22 June 2022, 14:15 WIB

Cerita Dua UMKM Jakarta Bertransformasi di Masa Pandemi


Fathurrozak |

SEPERTI berbagai sektor lain, UMKM juga kelimpungan akibat pandemi. Dua UMKM asal DKI Jakarta yang bergerak di fesyen dan kerajinan, Dakara Indonesia dan Sancraft, menghadapi hal sama.

 

Dakara Indonesia adalah jenama fesyen yang didirikan Ayu Purnama. Material produk-produk fesyennya terbuat dari kain tenun. Sementara Sancraft merupakan merek produk kerajinan yang memiliki ciri khas lukisan tangan sebagai ilustrasi sang pemilik, Sanjung Sari Pursie.

 

“Ketika pandemi, terasa sekali dampaknya bagi Dakara. Awalnya kami kan produksi fesyen seperti baju, dress, dan luaran. Omzetnya ya terjun bebas. Tidak ada yang beli,” kata Ayu Purnama dalam virtual media briefing Tokopedia: Jakarta Hajatan ke-495, Nyok Kite Dukung Karya UMKM Lokal, Selasa, (21/6).

 

Ayu yang telah memulai bisnis fesyen bersama Dakara Indonesia sejak 2017, berupaya beradaptasi dengan kebutuhan baru masyarakat di masa pandemi. “Apa sih yang dibutuhkan masyarakat di masa pandemi. Tapi kami juga tetap ingin menggunakan material tenun. Jadi saya buat waist bag (tas pinggang), ikat pinggang, dan masker. Jadi walaupun pandemi produk-produk itu bisa digunakan untuk berolahraga, atau saat ke pasar, dengan tetap bergaya dan berbudaya.”

 

Tidak hanya bergerak sendiri, Ayu berupaya agar produknya membantu para warga lain sesama terdampak pandemi. Ia memberdayakan para ibu di rumah susun di beberapa wilayah di Jakarta.

 

“Ada yang punya anak lima tapi tidak punya suami, ada lansia, tapi mereka tetap punya semangat bekerja. Jadi saya juga melibatkan mereka yang rentan secara ekonomi,” terang Ayu yang mendatangkan material kain tenun di antaranya dari Jepara dan Klaten.

 

Sementara itu, Sanjung Sari mengaku terpantik untuk membuat bisnis Sancraft setelah pulang dari kuliah lapangan di Yogyakarta. Mahasiswa seni rupa ini tertarik dengan gambar-gambar yang dijajakan di jalan Malioboro.

 

“Aku kepikiran coba buat (gambar itu) di totebag dengan lukisan tanganku sendiri. Ada respons dari teman yang tanya belinya di mana. Dari situ aku coba niat untuk mulai jual di online. Tapi saat itu memang masih pakai nama pribadi. Belum ada Sancraft. Dan ada kesempatan yang baik saat masuk ritel. Dari situ baru terpikir nama merekku agar orang lebih kenal,” kata Sanjung dalam kesempatan sama dengan Ayu.

 

Dengan lini produknya yang bukan produk konsumsi harian, Sanjung pun sadar tantangan bisnisnya itu sudah hadir sejak ia memulai. Beberapa bulan sebelum pandemi, ia telah berencana berkolaborasi dengan rekanan yang hendak mengeluarkan produk baru. Mereka berencana berjualan di Tokopedia. Namun tertunda di masa pandemi.

 

“Aku pun kemudian putar otak untuk bikin kolaborasi dengan memproduksi peralatan yang dibutuhkan saat pandemi seperti APD dan masker. Aku pun harus beradaptasi termasuk dengan desainku. Yang biasanya penuh warna, di situ aku bikin monokrom,” cerita Sanjung.

 

Akhirnya Sanjung memajang produk-produk Sancraft di loka pasar digital itu. Salah satu produk terlarisnya kemudian adalah tote bag dengan desain peta Indonesia. Jenamanya mendapat respon cukup baik dan terus berkembang hingga kini. (M-1)

BERITA TERKAIT