07 July 2022, 07:15 WIB

Keterampilan yang Perlu Dibangun untuk Menguatkan Mental Anak


Devi Harahap |

Peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir mulai dari pandemi covid-19 hingga kekerasan terhadap anak dapat meresahkan dan berdampak bagi anak-anak. Apabila tidak adanya penanganan yang tepat, keputusasaan dapat muncul dan kesejahteraan anak-anak secara keseluruhan juga bisa menurun.

Oleh karena itu, anak-anak perlu diberikan pendidikan dan keterampilan agar mereka tidak mudah menyerah di masa-masa sulit.

Seorang psikolog edukasi dan pakar pengasuhan anak, Michele Borba, EdD, mengatakan "Harapan adalah yang memberi anak-anak energi untuk tetap kuat secara mental selama masa-masa sulit, dan itulah yang membedakan mereka dari orang-orang yang mudah menyerah."

Anak-anak yang kuat secara mental memahami nilai harapan.
 
Penelitian menunjukkan harapan dapat secara dramatis mengurangi kecemasan dan depresi masa kanak-kanak.  Anak-anak yang penuh harapan memiliki rasa kontrol batin.  Mereka memandang tantangan dan rintangan sebagai hal sementara dan dapat diatasi, sehingga mereka lebih mungkin untuk berkembang dan membantu orang lain.

Namun terlepas dari kekuatannya yang luar biasa, harapan sebagian besar dikecualikan dari agenda pengasuhan anak.  Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kekuatan ini adalah dengan membekali anak-anak dengan keterampilan untuk menangani gundukan hidup yang tak terhindarkan.

Melansir dari situs CNBC Make It, Senin (4/7), berikut beberapa cara yang didukung sains atau cara ilmiah untuk membantu anak-anak mempertahankan harapan, terutama selama masa-masa sulit:

1. Hentikan hal-hal negatif

Penting mengajarkan anak-anak untuk menangkap hal- hal negatif sebelum menjadi kebiasaan. Sebab, rasa pesimisme yang tidak berdasar dapat dengan mudah meruntuhkan harapan yang sudah ada.

Borba menjelaskan untuk mengembangkan kode pribadi untuk memberi sinyal mengenai komentar negatif. Kemudian dorong mereka untuk menyela pikiran negatif. Tak hanya itu, mencetuskan nama panggilan untuk suara pesimis mereka, seperti "Mr Negative Nelly juga dapat membantu anak-anak mengendalikannya.

2. Gunakan mantra harapan.

Kata-kata memiliki kekuatan yang besar.  Bantu anak Anda mengembangkan mantra optimis seperti “Aku mengerti!,” “Selalu ada hari esok,” atau “Aku akan baik-baik saja” untuk digunakan selama masa-masa sulit.  

Kemudian ajari mereka menggunakan frasa tersebut untuk mengurangi pesimisme. Anda juga dapat meminta anak Anda menetapkan mantra positifnya di background hape agar mudah dilihat dan diingat.

3. Ajarkan brainstorming.

Anak-anak yang penuh harapan tidak menghindari masalah.  Mereka mengambilnya secara langsung karena mereka telah belajar bahwa masalah dapat diselesaikan.

Jelaskan kepada anak Anda bahwa trik untuk melepaskan diri dari masalah ialah memicu otak untuk mencari solusi. Kemudian ajarkan brainstorming.  Salah satu triknya adalah dengan menggunakan S.T.A.N.D.  akronim untuk membantu anak-anak mengingat langkah-langkahnya:

- Slow: Pelan-pelan agar bisa berpikir.
- Tell: Ceritakan masalahnya.
- Ask: Tanyakan, seperti "Apa lagi yang bisa saya lakukan?"
- Name: Sebutkan semua yang dapat dilakukan untuk menyelesaikannya tanpa penilaian.
- Decide: Tentukan pilihan terbaik dan lakukan.

4. Bagikan berita yang penuh harapan.

Anak-anak yang penuh harapan mendengar cerita yang penuh harapan. Informasi yang menggembirakan meningkatkan harapan anak-anak. Carilah informasi inspiratif untuk dibagikan kepada anak-anak Anda dari waktu ke waktu.  Buat ulasan sebelum tidur tentang bagian-bagian baik tentang hari setiap orang untuk membantu anak-anak Anda menemukan sisi terang kehidupan.

Dan ingatkan mereka tentang kesuksesan mereka sendiri atas perjuangan mereka: “Ingat ketika kamu kesulitan berteman?  Sekarang kamu punya teman yang hebat!”

5. Tanyakan 'bagaimana jika?'

Anak-anak pesimis sering memikirkan "probabilitas suram", yang meredupkan harapan.  Tetapi anak-anak yang penuh harapan belajar menilai secara akurat.  Ketika anak Anda berbagi keraguan, ajukan pertanyaan "bagaimana-jika" untuk memikirkan hasil yang mungkin lebih realistis.

Misal, Anda bertanya: “Apa yang mungkin terjadi jika kamu mencoba atau tidak mencoba itu?  Apa hal terburuk yang bisa terjadi?  Seberapa besar kemungkinan itu terjadi?  Apa hasil yang paling mungkin?”

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu anak-anak menimbang apakah hasil potensial benar-benar seburuk yang mereka bayangkan.  Pengetahuan itu bisa menjadi jalan ke depan.

6. Rayakan kesuksesan kecil.

Kegagalan berulang meningkatkan keputusasaan, tetapi mengakui kesuksesan kecil meningkatkan harapan. Mendefinisikan kembali "sukses" sebagai pencapaian, artinya peningkatan kecil atas kinerja masa lalu karena usaha.  Kemudian bantu anak Anda mengidentifikasi kesuksesan pribadi. Misalnya, “Terakhir kali, kamu mendapatkan sembilan kata dengan benar.  Hari ini kamu mendapat 10!  Itu kesuksesan!”

 7. Tingkatkan ketegasan.

Anak-anak yang merasa putus asa merasa sulit untuk membela diri.  Mempelajari ketegasan, yang merupakan titik tengah antara kepasifan dan agresi, meningkatkan harapan dan hak pilihan.

Bahasa tubuh juga penting.  Ajarkan dasar-dasar bahasa tubuh yang percaya diri seperti mengangkat kepala tinggi-tinggi untuk membantu anak tampil percaya diri dan selalu tatap mata lawan bicara.

8. Buat ritual syukur.

Sebuah studi menemukan orang yang menyimpan jurnal rasa syukur merasa lebih berharap tentang hidup mereka hanya dalam 10 minggu. Adakan tradisi waktu makan di mana setiap anggota keluarga mengungkapkan satu hal yang mereka syukuri yang terjadi hari itu.  

Lakukan ritual sebelum tidur di mana setiap orang menyebutkan nama seseorang yang mereka syukuri dan alasannya.  Atau catat apresiasi anak-anak Anda dalam jurnal keluarga untuk mengingat bagian-bagian baik dari kehidupan mereka.

9. Membantu Orang Lain

 Menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain menginspirasi harapan dan membangun self-efficacy. Anak-anak yang penuh harapan memiliki orang dewasa yang peduli yang menjadi teladan harapan.  
 
Anak-anak bisa diajarkan dengan menyumbangkan pakaian atau mainan untuk keluarga yang membutuhkan agar mereka melihat dampak kebaikannya. Kegiatan membantu orang lain tersebut harus didesain sesuai keprihatinan mereka sendiri. (M-4)

BERITA TERKAIT