15 May 2022, 05:10 WIB

GILANG SABIL RAMADHAN DAN DEWI AGUS RIAYANTI : Menjadi Juru Parkir Sepeninggal Ayah


NIKE AMELIA SARI | Weekend

GILANG Sabil Ramadhan sempat viral di 2020. Kala itu di usia 11 tahun, ia menjadi juru parkir demi melunasi utang motor almarhum ayahnya. Kegigihan membuat Gilang akhirnya bisa melunasi utang itu dan membantu sang ibu menghidupi keluarga.

Hadir sebagai bintang tamu Kick Andy episode Anak Tulang Punggung Keluarga yang tayang malam ini di Metro TV, Gilang menjelaskan bahwa meneruskan pekerjaan sang ayah sebagai juru parkir merupakan inisiatifnya.

Sebagai anak tertua dari empat bersaudara, ia merasa harus ikut bertanggung jawab melanjutkan cicilan motor yang digunakan sang ayah bekerja sambilan sebagai sopir ojek daring.

Gilang menjalani pekerjaan sebagai juru parkir pada tengah hari sepulang sekolah hingga pukul delapan malam. “Kerja parkir di dekat sebelah rumah, ada ruko-ruko,” kisah bocah kelas enam SD yang tinggal di Pondok Kelapa Raya, Jakarta Timur, itu.

Gilang yang kini berusia 13 tahun mengaku sebagai juru parkir termuda di kawasan ruko itu. Meski begitu, ia tidak takut. Ia pun tidak minder saat guru dan teman-teman sekolahnya mengetahui hal itu. “Keren lu (Gilang) jadi tukang parkir,” ujar Gilang menirukan pujian temannya yang ikut membuatnya percaya diri.

Ibunda Gilang yang juga hadir di Kick Andy, Dewi Agus Riayanti Dewi, menuturkan bahwa sang anak juga mampu menyamai penghasilan sang ayah di saat parkiran ramai. “Kalau bapaknya Gilang dulu bisa sehari Rp50 ribu, kadang kalau lagi rame Rp150 ribu. Kalau Gilang lagi sepinya dapat Rp30 ribu. Kalau lagi rame Rp150 ribu,” tuturnya.

Pendapatan itulah, ditambah bantuan dari pihak lain, yang membuatnya mampu melunasi utang suami yang meninggal akibat serangan jantung.

Dewi pun berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan berbagai usaha, termasuk katering, membuka warkop, hingga berjualan mi ayam. Untuk tempat tinggal, ia bersyukur dapat tinggal di rumah milik mantan langganan ojek suaminya.

Meski terharu dan bersyukur dengan ke gigihan Gilang membantu ekonomi keluarga, Dewi tetap ingin sang putra meneruskan sekolah. Terlebih, Gilang tidak melupakan kewajiban belajar sepulang menjadi juru parkir. Ia bisa belajar hingga pukul satu dini hari. Dewi berharap Gilang dapat meraih cita-citanya menjadi prajurit TNI Angkatan Udara.


Harus dilindungi

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait yang bertindak sebagai sebagai co-host di episode ini mengungkapkan memang banyak anak terpaksa bekerja karena berbagai hal. Sesuai undang-undang, mereka yang disebut anak ialah yang berusia di bawah 18 tahun.

“Saya menggunakan kata ‘terpaksa bekerja’ supaya dia sesungguhnya sebagai korban dari situasi yang ada dari lingkungannya. Nah, angkanya cukup tinggi, bukan hanya sebagai tukang parkir,” tuturnya.

Jumlah anak yang terpaksa bekerja diperkirakan lebih meningkat lagi akibat pandemi. Ada 273 ribu anak yang menjadi yatim piatu akibat covid-19 dan berpotensi harus bekerja jika tidak ada penghidupan dari kerabat.

Arist mengungkapkan, berdasarkan undang-undang, memang ada pekerjaan yang diperbolehkan bagi anak atau mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Namun, sesuai UU Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan Konvensi ILO Nomor 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak, maka anak harus
tetap terlindungi.

“Misalnya yang tidak diperbolehkan, pekerjaan dalam satu ruangan yang mengandung pekerjaan kimia. Di wilayah prosti tusi juga tidak boleh, itu bentuk terburuk. Tetapi apa yang dilakukan oleh Gilang itu adalah bagian yang diperbolehkan karena dia masih sekolah. Artinya bekerja sambil bersekolah. Sekalipun dia dalam keadaan sulit, tetapi hak anak atas pendidikan tidak hilang,” pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT