem sortir, Sari berharap akan semakin banyak orang memiliki kepekaan tinggi saat berdonasi. 

 

"Kita harus berpikir dan menimbang rasa terlebih dahulu, Bagaimana perasaan kita jika sebagai korban bencana, menerima donasi pakaian yang sudah tak layak, alangkah baiknya kita posisikan diri sebagai penyintas. Sebisa mungkin berikan pakaian yang orang lain senang ketika menerimanya," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT