20 October 2022, 10:45 WIB

Radio Swasta Indonesia Ramai-Ramai Masuk Platform Streaming


Fathurrozak |

MERESPONS dirupsi digital yang mengubah peta konsumsi konten hiburan dan bisnis siaran, Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) melihat perlunya migrasi ke platform digital. Saat ini, memang beberapa radio anggota PRSSNI telah memiliki kanal siaran digital. Namun, dari total sekira 585 radio swasta yang menjadi anggota, belum sepenuhnya mengikuti langkah tersebut.


Hal itu mendorong kerja sama PRSSNI dengan platform streaming Noice. Nantinya, dengan kerja sama tersebut siaran bisa disimak tidak terbatas pada regional tertentu. Ini berbeda dari yang ditetapkan pada aturan KPI.

 

Sekretaris Umum PRSSNI M. Rafiq, mengungkapkan salah satu tujuan dari kerja sama ini adalah memperbesar kue iklan. Disrupsi digital dilihatnya juga telah mengubah pola pengiklan dalam  memasang iklan mereka, yang kini bersandar pada data terkini (real time).

 

“Pengiklan kini sudah melihat data real time. Memang saat ini penikmat radio, kalau berdasarkan data lembaga riset internasional Nielsen, ada 32 juta di kota-kota besar. Di Jakarta sendiri, ada 17 juta. Dengan rerata per harinya 24 menit. Tapi radio expenditure (kue iklan radio) makin menurun. Kami berharap dengan masuk ke platform streaming bisa memperoleh data yang bisa diolah dan disuguhkan ke calon pengiklan. Ukurannya jelas,” kata Rafi dalam konferensi pers penandatangan kerja sama PRSSNI dan Noice, di Kembang Goela, Jakarta, Selasa, (18/10).

 

Nantinya, dengan masuk ke platform streaming PRSSNI juga berharap bisa memproduksi konten-konten on demand, bukan saja siaran langsung. Sementara, untuk urusan royalti lagu yang diputar dalam siaran streaming, Rafiq menilai hal tersebut harus sudah terselesaikan ketika mereka membayar royalti ke pemilik hak lagu saat lagu tersebut juga diputar di siaran konvensional.

 

Penyiar radio Kemal Mochtar berharap masuknya siaran radio di platform streaming audio, bisa menambah pendengar dari berbagai daerah. Selain itu, hal ini juga bisa membuka kesempatan yang sama bagi para penyiar baik yang berbasis di Jakarta maupun penyiar radio daerah.

 

Co-founder dan CBO Noice Niken Sasmaya mengatakan, kerja sama ini sudah cukup lama menjadi proyeksi mereka. Namun baru bisa terlaksana tahun ini. Ia menilai radio memiliki potensi besar bagi platform streaming audio.

 

“Nantinya radio-radio swasta juga bisa memanfaatkan teknologi kami untuk bisa mengakses insight dan data untuk menumbuhkan bisnis. Selain itu, monetisasi yang bisa dicapai bukan saja dari iklan. Akan terbuka peluang kerja sama untuk monetisasi, dan juga bisa memanfaatkan fitur kami, seperti virtual gift yang belakangan digemari anak-anak muda,” kata Niken.

 

Rafiq juga berharap Noice bisa memberikan lokakarya bagi para radio swasta daerah dalam memproduksi konten audio yang sesuai dengan konteks saat ini dan audiens digital. “Noice juga harus sering bikin workshop untuk anggota kami yang sudah bergabung di platformnya. Mungkin radio besar gampang ikuti transformasi. Tapi dengan radio swasta di daerah, ini perlu diberikan workshop agar konten-konten audionya juga bagus,” pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT