14 May 2022, 07:10 WIB

Getir Hidup sang Bunga Desa


Pro/M-2 |

TERLAHIR sebagai seorang perempuan memang tak mudah, apalagi jika hidup dan tumbuh dengan berbagai keterbatasan dan budaya patriarki yang masih melekat erat di sekitarnya.

Perjalanan terjal demi bisa bertahan di tengah kerasnya kehidupan dan agar bisa membantu sang ibu. Premis itulah kira-kira yang menjadi sajian utama buku berjudul Namaku Bunga karya Ade Mulyono.

Buku yang diterbitkan penerbit Lakara Lima tersebut menceritakan kehidupan Bunga, bukan nama sebenarnya. Bunga, alias Suci, ialah perempuan yang terpaksa bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) demi memenuhi kebutuhan hidupnya di Jakarta dan menghidupi sang ibu di kampung halaman.

Menjadi wanita malam sesungguhnya bukan kehidupan yang diinginkan atau sengaja digeluti Bunga. Lewat alur maju-mundur yang digunakan penulis, pembaca akan mengetahui penyebab kembang desa tersebut terpaksa hengkang dari kampungnya.

Dengan sumber daya terbatas, Bunga menuju Jakarta demi bisa menjalani hidup yang lebih baik. Sayangnya, di Jakarta ia justru harus menjani hidup yang lebih getir. Ia dijebak untuk menjadi istri simpanan politikus, dipaksa menggugurkan kandungan, hingga diperkosa anak majikannya.

Di tengah keputusasaan, ia bertemu dengan Melati dan Bang Ben. Keduanya yang mengenalkan Bunga pada kehidupan malam Kota Jakarta. Bersama Melati dan Bang Ben, Bunga menjalani malam demi malam melayani lelaki hidung belang demi rupiah.

Pahit manis hari ia jalani sebagai PSK. Hingga akhirnya Bunga sampai di satu titik yang menyadarkannya bahwa itu bukanlah hidup yang ia inginkan. Ia merindukan sosok lelaki anutan yang bisa berperan sebagai suaminya.

Keinginan Bunga untuk menemukan calon imam yang ia cintai akhirnya terwujud. Ia bertemu dengan sosok yang bisa menerimanya apa adanya.

Hanya sebanyak 144 halaman, novel Namaku Bunga disajikan penulis dengan isi cerita yang padat dan sangat rapi. Setiap halaman dalam novel memiliki bagian penting yang dapat menjadi informasi bagi rangkaian cerita di halaman lainnya. Gaya penceritaan penulis dalam Namaku Bunga juga sangat apik dan akan mengingatkan pembaca pada novelis yang juga banyak mengangkat isu perempuan, misalnya Ayu Utami.

Penceritaan dilakukan dengan menggunakan alur maju-mundur. Pembaca kerap dibuat bertanya-tanya apa yang terjadi pada masa lalu sang tokoh utama. Pemilihan alur tersebut membuat novel jadi lebih menarik karena membuat rasa penasaran pembaca lebih terpancing hadir.

Latar cerita yang dipilih penulis dalam novel itu ialah kehidupan masyarakat Jakarta di era akhir kepemimpinan Presiden Soeharto, 1997, hingga awal 2000-an. Tak satu-dua kali penulis menyelipkan sedikit informasi tentang suasana politik saat itu untuk memperkaya latar sosial dan politik dalam cerita.

“Baguslah kalau begitu. Sekarang harus banyak-banyak investasi. Kamu tahu sendiri setiap hari Pak Harto didemo. Apalagi sedang krisis begini, semakin beringas saja para pendemo. Negara kita sedang di ambang kehancuran karena krismon. Rajin-rajinlah menabung,” halaman 69.

Novel tersebut juga menjadi gambaran kerasnya kehidupan Jakarta kala itu, khususnya bagi seorang perempuan miskin dan berpendidikan rendah yang datang dari daerah. Sangat sulit ada kesempatan untuk bisa memiliki kehidupan yang lebih baik tanpa mengorbankan sesuatu yang sangat penting.

Melalui sosok Bunga, penulis juga seakan ingin menyampaikan pesan bahwa di balik keputusannya untuk melakukan pekerjaan yang dianggap kotor, setiap orang pasti memiliki alasan masing-masing. Mereka pun tetap masih memiliki hati nurani yang membuat mereka berperang dengan diri sendiri setiap hari.

Pertentangan terhadap budaya patriarki dan dominasi laki-laki atas perempuan juga disuarakan lantang oleh penulis pada beberapa bagian cerita. Bahwa meski tak mudah , setiap perempuan memiliki hak untuk menentukan hidup mereka sendiri.

“Aku merasa bahagia jika berhasil meruntuhkan kekuasaan lelaki. Menaklukkan keangkuhannya. Meruntuhkan moralitasnya. Lihatlah bagaimana kelakuan lelaki saat bersujud menghamba pada perempuan supaya dapat menyalurkan hasratnya. Dengan uang, kekuatan, dan kekuasaan lelaki mempertahankan dominasinya atas tubuh perempuan. Mereka mengira jika telah berhasil membenamkan penisnya ke dalam vagina, mereka telah berhasil menaklukkan perempuan, memperbudak perempuan. Tidak, merekalah yang sebenarnya kita taklukkan,” halaman 18.

Bagi penggemar novel bergenre drama, Namaku Bunga mungkin bisa jadi pilihan yang menarik. Novel ini juga sangat cocok dibaca bagi pembaca pemula atau bagi yang tengah rindu akan bacaan singkat tak melelahkan. Selain ringan, novel ini sedikit banyak dapat membuka mata pembaca tentang beberapa isu sosial yang ada di sekitar mereka.

Meski berlatar kehidupan pada era sebelum gelombang informasi sederas saat ini, bagi banyak perempuan, isu yang diangkat penulis mungkin akan sangat relevan dengan kehidupan yang mereka jalani. Novel ini juga menggambarkan betapa isu-isu terkait dengan kekerasan pada perempuan tak pernah hilang termakan oleh zaman. (Pro/M-2)

Judul: Namaku Bunga

Penulis: Ade Mulyono

Penerbit: Lakara Lima

Tahun: Cetakan pertama, Maret 2022

BERITA TERKAIT