21 May 2022, 15:15 WIB

Kembali Dipentaskan, Monolog Inggit Garnasih Lebih Segar dengan Konsep Musikal


Devi Harahap |

SETELAH dua tahun tertunda karena pandemi, monolog Inggit Garnasih akhirnya kembali digelar untuk publik pada Jumat dan Sabtu, 20-21 Mei 2022. Bertempat di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, Jakarta, Happy Salma juga kembali memerankan sosok istri kedua Presiden pertama RI, Ir Soekarno.

 

Meski begitu pementasan kali ini menghadirkan sesuatu yang berbeda dari 13 pementasan sebelumnya yang berlangsung dalam kurun 2011 - 2014. Pementasan kali ini dalam bentuk musikal sehingga memberi kesan yang jauh lebih megah. 

 

Keputusan untuk menghadirkan kembali pementasan ini dalam bentuk teater musikal merupakan ide Wawan Sofwan selaku sutradara. Menurutnya, bentuk teater musikal juga berkaitan dengan tradisi Sunda, dimana nyanyian adalah bentuk curahan perasaan.

 

“Saya berpikir akan lebih kuat apabila ungkapan-ungkapan kegelisahan tokoh Inggit dihadirkan dalam bentuk nyanyian. Tokoh Inggit hadir sebagai seorang perempuan yang memilih mengingat sesuatu yang lebih baik meski ia dilanda kesedihan mendalam,” kata Wawan kepada media, Kamis malam (19/5).

 

Sementara Happy Salma yang juga menjadi produser mengungkapkan sosok dan arti penting seorang Inggit sebagai saksi dalam berbagai peristiwa pada masa perjuangan. Baginya, Inggit adalah semangat tentang kejujuran dan cerminan ketulusan perasaan seorang perempuan.

 

“Ini adalah sebuah fase yang tidak pernah dibicarakan dalam narasi sejarah besar, kisah yang ada di wilayah domestic para pendiri bangsa ini. Beruntung proses produksi berjalan baik sehingga bisa mewujudkan perunjukkan ini,” ujarnya.

 

Pementasan yang terinspirasi dari roman Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH ini berlangsung selama 1 jam 45 menit.

 

Ratna Ayu Budhiarti, selaku penulis naskah monolog menjelaskan jika ia berupaya menghadirkan petikan-petikan peristiwa dalam kehidupan Inggit yang layak untuk dikenang dan diteladani, khususnya saat mendampingi Ir.Soekarno selama dua puluh tahun dalam masa perjuangan.

 

“Saya berusaha menghadirkan kembali moment-moment penting dalam perjalanan seorang Bu Inggit Garnasih, dimulai dari sejengkal jarak yang mendekatkan dan diakhiri pula dengan sejengkal jarak yang menjauhkan, tapi Inggit tetap tegak setelah dihantam ombak perceraian,” ujarnya. 

 

Selama 20 tahun menjalani pernikahan, Inggit telah setia mengantar Soekarno lulus dari sekolahnya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Inggit juga mendukung ekonomi keluarga dengan berjualan jamu, alat-alat rumah tangga, dan pertanian. 

 

Akan tetapi, ketika Bung Karno akhirnya akan sampai di gerbang Istana menjelang kemerdekaan bangsa yang didambakan, Inggit harus berpisah dengan Bung Karno lantaran tak ingin dimadu. Dia memilih untuk mengemas barang-barangnya dan mengubur kenangan dalam koper tuanya untuk kembali ke Bandung.

 

Teater Monolog Inggit Garnasih yang merupakan produksi Titimangsa Foundation ini menampilkan sejumlah arsip foto dari Soekarno dan Inggit semasa hidup sebagai latar dari pementasan teater, selain itu arsip dari beberapa rekaman pidato Soekarno dalam Indonesia menggugat dan rasa terima kasihnya kepada Inggit juga diperdengarkan dalam pementasan. 

 

Teater musikal Monolog Inggit Garnasih turut dimeriahkan dengan kehadiran para pemain pendukung seperti Ati Sriati (Ibu Amsi), Jessica Januar (Ratna Djuami), Desak Putu Pandara Btari Patavika (Kartika). Seluruh pemeran tampil sangat mengesankan dengan arahan Iskandar Loedin (pimpinan artistik). (M-1)

BERITA TERKAIT