11 June 2022, 13:15 WIB

Kritik Sosial di Karya-Karya Potret Diri Agus Suwage


Fathurrozak |

SEJAK tahun 1995 hingga satu dekade kemudian, seniman Agus Suwage intens menjadikan dirinya sendiri sebagai subyek karyanya. Karya-karya potret dirinya yang terkumpul selama setidaknya hingga medio 2005-an itu dihadirkan dalam pameran tunggal Agus Suwage The Theater of Me di Museum Macan, Jakarta, yang pembukaannya berlangsung Kamis, (2/6).

 

Bagi Agus, karya-karya potret dirinya bukan semata narsisistik si seniman. Justru potret diri itu ia jadikan sebagai upaya refleksi diri. Alih-alih menunjuk ke muka orang lain, kritik itu ditujukan untuk dirinya.

 

“Saya menggunakan wajah atau tubuh saya itu sebagai medium untuk menyampaikan kritik. Selalu ada idiom di situ. Jadi sangat berlainan sekali dengan rekaman foto narsis. Kan beda. Di prosesnya misal saya yang makan kodok itu ya saya harus makan kodok dulu,” kata Agus kepada Media Indonesia saat pembukaan pameran tunggal Agus Suwage The Theater of Me di Museum Macan, Kamis, (2/6).

 

Karya potret diri Agus Suwage adalah fase kekaryaannya setelah di fase awal karirnya, ia terpengaruh pada karya-karya seniman besar lain. Sebut saja pengaruh neo-ekspresionismenya pelukis Jerman Anselm Kiefer, yang cukup kentara pada karyanya di periode awal ia menekuni seni murni hingga periode 1997.

 

Di situ, Agus menuangkan pengaruh lingkungan aktivismenya untuk berbicara tema-tema politik. Seperti pada karya berjudul Kedatangan, Keberangkatan (1995). Agus melekatkan gaya kelam ala Kiefer ke lukisan tinta yang ia padukan dengan ornamen daun-daun kering bertuliskan tokoh-tokoh dunia dan Indonesia seperti Tan Malaka, aktivis anti-apartheid Stephen Biko, dan Gandi.

 

Setelah fase itu Agus bergeser mengolah tema kegusaran sosial khas ranah kontemporer. Ia misalnya membuat potret diri memakan kodok sebagai simbolisme manusia yang rakus.  Namun, di tengah dominasi karya-karya potret, Agus sebenarnya tidak benar-benar lepas landas dari tema-tema politik. Pada karya Tekstur, Agus merespons isu soal RUU Antipornografi dan Pornoaksi yang disahkan pada 2008.

 

Pada pameran kali ini, selain pengulangan pada potret diri yang cukup intensif pada periode 1995-2005, Agus juga memiliki kecenderungan pengulangan karakter tengkorak. Itu terlihat pada sekurangnya lima karya; yakni Cinta dan Kematian / Eros Kai Thanatos #4 (2017), Monumen yang Menjaga Hankamnas (2012), Kebahagiaan adalah Letupan Hangat (2011), Too Young to Die, Too Old to Rock N’ Roll series (2007-2009), dan Kejahatan Mewah (2009).

 

Dua di antara karya itu berbicara kematian, sementara yang lainnya berbicara soal memori masa kecil Agus yang dikontekstualisasikan dengan kritik politik (Kejahatan Mewah).

 

Daur karya lain yang juga menjadi kecenderungannya adalah soal apropriasi. Seperti yang ia tiru pada karya Sudjojono, Maka Lahirlah Angkatan ‘66, Agus membuat karya Maka Lahirlah Angkatan ‘90-an (2001).

 

Jika pada lukisan Sudjojono yang bernapas politik itu mengandung kutipan soal Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat), dalam karya Agus dimasukkan kalimat “Mungkin Sudjojono tak pernah bermimpi jika tiba-tiba lukisan jadi komoditi yang laris manis justru pada saat ekonomi Indonesia sedang terpuruk.”

 

Pameran tunggal Agus Suwage The Theater of Me berlangsung di Museum Macan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 4 Juni hingga 15 Oktober 2022. (M-1)

BERITA TERKAIT