28 November 2022, 12:14 WIB

Gugur Gunung Merawat Seni Budaya


Devi Harahap |

Dua detik setelah bunyi keprak kendhang, dua penari melesat masuk dengan endhong panah di punggung dan cundrik di tangan. Di tengah panggung yang bernuansa kemerahan oleh permainan lampu sorot, keduanya saling menghunus cundrik sebelum kemudian para penari lain menyusul masuk ke panggung.

Lima penari berkemben beludru hitam, lima lainnya beludru merah. Berpasangan.

Seiring tabuh gamelan yang bertempo cepat, lima pasang penari tersebut bergantian menyerang dan menangkis, seolah ingin menggambarkan mereka sedang beradu kesaktian. Di penghujung tari, kesepuluh penari itu membentangkan busur, dan anak-anak panahpun melesat di panggung.

Srikandhi Larasati, begitu nama tarian yang mereka bawakan. Tarian berpakem gerak Surakarta klasik yang terinspirasi dari kisah pewayangan Mahabrahata itu menjadi salah satu penampilan dalam Omah Wulangreh Gugur Gunung, di Usmar Ismail Hall, Jakarta, Minggu (27/11).

Pergelaran yang berlangsung separuh hari tersebut merupakan hajatan perdana dari Wulangreh Omah Budaya (WOB), komunitas seni budaya yang berlokasi di Jakarta Selatan. Dengan tema "Dari kami untuk Ibu Pertiwi", WOB ingin mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat seni tari dan gamelan Nusantara. 

Omah Wulangreh Gugur Gunung menampilkan 20 tarian dan karawitan dengan total 157 penampil. Yang unik, sebagian besar dari mereka bukanlah anak muda atau anak-anak sebagaimana banyak sanggar tari di Ibu Kota, melainkan para dewasa dengan beragam profesi dan latar belakang.

"Selama tiga tahun, khususnya setahun terakhir, teman-teman di Omah Wulangreh telah belajar dan berlatih. Banyak dari mereka tidak hanya belajar satu tarian saja. Bahkan ada yang bisa belajar empat tarian. Tapi, untuk pagelaran kali ini, kami batasi satu penari hanya bisa mementaskan maksimal dua tarian," ujar Reny Ajeng, pendiri Komunitas WOB, saat ditemui Media Indonesia, seusai acara.

Ia menuturkan, sejak berdirinya di 2014, WOB telah membuka puluhan kelas dan lokakarya tari dari beragam macam daerah di Nusantara. Pada pementasan ini, jelasnya, lebih banyak didominasi oleh tarian Bali dan Jawa Tengah karena secara pengajaran, siswa kelas-kelas tersebut sudah matang dan siap secara teknik untuk pentas di hadapan publik. Untuk pergelaran mendatang, WOB akan menampilkan tarian dari lebih banyak daerah.

"Tidak hanya Jawa Tengah dan Bali, tahun ini kami juga menampilkan tarian Jawa Timur, Dayak, dan Betawi. Selain itu kami juga membuka kelas tari dari berbagai daerah di Indonesia, ada kelas Sulawesi, Sumatra, semoga tahun depan bisa dipentaskan," lanjutnya.

Pada perhelatan pertama ini, WOB mengangkat spirit ‘gugur gunung’, istilah yang lazim dipakai untuk menggambarkan kegiatan gotong-royong yang dilakukan untuk kepentingan bersama, tanpa mengharapkan imbalan. Menurut Reny, istilah ‘gugur gunung’ dipilih untuk menggambarkan semangat kerja sama kolektif berbagai pihak dalam menyiapkan perhelatan ini pada khususnya, dan dalam melestarikan seni budaya Indonesia pada umumnya.

"Omah Wulangreh Gugur Gunung adalah sebentuk perwujudan tersebut, karena kami meyakini proses merawat kebudayaan tidak bisa dilakukan sendiri. Kami juga percaya budaya memengaruhi banyak aspek kehidupan, mulai dari adat istiadat, politik, agama hingga karya seni yang merupakan aset berharga dan identitas suatu daerah" jelas Reny.

Semangat kebersamaan juga terlihat dari pemberdayaan UMKM pada  area Pasar Minggu Pahingan (PMP) yang bertempat di area lobi. PMP sendiri merupakan bazar yang diinisiasi WOB sejak 2019. Sesuai namanya, PMP diadakan saban Minggu Pahing atau setiap 35 hari sekali berdasarkan kalender Jawa. 2019.

“Lewat Pasar Minggu Pahingan ini, kami berharap dapat menjadi wadah bertemunya pembeli dan penjual sehingga ikut mendorong perputaran roda perekonomian masyarakat," ucap Reny.

Dengan narasi
Pada kesempatan sama, Putri Mayangsari, Show dan Stage Director Gugur Gunung Omah Wulangreh menuturkan, seluruh tim dan penampil menyiapkan pementasan teresebut selama 6 bulan. Persiapan mulai dari teknis tari, seperti koreografi dan pola lantai, sampai konsep acara baik berupa penataan panggung, lampu, maupun suara.

"Kami ingin membuat pergelaran tari dengan satu kemasan yang unik, dengan sebuah cerita atau narasi yang berkesinambungan sebagai penghubung antara satu tarian dan tarian lainnya. Narasi itu juga untuk membuat penonton paham apa makna umum dari tarian-tarian yang ditampilkan, sehingga mereka juga bisa berimajinasi dan mendapatkan nilai-nilai tradisi itu, bahwa 'oh, (tari) ini ceritanya tentang ini ya,’ dan supaya pentonton tidak bosan," ungkap Putri yang pada event ini turut tampil dalam tarian Srikandhi Larasati.

Dimulai kurang lebih pukul 10 pagi, pertunjukan diawali dengan tari Gambyong Pangkur oleh 13 penari dalam balutan kemben jumputan merah jambu dan jarik motif parang.  Selaras alunan gendhing Pangkur, kepala mereka bergoyang ke kiri dan kanan.

Dalam pembacaan narasi yang juga dapat disimak penonton pada layar di panggung, Gambyong Pangkur memiliki spirit utama mengenal kembali nilai-nilai tradisi lokal, yakni gotong royong dan kebersamaan. Mengajak para penonton untuk saling terhubung, bahu-membahu, dan mengedepankan sikap kekeluargaan guna mewujudkan sebuah pekerjaan yang berguna untuk khayalak luas.

Di sesi kedua, tari Manuk Rawa mendapat respons hangat dari penonton. Pasalnya, tari kreasi dari Bali itu dibawakan empat penari cilik yang menggemaskan. Paling kecil berusia tiga tahun. Melompat ke sana ke mari, keempatnya bak burung-burung rawa kecil yang sedang bermain dengan riang gembira.

Gugur Gunung Omah Wulangreh pun tidak hanya berisi penari perempuan. Ada pula para penari pria yang membawakan Gurnita Wira Rebana. Tari Bali itu menggunakan ketukan rebana sebagai identitas alat musik pengiring tari. Namun, berbeda dari tarian lain, empat penari -satu di antaranya perempuan- pada Gurdita Wira Rebana mengedepankan gestur-gestur lucu yang sukses memancing tawa para penonton.

Tari Dayak, Borami Rami, juga memiliki daya magis tersendiri. Dipertontonkan oleh dua penari pria dan delapan penari perempuan, tarian ini seakan membawa para penonton menyaksikan kehidupan bergotong-royong di hutan Kalimantan. Permainan lampu sorot dan aneka properti, seperti caping dengan lampu-lampu kecil atau hiasan kepala dari bulu burung, membuat visual Borami Rami begitu atraktif.

Di akhir pergelaran adalah Remo Madya dari Jawa Timur. Sepuluh penari Remo Madya tampil powerfull dalam tarian yang didominasi hentakan kaki untuk menciptakan irama dari gongseng (gelang lonceng) yang membalut pergelangan kaki mereka. Penampilan mereka yang impresif sebagai pemungkas acarapun berujung applause meriah dari penonton. (M-2)

BERITA TERKAIT