16 July 2022, 14:42 WIB

Memaknai Sumpah Palapa Gajah Mada


Devi Harahap |

Perupa Sohieb Toyaroja menggelar pameran tunggal bertajuk “Kebo Iwa: Sukma Suci Nusantara” yang digelar di Gallery Kunstkring, Menteng Jakarta Pusat.

Sohieb mengatakan bahwa budaya Indonesia makin ditinggalkan, dengan pameran tunggal ini dirinya mengajak penikmat seni untuk menggali dan mengangkat kembali kebudayaan Indonesia yang adiluhung.

Lebih lanjut Sohieb menjelaskan arti dari tema yang dia tampilkan dalam pamerannya yang mengangkat dimensi spiritual tertinggi terwujudnya Sumpah Palapa Patih Gajah Mada. Shoieb mengatakan Kebo Iwa merupakan adalah seorang tokoh bersejarah asal Bali.
 
Alkisah, Maha Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa dengan misi suci penyatuan Nusantara. Saat itu Kerajaan Majapahit di bawah kendali Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Kerajaan Bedahulu (Bali) dengan Maha Patih Kebo Iwa, adalah salah satu yang harus ditaklukkan.

“Tanpa pengorbanan Kebo Iwa bisa jadi tidak ada Nusantara. Dengan kata lain, berkat pengorbanan Kebo Iwa maka lahir Nusantara, yang kemudian menjadi inspirasi pejuang kita mendirikan NKRI,” ujar pelukis ekspresif itu dalam acara pembukaan pameran, pada Kamis (14/7).

Prajurit Majapahit mencoba menaklukkan Kebo Iwa dalam beberapa kali kesempatan, baik dengan cara kesatria ataupun nista. Perang tanding Kebo Iwa dan Gajah Mada pun melewati batas siang dan malam, kedigdayaan keduanya membuat perang tersebut terus berlanjut.
 
"Di tengah napas yang terengah, bertanyalah Kebo Iwa kepada Gajah Mada, mengapa harus ada sengketa. Mengapa harus saling mencabut nyawa. Diwartakanlah ihwal Sumpah Palapa. Ihwal sumpahnya untuk menyatukan Nusantara. Hanya dengan merajut persatuan, antar-nusa akan tercipta Nusantara yang tenteram dan sentosa," jelasnya.
 

Kebo Iwa menerimanya sebagai sumpah mulia. Bahkan dia pun rela jika nyawa harus pisah dari raga. Kebo Iwa menunjukkan di mana letak pintu sukmanya. Patih Gajah Mada membunuh Kebo Iwa tidak dengan jumawa. Gajah Mada tahu, Kebo Iwa mati bukan karena kalah, tapi rela mati demi terwujudnya Sumpah Palapa.

"Sukma suci Kebo Iwa pun moksa ke swarga loka", sumpah Palapa Gajah Mada tersebut menjadi paripurna dengan pengorbanan Kebo Iwa. Nilai-nilai pengorbanan dan kepahlawanan Kebo Iwa mengusik “kreativitas-bati” pelukis Sohieb Toyaroja dan menjadikannya sebagai ide besar penciptaan karya," ungkapnya.

Menurut Sohieb, Pameran Lukisan “Kebo Iwa, Sukma Suci Nusantara” adalah upaya menguak sisi terdalam lahirnya Nusantara sebagai inspirasi kepada anak bangsa.

Sohieb mengatakan pameran Kebo Iwa ini dimaknai sebagai satu panggilan jiwa. Pengalamannya bermukim di Bali pada satu periode kehidupannya, membuat dia merasa dekat dengan sosok Maha Patih Kerajaan Bedahulu (Abad ke-8 sampai Abad ke-14).

“Bangsa ini harus mengingat peran besar Kebo Iwa dalam sejarah terwujudnya Nusantara, sebagai cikal-bakal NKRI,” ujarnya.

Sohieb Toyaroja juga melemparkan gagasan mengenai pembangunan Museum Kebo Iwa di Bali sebagai salah satu wadah pembelajaran bagi masyarakat Indonesia.

“Saya akan menyampaikan gagasan tersebut. Semoga melalui pameran ini, jalan menuju pembangunan Museum Kebo Iwa bisa terwujud,” katanya.

Tema sejarah

Seniman kelahiran Kediri tahun 1968 itu dikenal sebagai pelukis dengan ciri khas sapuan palet yang ekspresif. Dia banyak menggelar pameran tunggal dengan tema-tema sejarah kearifan lokal Indonesia dan mengangkat nilai-niali spiritual.

Tahun 2016 misalnya, dia menggelar pameran tunggal “Spitirual Journey” di Kunstkring. Setahun berikutnya, 2017, pameran fenomenal digelar memperingati 72 tahun kemerdekaan Indonesia. Pameran itu diberinya tajuk “72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI” di Epiwalk Epicentrum, Kuningan – Jakarta.

Tahun 2021, dia bahkan dinobatkan banyak kalangan sebagai “pelukis Semar”, berkat pameran tunggalnya “Semar Ngruwat Jagad”, di Kunstkring Galleri dan Jogja Gallery. Di luar itu semua, dia juga mengelola Bellevue Art Space, di Cinere, Kota Depok.

Pameran  “Kebo Iwa: Sukma Suci Nusantara” dapat diapresiasi oleh masyarakat umum mulai 14 Juli hingga 28 Juli 2022. Pameran ini juga dapat dijadikan sarana belajar bagi publik terhadap sejarah warisan budaya Indonesia agar dipahami dan dilestarikan oleh generasi penerus bangsa.(M-4)

BERITA TERKAIT