06 August 2022, 14:20 WIB

Orang Palestina Berupaya Ciptakan Tren Kuliner Baru


Devi Harahap |

DARI lorong-lorong kuno Kota Tua Yerusalem hingga dapur di seluruh dunia, warga Palestina menggerakkan tren baru dalam memasak dengan mempertahankan nilai-nilai tradisi. Tren tersebut telah membangkitkan selera masyarakat lokal dan memperkaya buku-buku resep kuliner dan wisata dalam negeri.

 

“Saya pikir sistem kuliner kami sudah berubah menjadi lebih baik. Kini banyak orang Palestina tertarik untuk mempromosikan makanan lokal mereka,” kata Nassar Odeh, saat aroma oven tercium di wilayah jalan Yerusalem, seperti dikutip dari France24, Kamis (4/8).

 

Nassar Odeh adalah pengusaha kuliner Palestina yang telah mengamati antusiasme warga Yerussalem mengunjungi restoran barunya bernama Taboon, yang terinspirasi dari sebuah nama oven berbahan tanah liat tradisional.

 

Pelanggan yang datang biasanya memesan hidangan menu seperti lahmajoon Armenia, pizza tipis dengan daging giling dan makanan dengan rempah-rempah. Beberapa dekade lalu makanan tersebut dibuat dan dibagikan kepada masyarakat Palestina yang mengalami kelaparan.

 

"Hidangan Armenia adalah bagian dari budaya Palestina," kata Odeh, pemilik restoran Taboon di Tepi Barat Palestina yang kini telah diduduki Israel. "Ini sangat penting diperhatikan untuk membangkitkan  kuliner lokaal yang akan berdampak pada perkembangan kewirausahaan di Palestina. Kita harus bangga dengan produk kita," jelasnya. Dibuka tahun lalu di tempat yang dulunya toko suvenir keluarga, Taboon adalah merupakan sebuah restoran baru di Palestina yang dilengkapi bar dan kafe.

 

Ide Baru, Konsep Baru

Di luar tembok Kota Tua Yerussalem, warga Palestina berbondong-bodong membuka usaha kuliner. Salah satu wilayah yang banyak ditumbuhi restoran baru adalah Yerusalem timur, meskipun sebagian besar wilayahnya telah dianeksasi Israel, meliputi lingkungan Sheikh Jarrah, atau lebih jauh lagi di Ramallah bagian Tepi Barat Palestina.

 

Pengamat kuliner Yerusalem dan pengajaran tata boga, Izzeldin Bukhari menjelaskan bahwa beberapa restoran baru tersebut menawarkan pengalaman bersantap mewah hingga menu fusion. Para penggiat kuliner mulai menciptakan menu trend baru dengan memadukan bahan-bahan makanan Palestina dengan hidangan Eropa.

 

"Kabar ini menjadi awal yang bagus, kami benar-benar baru memulai," kata Bukhari, yang berencana menawarkan layanan konsultasi kepada pemilik bisnis yang ingin merevitalisasi restoran mereka. "Semua orang melakukan hal yang sama, tetapi akhir-akhir ini saya melihat orang-orang yang mulai berbisnis di bidang kuliner mulai mengusung konsep dan ide-ide baru," tambahnya.

 

Menampilkan berbagai hidangan dan produk Palestina tetap menjadi pusat perhatian Dalia Dabdoub, yang mengelola Taboon dan memiliki bar di kota Betlehem dan Jericho di Tepi Barat. "Kami ingin mengubah industri kuliner dan memproduksi lebih banyak makanan," katanya.

 

Berbagai terong yang terkenal secara lokal yang berasal dari Battir, sebuah desa di daerah Betlehem, akan segera menjadi menu Taboon, sementara beberapa produk diimpor dari Gaza.

 

Koki Palestina, Sami Tamimi kerap masakan jenis kuliner rumah, seperti makan siang kemasan sekolah, dengan memanfaatkan kembang kol penuh gizi, Sami menghias masakannya dengan tampilan yang cantik menggunakan yang tali pita. Makanan tradisional dan makanan kontemporer seperti itu kini dapat dikompilasi dalam buku sebuah buku resep masak 2020 koki: 'Falastin'.

 

"Namun, 10 tahun yang lalu, jika Anda pergi ke penerbit dan mengatakan saya ingin menerbitkan buku tentang makanan Palestina, mereka akan mengatakan 'Siapa yang akan membelinya?" kata Tamimi, yang pindah ke London lebih dari dua dekade lalu.

 

Minat masyarakat internasional yang meningkat pada makanan Palestina di luar negeri berhubungan erat dengan pergeseran penyajian masakan Mediterania atau Timur Tengah sebagai satu set resep.

 

"Saat ini banyak berbagai negara yang mengembangkan bisnis kuliner dengan menyajikan tren menu makanan lokal, mulai dari jenis makanan hingga restoran. Saya pikir itu hal yang luar biasa," kata Tamimi, yang memiliki serangkaian buku masak dan menjalankan restoran dengan mitra bisnis Israel Yotam Ottolenghi.

 

Bukhari mengatakan bahwa orang Israel telah terbukti lebih berhasil daripada orang Palestina dalam mempromosikan makanan lokal. Di Bandara Tel Aviv, Israel bahkan mengklaim menu falafel Palestina sebagai makanan khasnya.

 

Tetapi orang-orang Palestina mengejar ketertinggalan secara internasional, koki Fadi Kattan akan segera membuka restoran bernuansa London pada akhir tahun ini di wilayah Betlehem.

 

Tamimi sendiri akan kembali sebentar ke Yerusalem untuk bekerjasama dengan American Colony Hotel pada bulan Oktober mendatang. Ia akan menciptakan kreasi menu dengan mengembangkan makanan lokal setempat. "Ini adalah pertama kalinya saya bekerja dengan tim di Palestina," katanya. (M-1)

BERITA TERKAIT