16 June 2022, 21:35 WIB

Batik Tulis Mahal? Pahami Dulu Sebabnya


Devi Harahap |

Batik adalah salah satu wastra khas Indonesia yang dibuat dengan teknik menulis atau menorehkan cairan malam atau lilin pada kain mori lalu mewarnainya, namun perkembangan zaman yang semakin canggih mengantarkan batik memasuki era baru hingga menghasilkan beragam motif dan teknik pembuatannya.

“Berdasarkan motif, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki keragaman motif batik masing-masing yang mencerminkan nilai dan kearifan lokal setempat. Sedangkan batik berdasarkan teknik pembuatannya, saat ini dapat dibedakan menjadi batik tulis, batik cap, dan batik print (batik cetak),” kata Anita Setiawati, Pegiat Wastra Indonesia pada acara talk show “Berkain Budaya Indonesia” Gelar Karya Seni Fasilkom UI (GKF) di Makara Art Center UI, Depok, Jawa Barat, pada Rabu (15/6).

Anita mengatakan sebenarnya batik print bukanlah termasuk batik, melainkan kain yang bermotif seperti batik. Hal ini karena definisi batik adalah kain dengan pola warna yang dibuat menggunakan liln, sedangkan batik print tidak melalui proses ini.

“Kalau dulu produksi batik itu dibuat dengan tulis menggunakan canting, tapi semakin ke sini semakin bergeser ke batik cap, kemudian turun lagi ke batik printing. Tapi secara teknik, batik print itu bukan termasuk batik karena proses pembuatanya yang instan dan tidak melewati proses canting,” ujarnya.

Perubahan teknik membatik ini tak lain karena faktor kebutuhan konsumen yang masih menganggap harga batik tulis bernilai tinggi, sehingga teknik print atau cetak yang dibuat amat cepat dan sederhana lebih berkembang dan laris dengan harga jual yang relatif sangat murah.

“Hal ini terjadi karena anggapan dari konsumen ‘ah kok batik mahal’. Pada akhirnya berkembang teknik cetak, produksi batik pun mengikuti selera konsumen dan kebutuhan masyarakat. Hal semacam ini jadi penghambat batik tulis untuk bersaing,” ujarnya.

Perkembangan teknik cetak dalam membatik mempengaruhi kondisi hulu industri batik. Beberapa perajin batik di daerah tak mampu melakukan regenerasi keahlian menulis batik dan menorehkan cairan secara tradisional dengan menggunkan canting.

“Jugaran-juragan batik saat ini ada yang berhenti produksi batik tulis karena anak muda/ibu muda sudah tidak bisa membatik lagi karena tidak ada regenerasi pengajaran sehingga hilang, yang bertahan pun beralih ke sistem batik cap dan print,” jelasnya.

Kendati demikian, masih banyak masyarakat di berbagai daerah Pulau Jawa yang masih mengenakan kain batik tulis dengan motif asli untuk pagelaran dan upacara adat.  

“Kain batik tulis saat ini masih dipergunakan untuk upacara-upacara adat atau di lingkungan masyarakat yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal misalnya seperti di kraton, untuk upacara upacara tertentu masyarakat jawa juga masih tetap mempertahankan batik tulis dengan motif asli tertentu,” ujarnya.

Anita menilai perkembangan zaman yang memungkinkan menghasilkan berbagai macam inovasi batik dan modifikasinya adalah hal lumrah. Namun jangan sampai hal tersebut menghilangkan eksistensi motif batik asli trasidisonal yang dibuat dengan teknik tulis.

“Penting bagi masyarakat untuk melihat bahwa harga kain batik tulis yang tinggi sebanding dengan proses pembuatannya. Ada biaya produksi, waktu, dan keahlian para pembatik yang harus dihargai secara lebih,” ujarnya

BERITA TERKAIT