01 October 2022, 07:45 WIB

Misogini dalam Film Horor Indonesia


Pro/M-2 |

FILM horor menjadi salah satu genre film yang paling digemari di Indonesia. Sejak kebangkitan industri film Indonesia sekitar dua dekade terakhir, berbagai judul film horor tidak pernah absen mengisi daftar putar di bioskop-bioskop Tanah Air.

Meski punya beragam cerita, ada satu hal yang menonjol dalam film horor kita. Sosok pelaksana teror didominasi (hantu) perempuan. Baik yang sudah melegenda seperti kuntilanak, sundel bolong, maupun sosok-sosok mistis baru yang sengaja diciptakan dalam sebuah film. Salah satunya sosok ‘Ibu’ yang muncul dalam dua film Pengabdi Setan (2017 & 2022) karya sutradara Joko Anwar.

Film horor dan relasinya dengan pemilihan hantu perempuan, khususnya lewat sosok seorang ibu, menjadi pembahasan utama dalam buku berjudul Memaksa Ibu Jadi Hantu karya Annisa Winda dan Justito Adiprasetio. Keduanya melakukan studi untuk secara spesifik membedah isu maternal horor atau penghadiran sosok perempuan, tepatnya seorang ibu, sebagai hantu atau sosok pencetus kengerian dalam sebuah film horor.

Buku yang diterbitkan penerbit Cantrik Pustaka itu awalnya merupakan tesis Annisa saat menempuh studi kajian budaya dan media di Universitas Gadjah Mada (UGM). Melihat masih minimnya kajian mengenai film horor, khususnya yang berkaitan dengan maternal horor, ia kemudian memperkaya tulisannya dengan berbagai data dan kajian yang lebih mendetail hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah buku.

Dua film horor karya Joko Anwar, Pengabdi Setan (2017) dan Perempuan Tanah Jahanam (2019), merupakan objek utama yang dipilih penulis untuk merampungkan studinya tentang maternal horor dalam buku itu. Dua film tersebut dipilih karena dinilai sama-sama memiliki muatan maternal horor yang dominan. Selain itu, kehadiran dua film tersebut dinilai sebagai titik balik industri film horor di dalam negeri.

Pengabdi Setan (2017) menjadi film horor Indonesia terlaris di 2017 dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 4 juta orang. Film tersebut juga berhasil meraih penghargaan di berbagai kategori Piala Citra. Sementara itu, Perempuan Tanah Jahanam (2019) juga tak kalah cemerlang dengan menjadi film horor pertama yang meraih Piala Citra untuk film terbaik di 2020.

“Kesuksesan Pengabdi Setan (2017) menunjukkan genre maternal horor memiliki pasar yang besar dan tetap populer pada situasi saat ini. Tidak hanya sekali Joko Anwar menggunakan formula maternal horor dalam film garapannya. Walaupun memiliki karakter horor serta elemen multimodal yang berbeda, film Perempuan Tanah Jahanam (2019) juga memosisikan fungsi maternal dan reproduksi perempuan sebagai bagian dari mata rantai di mana ketakutan berpangkal.” (Halaman 33)

Dalam lima bab buku ini, penulis membedah berbagai aspek di dua film tersebut guna memperkuat argumentasinya tentang maternal horor di dalamnya, dari premis cerita, adegan, dialog, hingga aspek pendukung lainnya seperti pengambilan gambar dan musik. Beberapa gambar yang diambil dari adegan dalam film juga disertakan untuk melengkapi dan mempermudah deskripsi yang dihadirkan.

Lewat kajiannya, penulis menilai dua film Joko Anwar tersebut sangat lekat dan dapat menjadi contoh konkret masih lekatnya nilai-nilai misoginis dalam film horor Indonesia. Stigma tentang seorang ibu yang dianggap tak ideal karena tak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di kultur masyarakat patriarkis Indonesia secara umum juga masih muncul dari berbagai film horor di dalam negeri.

“Kedua film ini memang menyajikan berbagai macam formula baru di dalamnya, misalnya, dari segi sinematografi sehingga keduanya menjadi film horor yang paling diminati dengan jumlah penonton terbanyak dan berhasil menang di berbagai festival film internasional. Namun, di saat yang bersamaan, kedua film ini justru masih menawarkan formula maternal horor yang selama bertahun-tahun menjadi karakterisasi film horor Indonesia dan menginternalisasi misoginisme akan perempuan.” (Halaman 230)

Sebagai landasan dan untuk memperkaya tulisannya, kedua penulis mencoba menggali lebih dalam mengenai unsur-unsur yang memengaruhi lahirnya film horor sebagai bagian dari budaya populer di Indonesia. Dari pengumpulan data yang dua penulis lakukan selama proses studi untuk buku ini, diketahui bahwa film horor Indonesia mengalami masa kejayaannya dalam dua dekade terakhir. Namun, film dengan genre horor sudah mulai bermunculan sejak tahun 1970-an.

Penulis membagi film horor Indonesia dalam tiga kelompok waktu, era 1970-1999, 2000-2009, dan 2009-2020. Para periode waktu pertama, terdapat sebanyak 164 film horor yang dirilis, pada periode waktu kedua setidaknya ada 104 film horor yang diproduksi, dan pada periode waktu terakhir terdapat sebanyak 313 film horor.

“Jumlah film horor Indonesia yang diproduksi dari ketiga periode tersebut, yakni 1970-2020, adalah 580 film horor. Sebanyak 60,52% atau 351 film horor di Indonesia menghadirkan sosok perempuan sebagai hantu, 24,14% atau 140 film horor di Indonesia menghadirkan sosok laki-laki sebagai hantu, dan terakhir 15,34% atau 89 film horor di Indonesia menghadirkan sosok perempuan dan laki-laki sebagai hantu." (Halaman 108).

Dengan deskripsi dan pendalaman dari dua film karya Joko Anwar, pembaca tak akan kesulitan memahami dan ikut menemukan aspek-aspek termasuk dalam lingkup maternal horor yang dimaksud kedua penulis. Meski hanya singkat atau sekilas, contoh kehadiran maternal horor dalam film horor lokal lain juga ikut disinggung pada beberapa bagian buku.

Meski hanya mengambil objek utama dari satu orang sutradara, buku itu menjadi sebuah referensi baru yang kehadirannya menjadi penting untuk melengkapi berbagai studi tentang film di Indonesia, khususnya dalam genre film horor kontemporer yang masih sangat minim literaturnya.

___________________________________________________________________________________

 

Judul: Memaksa Ibu Jadi Hantu

Penulis: Annisa Winda & Justito Adiprasetio

Penerbit: Cantrik Pustaka

Tahun: Cetakan pertama Agustus 2022

ISBN: 978-623-6063-72-9

 

 

BERITA TERKAIT