07 August 2022, 05:30 WIB

Ritual Seblang Olehsari


NOVI ANOEGRAJEKTI |

MASYARAKAT Using Banyuwangi mengidentifikasikan diri sebagai penduduk asli yang mewarisi tradisi para leluhur mereka. Hingga saat ini, beragam warisan budaya, ritual, arsitektur, pakaian, motif batik, seni tradisi, kuliner, dan bahasa masih terus dipertahankan. Setiap tahun, di Banyuwangi berlangsung beragam ritual berbasis budaya rural agraris, budaya bahari, maupun hari besar keagamaan.

Beberapa warisan budaya, khususnya ritual yang masih terus dihidupi ialah Barong (tari) Ider Bumi Kemiren, putar kayun boyolangu, gelar pitu dusun kopen kidul, Seblang (tari) Olehsari, Seblang Bakungan, keboan aliyan, kebo-keboan alasmalang, dan ngarak kebo Desa Watukebo.

Kedelapan peristiwa budaya merupakan ritual bersih desa untuk mengekspresikan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah dan keselamatan yang dialami masyarakat. Bersih desa juga wujud harapan agar pada tahun yang akan datang masyarakat juga mendapatkan kelimpahan hasil bumi dan keselamatan.

Salah satu tradisi yang menampakkan gejala berbasis budaya rural agraris ialah Seblang Olehsari. Ciri budaya tersebut tampak dari ekspresi verbal (lirik tembang, sambutan, mantra) dan nonverbal (aksesori dan sesaji berupa hasil bumi, kuliner lokal, dan daging hewan piaraan). Secara umum keseluruhan ritual merupakan warisan yang terus dipertahankan sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap leluhur. Selain itu, ritual yang diselenggarakan setiap tahun tersebut berpotensi memupuk kohesivitas internal masyarakat pendukungnya.

Warisan budaya oleh masyarakat Using dihayati sebagai identitas yang merepresentasikan dan menguatkan keberadaan mereka. Oleh karena itu, intervensi dari luar memerlukan dialog dan kesepakatan bersama, termasuk intervensi dari negara yang direpresentasikan birokrat lokal Kabupaten Banyuwangi.

Seblang Olehsari merupakan ritual bersih desa untuk mengekspresikan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah dan keselamatan yang dialami masyarakat. Bersih desa juga sebagai harapan agar pada tahun yang akan datang masyarakat juga mendapatkan kelimpahan hasil bumi dan keselamatan.

 

Proses ritual 

Seblang Olehsari diselenggarakan pada Syawal, berlangsung tujuh hari, antara pukul 13.00 dan pukul 17.00 WIB. Kegiatan rutin selama tujuh hari untuk menyiapkan ritual seblang ialah menyiapkan sesaji, omprok (mahkota seblang), merias penari seblang, perarakan menuju arena seblang, merangkai bunga, dan pelaksanaan ritual. Sesampai di arena seblang, pawang merapalkan mantra sambil mengasapi penari seblang dengan dupa. Pada saat yang sama penari seblang memegang tempeh yang terbuat dari bambu. Bila sudah mengalami trance, tempeh akan lepas dari tangannya dan pergelaran ritual pun dimulai dengan lantunan tembang Seblang Lakento.

Penari ritual itu ialah remaja perempuan keturunan penari seblang yang penunjukannya dilakukan masyarakat Olehsari melalui proses kejiman, yaitu mengalami trance dan kemudian melakukan dialog dengan pawang seblang. Melalui dialog tersebut terjadi kesepakatan mengenai penari seblang dan hari dan tanggal mulai penyelenggaraannya. Penyelenggaraan ritual Seblang Olehsari memiliki dua latar cerita.

Pertama, itu mengisahkan Mak Midah yang anaknya sakit tidak kunjung sembuh lalu bernadar bila sembuh dijadikan penari seblang. Oleh karena itu, setelah sembuh, anaknya dijadikan penari seblang. Kedua, Sayu Wiwit, pejuang Using yang dikejar pasukan musuh dengan kesaktiannya mengelabui musuh dengan menjelma menjadi penari seblang. Selanjutnya sesampai di sumber air Olehsari, ia moksa. Kisah menghilangnya Sayu Wiwit menjadi legenda nama sumber air Sukma Ilang yang berarti ‘jiwa menghilang’.

Penari Seblang Olehsari yang mengalami trance secara gaib merasa melakukan perjalanan bersama para arwah yang mengajaknya. Hal itu disampaikan Sri Wahyuni dan Susi Susanti, kakak beradik yang sama-sama pernah menjadi penari seblang.

 

Ider bumi 

Ider bumi ialah perjalanan penari seblang mengelilingi Dusun Olehsari. Ritual ider bumi berlangsung pada pergelaran ritual seblang hari ke-7. Rute perjalanan mengelilingi Dusun Olehsari. Pada penyelenggaraan 2022, terdapat sembilan perhentian. Perhentian pertama di batas bawah Desa Olehsari di depan stasiun pompa bensin, kedua makam Buyut Ketut di seberang Desa Olehsari, ketiga sampai ketujuh di dalam Desa Olehsari, kedelapan di batas atas Desa Olehsari, dan kesembilan di Balai Desa Olehsari.

Di Balai Desa, penari seblang disambut beberapa perangkat desa yang kemudian menari bersama. Hal tersebut mengekspresikan penyambutan perangkat desa terhadap leluhur yang merasuki. Selanjutnya rombongan kembali ke arena seblang dan melanjutkan adegan selanjutnya, sampai selesai. Salah satu tempat perhentian di Desa Olehsari ialah sumber air Sukma Ilang yang dipercaya masyarakat sebagai tempat moksanya Sayu Wiwit.

 

Nglungsur

Nglungsur dilakukan pada hari ke-8, setelah selesai penyelenggaraan ritual seblang. Nglungsur ialah ritual mencuci pakaian atau kostum yang dikenakan penari selama tujuh hari. Rangkaian kegiatan nglungsur dimulai pagi hari memasak untuk selamatan yang dihadiri penari dan pendukung ritual, yaitu sinden, panjak, pengudang, perias, dan pawang.

Kegiatan selanjutnya menyiapkan arena dan air untuk upacara siraman dengan menggunakan ember berisi pakaian penari seblang dan aksesori daun dan bunga yang masih utuh dan segar. Sementara itu, petugas lain menghitung uang bokor, yaitu uang yang dikumpulkan dengan menggunakan bokor selama tujuh hari penyelenggaraan ritual.

Ritual nglungsur diakhiri dengan para peraga duduk berjajar di bangku panjang, kepala dilindungi kain memanjang. Selanjutnya, pawang merapalkan mantra dan doa lalu menyiramkan air di atas kepala sampai merata. Air yang tersisa diperebutkan warga yang hadir. Masyarakat memanfaatkan air tersebut untuk menolak bala, mendatangkan keberuntungan, dan mendapatkan keselamatan. Bentangan kain menutup menandai mereka dalam kebersamaan dan keutuhan warga. Berkat kebersamaan, keikhlasan, serta dukungan seluruh warga masyarakat Olehsari.

Putri, salah seorang anggota panitia yang tidak mau mengikuti siraman, mengalami trance. Oleh karena itu, diduga, ia yang akan ditunjuk sebagai penari seblang untuk 2023. Kebenaran dari gejala itu perlu ditunggu sampai pada waktu penyelenggaraan ritual Seblang Olehsari pada tahun tersebut.

Nglungsur secara simbolis sebagai ruang pembersihan. Para peraga yang sudah menunaikan tugas dibersihkan dan kembali melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan kewajiban masing-masing, seperti pedagang, seniman, petani, atau pegawai. Demikian juga roh yang hadir merasuki penari seblang juga kembali ke alam masing-masing dan ikut menjaga ketenteraman masyarakat yang masih mengembara di dunia agar dapat melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik.

 

Masa depan ritual seblang 

Maret 2020 menjadi titik henti beragam kegiatan budaya di Banyuwangi yang sudah dijadwalkan penyelenggaraannya pada kalender Banyuwangi Festival (B-Fes). Termasuk ritual Seblang Olehsari yang juga ditiadakan. Melalui dialog dengan roh leluhur yang hadir melalui warga yang kejiman terjadi negosiasi dan membuahkan kompromi. Ritual ditiadakan, tetapi tetap menyelenggarakan selamatan di arena seblang. Roh leluhur menempatkan sebagai penundaan.

Pada 2021 ada perubahan, pada mulanya pemerintah mengizinkan. Akan tetapi, malam sebelum hari H ada pembatalan dan tidak boleh diselenggarakan. Oleh karena itu, panitia adat memutuskan untuk menyelenggarakan selamatan, mengelilingkan omprok di arena seblang, dan pada hari yang sama langsung diselenggarakan ritual nglungsur yang hanya diikuti pengurus adat seblang. Pandemi covid-19 telah mengubah tatanan ritual Seblang Olehsari. Masyarakat adat, roh leluhur, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyepakati cara yang sejalan dengan protokol kesehatan.

Pelaku ritual melaksanakan tugas atas panggilan adat. Ia memenuhi tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat adat yang mewarisi tradisi ritual. Oleh karena itu, pelaku ritual tidak berkembang menjadi profesi. Kewajiban adat merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat adat. Sudah semestinya masyarakat adat memberikan perhatian kepada pelaku ritual. Perhatian kepada pelaku adat tersebut hingga saat ini menjadi wacana yang belum direalisasi secara terstruktur. Akan tetapi, perhatian terhadap pelaku ritual sudah mulai tampak melalui peningkatan fasilitas dan penghargaan dari pemerintah berupa sertifikat. Pemberian sertifikat tersebut menjadi salah satu pengukuhan dan pengakuan pemerintah terhadap prestasi dan jasa pelaku ritual terhadap pengembangan budaya Banyuwangi.

Sebagai antisipasi terhadap melonjaknya jumlah tamu yang hadir, pemerintah mengembangkan dan memperbaiki infrastruktur, mulai hotel berbintang, jalan menuju lokasi ritual, hingga transportasi.

Selanjutnya SKPD terkait menyiapkan masyarakat, seperti Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan UMKM, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menyiapkan masyarakat agar berbagai kegiatan budaya yang masih dihidupi masyarakat pendukung mereka mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukung mereka. Hadirnya tamu dalam jumlah besar menjadi ruang sosialisasi, promosi, dan pemasaran produk kreatif UMKM lokal.

Tantangan selanjutnya dalam mempertahankan ritual seblang yang berbasis budaya agraris ialah pewarisan pekerjaan dan pemertahanan lokasi persawahan dan ladang sebagai sumber mata pencaharian. Dua problem tersisa untuk diselesaikan, yaitu semakin bertambahnya alih lahan pertanian untuk perumahan dan bangunan usaha serta menurunnya minat generasi muda berkecimpung dalam bidang pertanian. Oleh karena itu, munculnya anak-anak muda yang mengembangkan pengelolaan kopi rakyat menjadi salah satu alternatif yang terus dipupuk dan dikembangkan melalui penyelenggaraan klinik pelatihan keterampilan pengolahan kopi bubuk dan tradisi ngopi bareng di kedai-kedai kopi. (M-4)

 

TENTANG PENULIS

Novi Anoegrajekti, Guru Besar Ilmu Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Jakarta, pecinta seni tradisi dan ritual. Saat ini aktif sebagai pengurus di Bidang Humas, Publikasi, dan Dokumentasi Asosiasi Tradisi Lisan periode 2022-2026.

BERITA TERKAIT