11 June 2022, 07:20 WIB

Parodi Mencurigakan ala Dea Anugrah


Pro/M-2 |

PENULIS muda Dea Anugrah kembali meninggalkan jejak penting dalam dunia sastra Nusantara lewat karya terbarunya, Hari-Hari yang Mencurigakan. Lewat novel yang hanya 102 halaman itu, penulis buku kumpulan cerpen Bakat Menggonggong (2016) itu kembali berhasil menunjukkan kepiawaian menulis fiksi dengan caranya yang tak monoton, sedikit meledak-ledak, dan penuh pemaknaan.

Hari-Hari yang Mencurigakan bercerita pemuda bernama Dea Anugerah (dengan e). Ia merupakan mahasiswa filsafat dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penyuka puisi yang sangat penasaran akan sosok penyair misterius, Rudi Rodhom.

Berbekal tekad dan rasa ingin tahu yang begitu besar, Dea yang lebih senang dipanggil dengan nama Soda Api memulai perjalanannya mencari sang penyair. Bukan perjalanan yang mudah dan menyenangkan, Soda justru terpaksa menjalani hari-hari yang sulit, melelahkan, bahkan hingga mengancam nyawa.

Dimulai dari sebuah perpustakaan di Yogyakarta, ia melanjutkan pencariannya hingga ke Jakarta dan daerah paling utara Pulau Bangka, Belinyu. Dalam pencariannya ia dibantu perempuan misterius bernama Kobra.

Pertemuannya dengan Kobra tak hanya membuatnya lebih dekat dengan tujuannya bertemu Rudi Rodhom, tetapi juga lebih dekat dengan berbagai masalah yang tak pernah terbayangkan akan terjadi dalam hidupnya. Mulai memasuki wilayah kumuh di Jakarta, berurusan dengan polisi, hingga geng preman pengikut aliran sesat.

Jumlah halaman novel yang sangat minim membuat rangkaian cerita dalam novel ini terasa mengalir dengan cepat. Tak banyak adegan dan dialog basa-basi yang berpotensi membuat cerita jadi seperti berlarut-larut dan berputar-putar.

Setiap dialog antartokoh dalam cerita mengantarkan pembaca pada jawaban akan teka-teki cerita di setiap halaman. Itu membuat setiap dialog dan narasi yang disajikan harus dibaca dengan cermat dan tak bisa dilewatkan begitu saja.

Dialog antartokoh yang buat sangat serampangan dan tak jarang terkesan absurd justru menjadi salah satu kekuatan utama dalam novel ini. Khususnya dialog antara Soda dan sahabatnya di Yogyakarta, Bodhi.

Keduanya digambarkan memiliki ikatan persahabatan yang erat, tetapi juga riskan akan kesalahpahaman. Sebagai sesama penyuka dunia sastra, Soda dan Bodhi kerap menyelipkan kutipan-kutipan dari sastrawan lokal dan dari luar negeri dalam obrolannya.

“Salam bagi jiwamu, salam bagi jiwa-jiwa yang teraniaya!” kata Bodhi. Aku tak menyahut. Yang benar sajalah. Memang aku menyukai sajak-sajak Nur Wahida Idris, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menguji kesabaranku, dan anjing, kenapa aku malah tergoda untuk meladeninya?” halaman 52.

Berlatarkan kehidupan di dalam negeri di era modern saat ini, penulis juga menyelipkan beberapa isu terkini yang ada di Ibu Kota. Misalnya tentang tingkat kriminalitas di wilayah padat penduduk Jakarta. Ada juga bumbu-bumbu satir tentang polisi yang belakangan ini semakin diragukan loyalitasnya untuk membantu masyarakat.

Tak ketinggalan juga sentilan tentang kaum buruh yang kerap teraniaya ketika memperjuangkan haknya lewat aksi penolakan undang-undang baru tentang tenaga kerja.

“Hari Buruh,” kata Mama Wulan sambil merapikan bulu matanya. “Dan pagi-pagi pemerintah malah bikin pengumuman, suka tidak suka, Undang-Undang Ketenagakerjaan pasti diganti. Gila! Apa kurang jelas penolakan selama ini?” halaman 57.

Namun, dari semua hal itu unsur yang paling membuat buku ini berkesan ialah teka-teki latar belakang cerita di dalamnya. Pada bab-bab awal buku, pembaca mungkin akan bertanya-tanya apakah buku ini merupakan sebuah autobiografi tentang sang penulis yang disajikan dalam bentuk fiksi ataukah memang sepenuhnya hanya fiksi belaka.

Pertanyaan itu wajar muncul karena penulis menghadirkan juga sosoknya sebagai salah satu tokoh yang diceritakan dalam buku. Dalam cerita, tokoh Soda dan Bodhi kerap membicarakan sosok sastrawan bernama Dea Anugrah (tanpa e) yang disebut juga telah berupaya mencari sosok Rudi Rodhom.

Uniknya, penulis sengaja menghadirkan beberapa parodi atas dirinya lewat dialog antara Soda dan Bodhi. Lewat keduanya penulis seakan ingin menyampaikan beberapa pemikirannya tentang caranya sendiri dalam menulis. Uniknya, bukannya terkesan berlebihan atau overthinking, bagian memarodikan dirinya justru jadi sesuatu yang unik dan menghibur.

“Dia (Dea Anugrah) ke mana?”

“Xanadu Writer’s Colony, Rhode Island, Amerika Serikat.”

“Penulis kok sukanya hidup dalam sangkar? Pantas tulisan-tulisannya menyedihkan. Berjarak dia.”

“Sepakat.”

(halaman 22).

Berbagai pertanyaan yang bermunculan sedikit-demi sedikit akan terjawab seiring pergantian halaman menuju akhir cerita. Namun, jangan harap jawaban akan dengan mudah dan ringan didapat.

Sang penulis sepertinya ingin menguji lebih jauh kesabaran dan adrenalin pembaca dengan menghadirkan kejutan yang sangat di luar dugaan pada bagian akhir cerita. Siapa pun pasti tak akan mengira akan akhir dari cerita yang dipilih penulis.

Akhir yang mengesankan, tetapi juga tak berlebihan jika disebut menyebalkan, dalam pemaknaan yang positif. Sebuah akhir yang melibatkan satu bentuk metafiksi yang sedikit rumit, tetapi bernuansa parodi yang menggelitik.

Selain membutuhkan kesabaran untuk bisa mencerna setiap teka-teki yang ada dalam cerita, tak banyak celah yang mendominasi dalam novel ini. Salah satu yang paling terlihat hanya minimnya penceritaan tentang latar belakang setiap tokoh. Tak mengherankan mengingat jumlah halaman dalam novel yang memang sangat minim. Terlepas dari hal itu, tak berlebihan rasanya jika Hari-Hari yang Mencurigakan masuk daftar bacaan berkualitas yang layak dibaca di tahun ini. (Pro/M-2)

BERITA TERKAIT