27 November 2022, 05:25 WIB

Panglima Menjawab Kontroversi


PUTRI ROSMALIA |

SEJAK diangkat sebagai Panglima TNI, sosok Jenderal TNI Muhammad Andika Perkasa menjadi perhatian publik. Beberapa hal dalam latar belakangnya menjadi perbincangan.

Pada saat dilantik, Andika telah berusia 56 tahun, membuatnya menjadi Panglima TNI tertua sepanjang sejarah. Lulusan Akademi Militer 1987 tersebut adalah menantu dari Jenderal TNI (Purn.) AM Hendropriyono.

Suami dari Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono itu pun dianggap ‘anak emas’. Bahkan, pemilihannya sebagai Panglima TNI dianggap banyak pihak karena sang mertua akrab dengan Megawati dan Presiden Joko Widodo.

Satu tahun menjabat sebagai Panglima TNI, Andika tak satu-dua kali menghebohkan laman-laman berita di Tanah Air dengan kebijakan-kebijakan yang kontroversial. Di antaranya keputusan menghilangkan tes keperawanan pada calon anggota TNI perempuan dan calon istri anggota TNI.

Andika juga memperbolehkan keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mendaftar sebagai anggota TNI. Di tengah segala kritik, Andika tetap tenang dan tak gegabah menjawab pertanyaan publik dan wartawan.

Hal itu pula yang ditampilkan pria bernama lahir Fransiskus Xaverius Emanuel Andika Perkasa saat menjawab berbagai pertanyaan tajam Andy F Noya. Andika hadir dalam Kick Andy Double Check episode Panglima Buka Suara, yang tayang pada Minggu (27/11) pukul 21.05 WIB di Metro TV.

Membuka acara, Andy F Noya mencoba mencari tahu lebih jauh tentang keputusan Andika membolehkan keturunan PKI menjadi tentara. Sebuah keputusan yang berani dan kontroversial.

Meski PKI telah berdekade-dekade hilang, masih banyak pihak yang percaya akan potensi bangkitnya komunisme di dalam negeri. Andy mengatakan pemikiran dan keputusan Andika adalah hal yang revolusioner, tetapi juga berisiko bagi dirinya sendiri. Mengingat tak sedikit para seniornya di TNI yang masih sangat anti dan menentang segala hal berbau PKI.

“Keputusan Anda yang sampai hari ini jadi pembicaraan karena dianggap kontroversial, yaitu Anda mengizinkan keturunan anggota PKI untuk masuk jadi tentara. Apa dasarnya?” tanya Andy.

Menjawab pertanyaan tersebut, Andika menegaskan dirinya selalu membuat kebijakan dengan lebih dulu memastikan peraturan perundang-undangan di baliknya. Ia memastikan setiap keputusan yang dibuatnya tak akan bertentangan dengan aturan yang ada. Begitu juga soal izin bagi keturunan PKI mendaftar jadi tentara.

Dengan detail dan yakin, ia memaparkan apa saja aturan yang menjadi landasannya untuk berani mengambil keputusan tersebut. Berbekal pengetahuan dan pemahamannya tentang aturan yang ada baik di tingkat undang-undang maupun aturan Panglima TNI pendahulunya, ia tak gentar untuk melanjutkan keputusan
itu meski mendapat pandangan miring dari banyak orang.

Kemudian soal keputusannya menghapus tes keperawanan bagi calon anggota TNI dan calon istri personel TNI. Tak sedikit yang masih berpikiran tradisional bahwa keperawanan memengaruhi moral seorang wanita, dan moral adalah hal yang dibutuhkan setiap calon anggota TNI.

“Bagi saya itu tidak benar (keperawanan selalu berhubungan dengan moral). Lagi pula kita tidak bicara moral dalam proses seleksi. Item-item seleksi tak ada yang mengukur soal moral. Seleksi dinilai dari berbagai aspek, seperti akademik, psikologi, dan kesehatan jasmani yang pertimbangannya apakah mereka bisa mengikuti latihan dasar militer,” tutur Andika.

Tak hanya itu, kepada Andy, Andika juga memaparkan pandangannya tentang hak setiap orang untuk mencoba menjadi anggota TNI. Begitu pula hak setiap anggota TNI dalam memilih pasangan hidup.

Pandangan-pandangan tersebut disampaikan Andika dengan gayanya yang tegas tapi tetap membumi. Sangat memperlihatkan sisi lain dari sosok Panglima TNI yang selama ini identik dengan tampilan gagah dan tegas.

Andy juga menanyakan klarifi kasi Andika soal tuduhan yang menyebutkan dirinya ikut bertanggung jawab atas tewasnya tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay. Pembunuhan itu terjadi pada 10 November 2001. Theys adalah ketua Presidium Dewan Papua (PDP), sebuah lembaga yang dibentuk oleh Presiden Abdurrahman Wahid untuk mempersiapkan otonomi khusus bagi Papua.

“Saya tidak tahu siapa yang berusaha mengangkat isu itu, tapi saya akan senang kalau yang mengangkat itu menunjukkan mana buktinya,” tuturnya.

Andika menjawab semua pertanyaan tentang mengapa ia tak banyak berkomentar terkait dengan tuduhan itu selama ini. Tanpa ragu ia memaparkan alibinya atas tuduhan tersebut. Berbagai isu lain tak ketinggalan dibahas Andy dalam acara tersebut.

Mulai dari pandangan yang menyebut Andika sebagai pemimpin yang tak menunjukkan keberpihakan kepada anak buah, pro-kontra hak pilih pemilu bagi anggota TNI dan Polri, tuduhan TNI sebagai alat pelindung para petinggi di Mahkamah Agung, hingga pandangannya tentang radikalisme dan konfl ik yang terjadi di berbagai penjuru Tanah Air saat ini


Bursa capres


Salah satu pembahasan lain yang tentunya tak ketinggalan ditanyakan Andy kepada Andika ialah perihal namanya yang masuk bursa calon presiden dan wakil presiden 2024. Berbagai survei menyebutkan Andika memiliki peluang menjanjikan untuk maju sebagai calon presiden atau wakil presiden di 2024 mendatang.

“Di luar sana sudah ada kelompokkelompok yang mendukung Anda untuk dicalonkan maju di pilpres atau cawapres 2024. Anda mau melarang atau membiarkan?” tanya Andy.

“Tak mungkin saya melarang, masing-masing punya hak, tapi yang jelas bukan saya yang meminta. Yang pasti saya realistis saja. Realistis artinya saya ini siapa sih. Saya tidak mau geer (gede rasa),” tutur Andika.

Ia juga menjawab pertanyaan tentang apakah sudah ada partai yang meminangnya untuk maju sebagai kandidat calon presiden atau wakil presiden di Pemilu 2024 nanti. Termasuk kapan ia akan menjawab pertanyaan publik mengenai kesediaannya mengikuti Pemilu 2024.

Tak ketinggalan, Andy menanyakan pula tentang kekayaan Andika yang fantastis, mencapai Rp179 miliar. Ia punya tanah di berbagai tempat. Sebagian besar berasal dari ‘hibah tanpa akta’. Sang Jenderal pernah hidup di Amerika Serikat selama kurang lebih delapan tahun dan sempat membeli beberapa rumah.

Dia pun menjawab dengan tenang pertanyaan tentang sumber kekayaannya tersebut. Dengan senyum malu-malu tapi apa adanya, Andika menjelaskan dari mana saja dan bagaimana ia bisa memiliki banyak aset di dalam dan luar negeri. Ia juga tak menampik peran serta keluarga istrinya yang kaya raya dalam kepemilikan aset-aset tersebut.

“Ya, itu fakta. Yang jelas sebagian besar dari istri saya,” tuturnya. Pada momen tersebut Andika juga mencurahkan isi hatinya tentang bagaimana ia kerap dipandang sebelah mata oleh banyak pihak dalam berkarier.

Banyak pihak yang menganggap pancapaiannya di TNI tak lain berkat sang mertua. Padahal, ia mengaku mencapainya dengan kerja keras dan prestasi yang diraihnya dengan susah payah.

Menutup perbincangannya dengan Andy, Andika bercerita mengenai acara KTT G-20 yang baru saja berakhir. Ia menceritakan bagaimana rumitnya menyiapkan acara besar yang menghadirkan banyak kepala negara. Ketegangan kala mengantisipasi adanya aksi kejahatan hingga perasaan lega dan syukur yang membuncah setelah
acara tersebut sukses digelar dengan aman. (M-1)

BERITA TERKAIT