01 May 2022, 11:30 WIB

Kalis Mardiasih, Suarakan Hak Perempuan lewat Medsos


Devi Harahap |

KALIS Mardiasih atau yang akrab disapa Kalis adalah seorang penulis, influencer, sekaligus aktivis muslimah. Iamengkampanyekan keragaman Indonesia dan kesetaraan gender dalam wacana Islam melalui media sosial.

 

Kumpulan tulisannya di medsos telah dituangkan dalam empat buku yang terjual lebih dari 20 ribu eksemplar. Keempatnya adalah Berislam Seperti kanak-kanak (Menjadi Muslim Seperti Anak Kecil), Muslimah yang Diperdebatkan (Muslimah yang Diperebutkan), Hijrah Jangan Jauh-Jauh Nanti Nyasar (Never Hijrah Too Far: Anda Mungkin Tersesat!), dan Sisterfillah, Anda Tidak Akan Pernah Sendiri!.

 

Saat ini, ia tinggal di Yogyakarta bersama suamainya yang kebetulan juga seorang penulis produktif dan pengurus platform berita digital Mojok.co, yakni Agus Mulyadi. Dalam bukunya, Kalis kerap membahas tema-tema kesetaraan gender atau merespon isu-isu yang berkaitan dengan persolan perempuan.

 

 “Sering kali persoalan-persoalan perempuan ini kalau di Indonesia masih dianggap sebagai persoalannya perempuan sendiri. Hampir semua pesan di dalam tulisan-tulisan saya adalah memberikan kesadaran bahwa perempuan ini sebetulnya adalah korban dari sebuah sistem sehingga perempuan mengalami peminggiran, subordinasi atau dipandang rendah, menjadi korban kekerasan. Sebetulnya disisi lain kalau kita mau bicara kemajuan, bicara pembangunan sebuah bangsa kita gak bisa bicara kemajuan atau pembangunan tanpa bicara perempuan,” ujarnya sat menjadi bintang tamu Kick Andy yang tayang 1 Mei 2022 di Metro TV.

 

Memperjuangkan kesetaraan perempuan di sosial membuat kalis kerap mendapatkan resistensi dari berbagai kalangan. Namun ia tidak mundur dalam memanfaatkan platform media sosial yang ia miliki seperti IG, Twitter dan lainnya untuk menceritakan kisah perempuan dengan lebih adil. Lewat cerita yang ia tulis, Kalis berusaha membantu perempuan mendapatkan hak untuk mendapatkan hidup yang lebih berkualitas.

 

“Ketika saya bilang perempuan berhak menentukan otoritas untuk tubuhnya sendiri misalnya hak kesehatan reproduksi, perempuan selalu ditanya kapan hamil atau bahkan jumlah anak gitu sering kali ditentukan oleh suami atau masyarakat namun pihak perempuan yang punya tubuh engga pernah ditanya sebetulnya dia siap untuk hamil atau tidak,” ujarnya.

 

Menulis dengan menggunakan bahasa yang sederhana ditujukan Kalis agar bukunya bisa dibaca oleh anak usia SMP dan SD sehingga pengetahuan mengenai kesetaraan gender bisa dimengerti oleh anak-anak sejak dini.

 

“Saat bicara isu kekerasan, saya bercita-cita anak SD dan SMP bisa memahami bacaan saya. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana, saya berharap anak-anak bsia paham mengenai tentang kesetaraan genre, udah tau bahwa perempua itu berhak atas akses pendidikan, politik, sosial, ekonomi segala macam. Itu adalah cita-cita saya,” pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT