15 August 2022, 21:35 WIB

Empat Seniman dan Satu Gubernur BI Jadi Poros Seri Monolog Di Tepi Sejarah


Fathurrozak |

Setelah sukses dengan musim pertamanya, serial monolog Di Tepi Sejarah produksi Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media kembali hadir dengan musim keduanya.

Pada musim kedua, Di Tepi Sejarah membawa lima cerita dari para pelaku sejarah Indonesia yang kisahnya belum banyak diketahui publik luas. Dari lima tokoh itu, keempatnya adalah para seniman.

Sebelumnya, limavmonolog Di Tepi Sejarah musim kedua telah dipentaskan secara terbatas dan pada bulan kemerdekaan Indonesia ini, akan ditayangkan versi pentas virtualnya.

Kisah dari Sjafruddin Prawiranegara, yang merupakan Gubernur Bank Indonesia pertama dan Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) akan membuka seri monolog yang tayang di kanal Youtube Budaya Saya dan jaringan Indonesia.TV pada 17 Agustus. Monolog tentang Sjafruddin yang berjudul Kacamata Sjafruddin diperankan oleh Deva Mahenra, dengan sutradara Yudi Ahmad Tajudin dan naskahnya oleh Ahda Imran. 

Selanjutnya, Di Tepi Sejarah musim kedua akan menyuguhkan kisah dari fotografer Kassian Cephas, yang hidup dalam asuhan misionaris Belanda Christina Petronella Philips. Kisah Cephas akan tayang dalam lakon Mata Kamera pada 18 Agustus, dengan sutradara, penulis, dan pemeran M.N Qomaruddin dari Teater Garasi. Menurut penuturan Qomar, sebelumnya lakon ini ingin dibawakan oleh seniornya, almarhum Gunawan Maryanto.

Pada 24 Agustus, juga akan tayang monolog Panggil Aku Gombloh yang diperankan aktor pantomim Wanggi Hoed. Lakon ini disutradarai Joind Bayuwinanda, yang juga merupakan langganan Teater Koma, dengan naskah ditulis oleh Guruh DImas Nugraha dan Agus Noor.

Kisah seniman lain yang juga diangkat di musim kedua ini adalah sosok maestro Ismail Marzuki dalam lakon Senandung di Ujung Revolusi. Diperankan Lukman Sardi dan penampilan khusus sang anak, Akiva Sardi, lakon ini disutradarai Agus Noor, dan naskahnya ditulis Agus bersama Putu Arcana. Senandung di Ujung Revolusi akan tayang di kanal Youtube Budaya Saya dan jaringan Indonesiana.Tv pada 25 Agustus.

Sosok seniman terakhir yang kisahnya diangkat adalah perempuan pelukis Emiria Soenassa dalam lakon Yang Tertinggal di Jakarta. Monolog yang diperankan penyanyi Dira Sugandi dengan sutradara Sri Qadariatin dan penulis naskah Felix K. Nessi. Kisah Emiria akan tayang pada akhir bulan, pada 31 Agustus.

Produser Di Tepi Sejarah, Happy Salma, mengatakan penentuan tokoh-tokoh yang diangkat dalam seri monolog musim kedua memang berpusat pada tokoh-tokoh seniman. Hanya Sjafruddin yang bukan. 

“Pada musim kedua ini, ada kesempatan membuat seri monolog lagi. Karena antusias yang besar. Dan pada musim kedua ini, kami bukan saja menampilkan kisah-kisah orang-orang yang ada di tepi sejarah, tetapi juga ingin membangun lokakarya bagi teman-teman yang ada di ekosistem seni. Termasuk mengajak bebragai kelompok teater. Di Tepi Sejarah menjadi ruang belajar kami bukan saja untuk mengenalkan sosok yang punya kontribusi besar tapi tidak disebut dalam dinamika bangsa, tetapi juga menjadi ruang diskusi. Saya senang di proses kali ini bisa menjadi semacam workshop bagi lintas profesi juga,” kata Happy dalam konferensi pers di Creative Hall M Bloc, Jakarta Selatan, Senin, (15/8).

Ko-produser Di Tepi Sejarah Yulia Evina Bhara menambahkan, musim kedua seri monolog ini menjadi upaya untuk melanjutkan napas dalam mengabarkan tentang tokoh-tokoh yang belum banyak dikenal dan dibicarakan oleh publik luas. (M-2) 

BERITA TERKAIT