19 March 2022, 07:10 WIB

Sumbangsih para Punggawa Bumi


Putri Rosmalia |

HARAPAN akan bumi yang dapat kembali pulih tak akan dapat terealisasi tanpa kontribusi nyata setiap insan manusia di dalamnya. Jika pada banyak orang perihal penyelamatan bumi tidak jarang hanya sebatas jargon, tidak demikian dengan mereka yang termaktub dalam buku berjudul Punggawa Bumi ini.

Buku yang diterbitkan oleh Media Indonesia Publishing ini memuat kisah dan perjuangan sosok-sosok inspiratif di Tanah Air. Inspiratif karena dengan cara masing-masing, mereka berupaya memberi andil untuk memulihkan bumi yang tengah sakit ini.

“Mereka bergerak dalam penanganan sampah, mendirikan perusahaan rintisan di bidang lingkungan, mengedukasi, membentuk komunitas, hingga mengampanyekan pertanian yang lebih hijau. Istimewanya, sebagian besar dari mereka ialah anak-anak muda. Kami mengurasi sosok-sosok itu dan menampilkannya dalam buku ini untuk mengabadikan kisah mereka,” ujar Direktur Pemberitaan Media Indonesia Gaudensius Suhardi (halaman 8).

Buku ini merupakan seleksi dari 51 artikel sosok inspiratif yang pernah hadir mengisi halaman ‘Punggawa Bumi’ di koran Media Indonesia. Halaman tersebut tayang setiap Kamis selama satu tahun penuh di 2020. Buku Punggawa Bumi ini juga menjadi persembahan bagi Indonesia Bertumbuh oleh Media Indonesia bersamaan dengan ulang tahunnya yang ke-52.

Dari 51 pengambil inisiatif yang ditampilkan di halaman ‘Punggawa Bumi’ koran Media Indonesia, 19 di antaranya hadir dalam buku ini. Mereka umumnya adalah sosok-sosok muda dengan gerakan yang memiliki kontribusi besar dan nyata bagi masyarakat di ling kungannya dan Indonesia secara umum.

Buku dibuka dengan kisah seorang perempuan muda asal Bandung, Siska Nirmala. Lewat gerakan Zero Waste Adventure, ia membuktikan bahwa mendaki gunung tanpa menghasilkan sampah sangat bisa dilakukan.

Siska yang sangat gemar mendaki gunung mulai melakukan pendakian tanpa sampah sejak 2012. Dalam artikel tersebut, ia menceritakan bagaimana awalnya ia tergerak untuk bisa menyuarakan dan menginisiasi gerakan mendaki gunung tanpa sampah lewat Zero Waste Adventure.

Gerakan itu ia awali dengan mengadakan ekspedisi nol sampah di lima gunung. Ekspedisi ke Gunung Gede, Pangrango, Papandayan, Lawu, dan Argo Puro itu memang baru dituntaskan dua tahun kemudian. Namun, perempuan yang kala itu berprofesi sebagai jurnalis tersebut merasa bangga karena dapat membuktikan bahwa pendakian nirsampah bisa dan perlu dilakukan.

Melalui Zero Waste Adventure, Siska membuktikan bahwa tak ada yang tak bisa dilakukan selama ada komitmen dan usaha yang serius. Meski sesulit harus mendaki gunung tanpa menghasilkan dan meninggalkan sampah sekalipun.

Hal serupa juga disuarakan oleh Wilma Chrysanti, inisiator Kota tanpa Sampah. Kota tanpa Sampah merupakan proyek edukasi lingkungan yang ia gagas bersama sang suami yang seorang arsitek, Adi Wibowo, dalam naungan studio desain sosial ekologis LabTanya.

Misi yang mereka emban ialah menyelesaikan masalah sampah yang ada di sekitar dengan menerapkan prinsip hidup yang ramah lingkungan.

Selain Siska Nirmala dan Wilma Chrysanti, dihadirkan kisah sosok-sosok lain yang juga berjuang untuk membenahi bumi dengan berfokus pada persoalan sampah. Mereka ialah Maurilla Sophianti Imron yang menginisiasi komunitas Zero Waste Indonesia, Yunita Lestari Ningsih insiator Bank Popok di beberapa wilayah Kota Malang, Tiza Mafira dengan gerakan Diet Kantong Plastik, Adi Saifullah Putra sang pembuat aplikasi Mall Sampah, Jessica Halim salah satu founder Demi Bumi, serta Ovy Sabrina dan Novita Tan dari Rebricks.id.

Lewat komunitas Zero Waste Indonesia, Maurilla Sophianti Imron aktif melakukan edukasi lewat berbagai platform media sosial untuk mengubah pola hidup yang lebih bertanggung jawab dan minim sampah.

Yunita Lestari Ningsih menjadi insiator Bank Popok di beberapa wilayah Kota Malang. Ibu berusia kepala empat tersebut mulai bergerak secara mandiri sejak 2012 untuk mengurangi limbah popok bayi bekas yang kerap berakhir di sungai dan mengubahnya menjadi produk daur ulang ramah lingkungan.

Melalui Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira berhasil mendorong regulator untuk mulai lebih serius melakukan pembatasan penggunaan kantong plastik.

Salah satunya ialah kebijakan kantong plastik berbayar yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam beberapa tahun terakhir.

Adi Saifullah Putra membuktikan bahwa anak muda juga bisa berkontribusi nyata dan berdampak. Melalui aplikasi Mall Sampah, pemuda berusia 25 tahun itu menyuarakan gerakan daur ulang sampah di Makassar.

Melalui Demi Bumi, Jessica Halim membuat limbah plastik sekali pakai jadi lebih bernilai. Ia menciptakan ja ring katun yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, melalui Rebricks. id, Ovy Sabrina dan Novita Tan mengubah limbah plastik sekali pakai menjadi bahan bangunan.

Terdapat pula kisah tentang Swietenia Puspa Lestari yang disebut-sebut sebagai Greta Thunberg dari Indonesia dan kisah dari aktris Nadine Chandrawinata.

Swietenia merupakan pendiri komunitas yang berfokus untuk melakukan gerakan bersih sungai, Divers Clean Action. Adapun Nadine memiliki peran penting dalam upaya edukasi dan aksi menjaga kelestarian lingkungan laut melalui komunitasnya yang bernama Sea Soldier.

Sosok lain yang juga dihadirkan berkat perannya yang berhubungan dengan upaya pengurangan sampah ialah Adi Asmawan yang mendirikan Saruga. Saruga adalah toko dengan sistem curah dan tanpa kemasan atau bulk store pertama yang berdiri di Jakarta.

MI/Duta

 

Edukasi

Selain kisah tentang sosok-sosok di balik berbagai gerakan penyelamatan lingkungan melalui pengurangan, pengelolaan, hingga daur ulang sampah, juga terdapat kisah lain yang tak kalah menarik dan inspiratif. Mulai dari upaya menjaga lingkungan lewat pendirian pesantren, menjaga ekosistem bakau, edukasi lewat kesenian wayang, hingga menjaga lingkungan lewat revitalisasi tradisi dan pangan lokal.

Perjuangan melakukan edukasi dan penanaman kecintaan kepada lingkungan lewat pesantren dilakukan oleh Nisya Saadah Wargadipura.

Ia mendirikan Pesantren Ekologi Ath Thaariq di Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di pesantren itu, para santri juga diajarkan mengenai biodiversitas dalam konsep agroekologi yang dapat menjadi solusi masalah pertanian.

Upaya menjaga bumi dengan melakukan pendekatan lewat edukasi juga dilakukan oleh Diah Widuretno. Diah merupakan sosok di balik kesuksesan Sekolah Sumbu Panguripan atau yang sekarang bernama Sekolah Page sangan di Yogyakarta. Di sana masyarakat diajarkan pengetahuan dan kearifan lokal, seperti cara mengolah sumber pangan lokal jadi produk pangan yang inovatif.

Juga ditampilkan kisah Muhammad Sulthoni yang melakukan edukasi tentang penyelamatan lingkungan lewat kesenian wayang. Pria asal Solo tersebut memilih wayang sebagai media penyampai pesan yang menyenangkan kepada masyarakat. Salah satu tema yangs sering disampaikannya ialah tentang menjaga Sungai Bengawan Solo dari timbunan sampah.

Sementara itu, Subhan, Suparno Jumar, dan Iben Yuzenho Ismarson memilih berkontribusi dengan cara mengabdikan hidup mereka untuk menjaga kelestarian area penting yang jadi sumber kehidupan. Subhan mengabdikan hidupnya untuk menjaga kelestarian hutan bakau di tempat asalnya, Pulau Bawean, Jawa Timur.

Adapun Suparno Jumar mengabdikan hidupnya untuk melakukan upaya revitalisasi Sungai Ciliwung.

Ia merupakan sosok di balik berbagai gerakan yang dilakukan oleh komunitas-komunitas peduli Ciliwung di wilayah Bogor. Lalu ada Iben Yuzenho Ismarson, yang memilih untuk berkontribusi dengan membangun komunitas Sebumi yang berfokus pada kegiatan ecotourism, wisata yang bertanggung jawab.

Dua sosok terakhir yang juga dihadirkan dalam buku Punggawa Bumi ialah Dicky Senda dan Helianti Hilman.

Dicky memilih mengabdikan diri untuk memberdayakan warga dan menjaga tradisi tanah leluhurnya di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Utara, NTT, melalui komunitas Lakoat Kujawas. Lewat Lakoat Kujawas ia melakukan berbagai kegiatan literasi tentang pangan lokal, pelestarian alam, hingga sastra kepada warga sekitar.

Di sisi lain, Helianti Hilman memantapkan hatinya untuk menghidupkan kembali pangan-pangan yang terlupakan dari para petani di pelosok Indonesia.

Ia mewujudkan hal itu melalui payung kewirausahaan yang ia dirikan sejak 2009, Javara Indigenous Indonesia.

Meski hanya berjumlah 154 halaman, buku ini menyuguhkan kekayaan kisah perjalanan seluruh tokoh punggawa bumi tersebut. Kegelisahan dan pengalaman yang menjadi titik balik di kehidupan setiap sosok. Perjuangan ketika awal memulai gerakan penyelamatan lingkungan hingga berbagai upaya dan perjuangan mempertahankan konsistensi gerakan yang mereka mulai hingga berdampak signifi kan bagi kalangan luas.

Semuanya terangkum dengan apik dan mendalam. Kisah setiap pejuang lingkungan yang dihadirkan dalam buku Punggawa Bumi dapat menjadi inspirasi sekaligus penyulut semangat setiap insan manusia untuk juga bisa bekontribusi dengan caranya sendiri.

Akhirnya, seperti Kata Pengantar yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dalam buku ini, kisah setiap tokoh penyelamat lingkungan dalam Punggawa Bumi bukan cuma menginspirasi, tapi juga menjadi contoh kerja yang patut menjadi referensi bersama.

“Mewujudkan peradaban Indonesia yang maju dan berkelanjutan merupakan cita-cita bersama yang perlu terus dihidupkan dan dikawal oleh setiap warga negara. Seluruh komponen bangsa, pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, serta perusahaan, bersama-sama memberi kontribusi dalam membangun untuk Indonesia maju secara berkelanjutan,” Siti Nurbaya (halaman 9). (M-2)

 

Judul: Punggawa Bumi

Penerbit: Media Indonesia Publishing
 

Penanggung Jawab: Iis Zatnika

Cetakan: Pertama, 2022

BERITA TERKAIT