24 May 2022, 12:05 WIB

Memaknai Kembali Ikhwal Waktu


Devi Harahap |

Sembilan lorong pintu berbentuk persegi yang memiliki beragam posisi dan warna itu, tampak cerah dan terususun rapi. Jika dilihat secara visual, lukisan yang terdiri dari sembilan panel itu menggunakan sembilan jenis warna berbeda dengan balutan karakteristik permainan warna-warna terang, seperti kuning, orens muda, orens tua, merah, merah jambu, ungu, hijau tosca, biru muda, dan biru tua.

Pemandangan itu bisa dilihat dalam sebuah lukisan berjudul “Passage of Time #1 -9” (2022) karya Harishazka Fauzan, yang kini dipajang dalam pameran tunggal perdananya “Past, Present, Future” di Galeri RUCI, Blok M, Jakarta yang digelar hingga 26 Mei mendatang.

Karya-karya yang ditampilkan kali ini berangkat dari hasil refleksi mendalam terhadap pergolakan batin mengenai dinamika waktu yang penuh ketidakpastian pada masa periode pandemi covid-19 sepanjang April 2020 hingga April 2022. Azka menuangkan kegelisahan yang sempat dialaminya, serta kesadaran-kesadaran baru akan waktu.

Terlatih sebagai pelukis yang kerap mengeksplorasi warna-warna cerah, Azka merupakan seniman kontemprorer asal Jakarta yang memiliki latar belakang studi arsitektur interior sehingga membentuk karakter cara kerja yang cermat dan teliti. Tak hanya itu, karya-karyanya juga kerap diaggap sebagai kolase dari potongan budaya kontemporer, yang kerap disertai perspektif kritis terhadap berbagai situasi kehidupannya.

Semangat itu yang dapat kita lihat dari “Passage of Time #1 -9”, lukisan yang dibuat saat situasi pandemi itu menerapkan gaya abstraksi geometris dengan warna-warni yang khas. Ketekunannya dalam membuat stensil dan menggunakan masking tape telah menghasilkan setiap garis tergambar dengan rapi dan konsisten pada tempatnya.

Situasi pandemi yang serba tak menentu telah melahirkan berbagai kesadaran baru tentang waktu di benak Azka. Ia mencoba memaknai kembali ihwal waktu dalam karya-karyanya. Melalui pameran itu, para penikmat seni diajak merenungkan pandangannya mengenai gagasan waktu dalam rangkaian karya abstrak. Tak hanya itu, audiens juga diajak untuk mempertanyakan cara-cara kita mengatur waktu dan menempatkan diri di dalamnya.

“Pintu itu saya maknai sebagai lorong waktu yang menjadi harapan baru, sekaligus momen bagi kita semua untuk memulai kembali segala aktivitas dari nol, dan menapaki masa depan yang lebih baik setelah situasi pandemi. Saya coba membuat 9 panel berbeda warna, bentuk, dan posisi yang berarti bahwa setiap orang bisa memilih untuk masuk ke lorong apapun yang dia suka. Lorong waktu di sini juga bisa diartikan seperti lahan baru untuk dicoba,” jelas Azka, saat.memandu Media Indonesia melihat pameran itu bersama kurator , Zarani Risjad, Jum’at (13/5).

Selain memajang karya “Passage of Time #1 -9”, pameran  ini juga menghadirkan “Enlightenment #1” (2022) dan “Back In The Day #1” (2022). Selama periode karantina, kata Azka, lebih banyak bagian-bagian kehidupan kita yang memasuki ruang-ruang virtual sehingga hal itu menjadi bagian dari kehidupan di era kenormalan baru. Namun waktu justru bergerak begitu cepat hingga membuat dirinya sebagai seorang seniman merasa kesulitan untuk beradaptasi dan menjalaninya.

Karya “Enlightenment #1” (2022) menjadi salah satu petanda upaya Azka mengeksplorasi secara mendalam tentang pengertian temporalitas yang dipengaruhi oleh isolasi, khsusnya saat mencoba bertahan dan mengatur keseimbangan aktivitasnya yang lebih sehat antara waktu kerja dan setelah bekerja, praktik yang lebih baik untuk menavigasi dunia digital, dan mengungkap batas baru dalam praktek kreatifnya.

Lukisan ini menggambarkan elemen grafis baru yaitu serangkaian lingkaran warna-warni yang saling terkait, berkelok-kelok, dan melengkung hingga membentuk seperti cacing melalui komposisinya lalu melewati berbagai dasar bentuk geometris yang berwarna.

Gelombang-gelombang ini meniru lika-liku dari sisi emosional Azka yang sedang dalam keadaan “burn out” dan berjuang untuk menemukan ketenangan di tengah masa pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mengamati bahwa waktu tampak makin cair dan tidak stabil. “Garis tak terputus dari lingkaran tersebut adalah lingkaran waktu yang terdiri dari 24 jam,” ujar Azka.

Menurut Zarani, Azka merasa tersesat sehingga keyakinannya bahwa waktu berkesinambungan dan terbatas menjadi terbantahkan. Alih-alih, ia justru menemukan bahwa dalam dunia digital, manusia menjadi kekal. Di dunia digital yang terus-menerus hidup 24 jam dalam sepekan, kita disediakan pilihan yang tak ada habisnya dan selalu berubah-ubah. Pada akhirnya, dunia tersebut telah memengaruhi pemahaman kita akan waktu di dunia nyata.

“Di beberapa lukisan cacingnya seperti meliuk di antara satu objek, lalu di beberapa lukisan cacingnya melewati objeknya, ada beberapa lukisan yang cacingnya berinteraksi dengan elemen-elemen lain. Semua itu menggambarkan naik turunnya waktu selama masa pandemi 2 tahun ini yang kita semua mengalami dan pada akhirnya kita menyadari arti waktu di dunia nyata, jadi secara personal Azka menggambarkan itu lewat karya-karya ini,” jelas Zarani.(M-4)

 

BERITA TERKAIT