16 June 2022, 16:39 WIB

Seniman Indonesia jadi Direktur Artistik Pameran Documenta 15 di Jerman


Fathurrozak |

Pameran seni rupa kontemporer internasional Documenta, pada tahun ini terasa spesial karena kelompok seniman dari Indonesia menjadi direktur artistiknya. Mereka adalah para seniman yang berada di bawah naungan ruangrupa, yang merupakan bagian dari Gudskul Ekosistem.

Documenta merupakan pameran seni rupa kontemporer internasional yang prestisius. Selama 100 hari, pameran ini menyatukan seniman, pekerja budaya, serta pengunjung. Documenta dianggap selalu berhasil menjadi satu tolok ukur seni kontemporer dunia, juga cerminan isu-isu sosial terkini. Tahun ini, Documenta akan berlangsung selama 18 Juni hingga 25 September 2022 di Kassel, Jerman.

Di sana, Gudskul juga akan membuat sekolah kolektif di Museum Fridericianum, yang terdiri dari berbagai ruang pertemuan dan tempat tinggal, seperti Dormitory, Gudkitchen, dan Gudspace. Juga terdapat berbagai karya interaktif berbasis permainan seperti Collective Card, Speculative Collective Board Game, Nongkrong Chess, dan Temujalar Digital Station. Di ruangan ini juga akan banyak diseminasi pengetahuan dalam bentuk buku, video, dan mural yang menggambarkan bagaimana mekanisme ekosistem Gudskul bekerja.

Mengusung konsep temujalar, konsep ini diambil dari falsafah rimpang (Rhizoma) dengan tujuan mengoneksikan gagasan, pengalaman, pengetahuan, dan pertemanan agar antarkolektif dapat saling bertemu dan menjalar. Melihat ekosistem Documenta 15 sebagai sumber pengetahuan, Gudskul mencoba untuk mengelola pengetahuan tersebut sebagai sekolah, yang merupakan kelanjutan dari metode pedagogis seni eksperimental dalam praktik kolektif dan kolaboratif yang telah dilakukan mereka sejak angkatan pertama pada 2018.

Peserta Sekolah Temujalar atau studi kolektif angkatan ke lima ini terdiri dari kolektif-kolektif seni di Indonesia, Malaysia, Australia, dan Hongkong. Peserta akan menjalani proses pembelajaran kolektif kritis yang mengedepankan pentingnya dialog spekulatif dan berorientasi solusi melalui praktik langsung dan pembelajaran berbasis pengalaman. Berawal dari kultur nongkrong di Indonesia, ketika orang-orang dari berbagai kalangan dapat duduk bersama dalam lingkaran tanpa tujuan dan batasan waktu tertentu, berbagi cerita dan pengetahuan, menciptakan waktu bersama dan tempat yang aman.

Untuk melampaui Sekolah Temujalar, Gudskul juga membuat platform digital Temujalar (temujalar.art) yang didasarkan pada gagasan platform daring yang memungkinkan pertukaran pengetahuan melintasi batas geografis dan zona waktu (di luar documenta fifteen). Ketimpangan kesempatan mobilitas fisik bagi banyak orang (yang bisa disebabkan oleh pandemi, peraturan visa masing-masing negara, kurangnya subsistensi, dukungan institusional dan akses) telah membuat internet menjadi pintu gerbang bagi para seniman untuk saling terhubung.

“Konsepnya kami memang mirroring. Apa yang dibawa ke Kassel tetap mesti bisa dinikmati publik di Jakarta, di rumah kami,” ujar Irvin Domi, penjaga galeri RURU (ruangrupa) Gallery, dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Selasa (14/6).

Sebab itu, Gudskul Ekosistem yang berbasis di Jagakarsa, Jakarta Selatan juga membuka ruang mereka dalam rangkaian 100 Hari Jagakarsa. Di 100 Hari Jagakarsa, Gudskul membuka ruang untuk publik luas. Konsentrasi utama dari 100 Hari Jagakarsa adalah keterhubungan antara aktivitas Gudskul Ekosistem di Kassel dan rumah mereka di Jagakarsa.

Publik yang bertandang ke Gudskul di Jagakarsa selama 100 Hari Jagakarsa secara langsung maupun tidak langsung akan mengalami dan merasakan beberapa program yang dilaksanakan oleh tiga kolektif di Jakarta ini. Selain itu, sedikit banyak informasi tentang documenta maupun documenta fifteen pun akan tersaji untuk para pengunjung.

Acara 100 Hari Jagakarsa juga akan diwarnai berbagai aktivitas yang selama ini sudah sering dilakukan Gudskul Ekosistem maupun komponen-komponen yang ada di dalamnya seperti Serrum, ruangrupa, Grafis Huru Hara, Ok.Video, rururadio, dan lain-lainnya. Kegiatan itu antara lain pameran, pertunjukan, diskusi, lokakarya, dan utamanya ‘nongkrong-nongkrong.’

“Kami juga secara reguler dalam seminggu atau dua minggu sekali, mempublikasikan apa yang sudah terjadi di 100 Hari Jagakarsa dan apa yang akan datang di dalam perhelatan ini,” tambah Shelda Alienpang yang kesehariannya mengurusi RURU Shop di Gudskul Ekosistem. (M-4)

BERITA TERKAIT