01 April 2022, 03:50 WIB

Fenomenal, Astronom Temukan Bintang Gigantik Terjauh dan Tertua dari Bumi


Devi Harahap |

Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA dan Badan Antariksa Eropa mendeteksi bintang tunggal terjauh dari Bumi, berjarak sekitar 12,9 miliar tahun cahaya.

Bintang yang dinamai Earendel dari bahasa Old English, atau 'Cahaya Pagi', itu diperkirakan berukuran 50 kali lipat dari Matahari dan jutaan kali lebih terang.

“Kami hampir tidak percaya. Biasanya pada jarak ini, seluruh galaksi terlihat seperti noda kecil, dengan cahaya dari jutaan bintang yang menyatu,” kata penulis utama jurnal, Brian Welch, seorang astronom di Universitas Johns Hopkins.

Dengan jarak 12,9 miliar tahun cahaya, artinya Hubble 'melihat' bentuk bintang merah membara itu pada saat alam semesta baru berusia kurang dari 1 miliar tahun --berdasar teori Dentuman Besar (Big Bang), atau periode yang disebut para astronom sebagai arunika kosmik (Cosmic Dawn).

“Galaksi yang menampung bintang ini telah diperbesar dan terdistorsi oleh lensa gravitasi menjadi bulan sabit panjang yang kami beri nama Busur Matahari Terbit, Biasanya pada jarak ini, seluruh galaksi terlihat seperti noda kecil, dengan cahaya dari jutaan bintang yang menyatu” lanjut Welch.

Dilansir dari National Herald india pada Kamis (31/3), penemuan ini menjanjikan untuk membuka era pembentukan bintang yang sangat awal yang belum dipetakan. Pada titik ini, para astronom tidak dapat menentukan apakah Earendel adalah bintang biner, meskipun sebagian besar bintang masif memiliki setidaknya satu bintang pendamping yang lebih kecil. Di alam semesta yang berkembang semakin cepat, semakin tinggi pergeseran merah, semakin cepat sumber cahaya menjauh dari kita.

Pengamatan dilakukan sebagai bagian dari Reionization Lensing Cluster Survey, atau RELICS, sebuah inisiatif Hubble yang dipimpin oleh rekan penulis penelitian Dan Coe dari Space Telescope Science Institute.

Para astronom di RELICS menggunakan lensa gravitasi, sebuah fenomena aneh di mana sebuah objek besar seperti gugus galaksi membelokkan dan memfokuskan cahaya dari objek yang lebih jauh. Efek pelensaan memperbesar bintang, gugus, dan galaksi yang jauh, menghasilkan gambar seperti busur.

Earendel bisa menjadi contoh pertama yang diketahui dari generasi pertama bintang yang tercipta setelah Big Bang jika secara eksklusif mencakup elemen fundamental hidrogen dan helium.

Teleskop Luar Angkasa Hubble, yang berusia 32 tahun, tidak mampu memecahkan masalah seperti itu, tetapi Teleskop Luar Angkasa James Webb, yang baru-baru ini diluncurkan, diharapkan dapat membantu.

“Dengan Webb, kami berharap untuk memastikan bahwa Earendel memang sebuah bintang, serta mengukur kecerahan dan suhunya,” kata Coe. (M-2)

 

BERITA TERKAIT