07 August 2022, 05:20 WIB

Muhammad Aripin: Sahabat Kaum Marjinal Borneo


DEVI HARAHAP |


DALAM Kick Andy on Location yang tayang malam ini di Metro TV, Andy F Noya mengajak para pemirsa melihat dari dekat kiprah Muhammad Aripin, Pendiri Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar di Banjarmasin, berada di Kalimantan Selatan. Lewat yayasan itu Aripin berupaya memberdayakan masyarakat marginal di lingkungan sekitarnya.

Yayasan yang berdiri sejak 2015 itu memproduksi olahan kerajinan tangan dari kain sasirangan, anyaman dari tanaman purun, dan berbagai jenis produk tekstil. Bukan hanya ibu-ibu rumah tangga prasejahtera, anak-anak panti asuhan, lansia, dan penyandang disabilitas, Aripin juga merangkul para mantan narapidana untuk ikut
dalam usaha itu.

Berbicara kepada Andy, Aripin mengaku bahwa ia pun sempat menjadi pengamen berkostum cosplay. “Dulu kami ngamen di Alun-alun Kota Banjarmasin pakai kostum cosplay horor. Saya dan anak-anak jalanan pakai kostum pocong dan kuntilanak untuk ngamen di sana. Di situlah kami mencari modal dan memulai kegiatan produksi handycraft dari produk daur ulang. Kami pernah dikejar Satpol PP sampai ditegur pimpinan daerah beberapa kali karena melihat kami mengamen di jalanan,” tukas
Aripin dalam tayangan episode Lentera dari Tanah Borneo itu.

Bersama temannya yang merupakan mantan guru, pria lulusan S1- Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Malang itu, kemudian memiliki ide untuk membuat kegiatan sosial berbasis produksi kerajinan tangan. Seiring waktu berjalan, kegiatannya mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada 2016, atas saran komunitas dan dukungan CSR perusahaan, ia pun membuat kegiatannya menjadi yayasan berbadan hukum.

Diusir


Pada awalnya, Aripin menggunakan rumah peninggalan ibunya untuk tempat kegiatannya. Namun, lantaran banyaknya orang yang datang belajar dan dari berbagai kalangan, kegiatannya dianggap meresahkan oleh warga sekitar.

“Karena rame berdatangan orang mau belajar dengan berbagai orang bertato, rambutnya kuning dan sebagainya, ditambah rumah produksi berada di dalam gang jadi parkir kurang mumpuni, akhirnya kami diusir dari situ. Kami dianggap mengganggu dan meresahkan. Padahal, itu rumah saya sendiri,” ungkap Aripin.

Ia kemudian meminta bantuan pemda dan direkomendasikan menempati bangunan kosong bekas puskesmas. Aripin mengungkapkan ia dijanjikan akan mendapat penggantian biaya listrik dan air bulanan selama mau merawat bangunan yang sudah kosong satu dekade itu. Kenyataannya, sampai satu setengah tahun berjalan, Aripin tidak juga mendapat penggantian biaya listrik dan air hingga ia pun memilih mencari tempat yang lebih terjangkau.

Di sisi lain, berkali-kali berpindah kontrakan juga kurang kondusif bagi kegiatan itu hingga Aripin beranikan mengangsur rumah bersubsidi. Rumah bertipe 36 meter persegi itu hingga kini dijadikan kantor yayasan sementara produksi dilakukan di rumah kelompok-kelompok yang mereka koordinasi.

Meskipun berbagai rintangan dihadapinya, Aripin mengaku tidak pernah surut semangat untuk melanjutkan kegiatannya. Bahkan ia pun rela mundur dari profesi guru demi berkonsentrasi melatih para kaum marginal.

“Mereka itu tetap harus mandiri, tetapi mereka belum memiliki bekal. Itu yang kami beri fasilitas dan pelatihan dengan mempelajari berbagai kemampuan tanpa pungutan berbayar karena semua orang berkesempatan sama untuk bekerja dengan layak bahkan menjadi pelaku usaha,” ujarnya.

Kini produk kerajinan produksi yayasan itu pun kian beragam. Mereka juga telah mampu memperoduksi baju, tas, dan beragam suvenir serta banyak pula yang
menggunakan motif dengan bahan ramah lingkungan. “Produk kami itu sasirangan, ada yang ecoprint, pecahannya ada bentuk tas, baju, suvenir, dan macam-macam
sesuai permintaan customer. Pelanggan bisa custom sesuai permintaan. Mereknya rumah kreatif dan pintar,” ungkapnya.

Sementara untuk para mantan narapidana, pelatihan yang dominan adalah servis motor dan membuat teralis. Ada pula yang ia berikan modal untuk membuat usaha. Aripin mengungkapkan bahwa para mantan narapidana itu juga mendapat bimbingan dari psikolog untuk menggali minat dan bakat.

Hingga saat ini sudah ada lebih dari 2.000 anggota yang pernah gabung dan lulus menjadi mandiri dari Rumah Kreatif dan Pintar. Sementara 50 orang lainnya masih
bekerja di yayasan tersebut.

Untuk penjualan, selain memanfaatkan pemasaran digital, Rumah Kreatif dan Pintar juga bermitra dengan beberapa lembaga dan instansi di Sarinah, Jakarta. Dengan begitu, omzet mereka meningkat hingga 300%. Berbagai produknya dipasarkan dengan beragam harga mulai Rp35.000-an, ratusan ribu, hingga yang termahal berkisar di angka Rp1,5 jutaan. (M-1)

BERITA TERKAIT