11 May 2022, 20:11 WIB

Wahana NASA Deteksi Gempa Terbesar di Mars


Devi Harahap | Weekend

Wahana pendarat Insight milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mencatat gempa berkekuatan 5 magnitudo yang mengguncang permukaan Mars pada 4 Mei. Gempa ini tercatat sebagai terkuat yang pernah terdeteksi tidak hanya di Mars tetapi di seluruh planet selain Bumi. 

Sebelumnya, InSight mencatat gempa berkekuatan 4,2 magnitudo juga terjadi pada 25 Agustus 2021.

Kabar tersebut juga dibagikan oleh asisten administrator direktorat sains NASA, Thomas Zurbuchen.

“Wow tim @NASAInSight dan CNES baru saja menerima data awal dari Mars tentang aktivitas seismik terbesar yang pernah tercatat. Perkiraan awal gempa berkekuatan 5 magnitudo,” kata Zurbuchen dalam cuitannya, seperti dikutip Space pada Rabu (11/5). 

Dalam menggunakan ukuran di Bumi, gempa berkekuatan 5 dianggap sedang dan tidak akan menjadi masalah besar. Di planet kita, gempa seperti itu terjadi setengah juta kali per tahun dan jarang menyebabkan kerusakan serius. (Kekuatan gempa tersebut hanya akan membuat beberapa barang terjatuh dari rak dan membuat jendela lalu akan membangunkan Anda di malam hari). 

Bagaimanapun, secara tektonik Planet Mars memiliki kondisi  jauh lebih damai dari bumi, Tim ilmuwan Insight di Jet Propulsion Laboratory NASA mengatakan intensitas gempa tersebut mendekati intensitas maksimum yang mereka harapkan ditemukan di Mars.

“Sejak kami memasang seismometer pada Desember 2018, kami telah menunggu gempa besar,” kata peneliti utama InSight NASA, Bruce Banerdt dalam sebuah pernyataan. 

“Gempa ini pasti akan memberikan pemandangan ke planet ini tidak seperti yang lain. Para ilmuwan akan menganalisis data ini untuk mempelajari hal-hal baru tentang Mars selama bertahun-tahun yang akan datang,” lanjutnya. 

Saat ini tim Insight NASA masih mencari tahu dan menganalisis lebih dalam mengenai lokasi dan sumber gempa terbesar yang terjadi di Mars.

Diketahui, InSight mendarat di Elysium Planitia, dataran luas yang melewati khatulistiwa Mars pada 26 November 2018, dan dilengkapi dengan seismometer yang sangat sensitif yang telah direkayasa oleh Badan Antariksa Prancis, French Centre National d'Études Spatiales (CNES). 

Pendaratan InSight memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari struktur interior planet Mars dari jarak jauh dengan mendeteksi dan menganalisis gelombang seismik yang melewati lapisan geologis Mars. 

Saat membandingkan apa yang mereka lihat di Planet Merah dengan apa yang mereka ketahui tentang perilaku gelombang seismik di Bumi, para ahli ilmuwan dapat menentukan kedalaman dan komposisi lapisan-lapisan ini, seperti kerak, mantel, dan inti dari Mars. 

Pendaratan InSight NASA selama hampir 1.300 hari telah mencatat lebih dari 1.313 gempa terjadi di Mars. Misi utama pendaratan secara resmi berakhir pada 2020, tetapi NASA melanjutkan misi tersebut. 

Meski demikian, InSight mengalami kesulitan untuk memproduksi tenaga surya yang cukup guna melanjutkan operasi karena pola cuaca musiman, jumlah debu di udara telah meningkat secara dramatis sejak kedatangan InSight sehingga menutupi Matahari.

Badai debu lokal yang terjadi pada Januari lalu telah membuat InSight beralih ke mode aman sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang durasi waktu yang dibutuhkan untuk melanjutkan misi. Namun, pada 7 Mei lalu, wahana itu kehilangan kekuatannya sehingga tak bisa beroperasi. (Space.com/M-2) 

BERITA TERKAIT