10 August 2022, 08:02 WIB

Studi Ungkap Dampak Lingkungan dari 57.000 Produk yang Dijual di Supermarket


Devi Harahap |

Mengonsumsi buah dan sayuran dapat memberikan dampak nyata terhadap kesehatan dan juga lingkungan. Selain itu, pola makan yang berkelanjutan seperti mengurangi konsumsi daging merah dan protein hewani, bisa mengurangi jejak karbon dan pencemaran lingkungan.

Akan tetapi, sebuah studi baru yang baru saja dirilis oleh para ilmuwan menunjukkan bahwa makanan seperti keripik dan minuman manis juga memiliki dampak lingkungan yang sangat rendah, seperti dikutip dari France24 pada Selasa (9/8).

Dalam sebuah penelitian besar yang diterbitkan oleh jurnal ilmiah PNAS, para ilmuwan menganalisis sekitar 57.000 produk yang dijual di supermarket di Inggris dan Irlandia.

Dengan adanya penelitian tersebut, para peneliti berharap konsumen bisa menerapkan sistem belanja yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan tanpa mengorbankan kesehatan mereka. Penelitian ini juga bertujuan ingin membandingkan sistem keberlanjutan dengan kualitas nutrisi produk.

Para ilmuwan menemukan fakta bahwa konsentrat dari olahan minuman jus atau sirup buah adalah salah satu produk penjualan dengan memiliki dampak lingkungan paling rendah, pasalnya sebagian besar terdiri dari air alami. Sayangnya produk tersebut memiliki kualitas nutrisi yang buruk.

Secara umum, para peneliti percaya bahwa semakin berkelanjutan suatu makanan maka semakin baik kandungan nilai gizi atau nutrisinya. Studi ini mengonfirmasi dan memperbaharui data penelitian sebelumnya, yakni dengan cara menganalisis bahan tunggal, seperti buah-buahan atau daging merah.

Kebaruan dari laporan tersebut terletak pada analisisnya yang berkaitan dengan produk kemasan terdiri dari beberapa bahan, seperti saus, makanan siap saji, dan lainnya.

Akan tetapi, penelitian itu diperumit oleh fakta bahwa jumlah setiap bahan atau komposisi yang terdapat dalam sebuah prodyk dianggap sebagai rahasia dagang, oleh karena itu tidak ada rincian angka secara nyata yang diungkapkan. Dari 57.000 produk yang dijual oleh delapan pengecer makanan, hanya sekitar tiga persen yang komposisinya secara penuh diungkapkan.

Para ilmuwan merespons hal tersebut dengan mengembangkan sistem algoritme berdasarkan beberapa informasi yang diketahui untuk mengevaluasi komposisi produk yang hilang di Inggris dan Irlandia. Bahan-bahan dicantumkan dalam urutan jumlah yang digunakan.

Untuk menilai dampak lingkungan, empat faktor dipertimbangkan: emisi gas rumah kaca, penggunaan sumber daya air yang terbatas, penggunaan lahan, dan eutrofikasi, yaitu ketika saluran air diperkaya dengan mineral dan nutrisi yang sebagian besar berasal dari pupuk.

Hasilnya mengungkapkan bahwa roti dan jenis makanan sereal tertentu, hingga makanan siap saji atau makanan penutup, memiliki dampak lingkungan yang relatif rendah atau sedang. Di sisi lain, ikan, keju dan daging, terutama daging merah memiliki dampak pencemaran lingkungan yang tinggi.

"Mengganti daging, susu, dan telur dengan alternatif nabati dapat memiliki manfaat lingkungan dan kesehatan yang besar," tulis peneliti dalam studi tersebut.

Tetapi aktivitas transisi "lebih kecil" juga dapat membantu menurunkan dampak lingkungan. Misalnya lasagna daging sapi, dengan dampak lingkungan yang tinggi, dapat diganti dengan jenis toping yang berbeda seperti lasagna ayam atau babi, atau vegetarian.

Para peneliti mengatakan, dengan mengetahui jumlah proporsi kandungan gizi dan asal bahan makanan, akan membantu manusia dalam menentukan dampak konsumsi makanan terhadap keberlanjutan lingkungan di masa depan.  

 

BERITA TERKAIT