13 March 2022, 06:20 WIB

Suarakan Hak demi Bumi


Nike Amalia Sari |

BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Ungkapan itu rupanya berlaku untuk aktivis lingkungan muda asal Gresik, Aeshnina Azzahra Aqilani. Nina, sapaan akrabnya, mengikuti jejak orangtuanya yang juga peduli dengan lingkungan.

Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) ialah komunitas pemerhati lingkungan yang digagas Prigi Arisandi, ayah Nina, pada 1996. Sejak kecil, Nina ke rap diajak kedua orangtuanya untuk mengamati lingkungan sekitar. Tidak mengherankan jika lambat laun tumbuh minatnya terhadap isu tersebut. Ia pun kini ingin menularkan kepedulian akan lingkungan kepada generasi muda di Tanah Air.

Kepada Muda, gadis berusia 15 tahun yang tahun lalu menghadiri Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ( COP-26) di Inggris tersebut berbagi cerita terkait pengalamannya menjadi aktivis lingkungan, caranya mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan, hingga gairahnya yang tak pernah padam untuk menjaga Bumi. Yuk, simak potongan perbincangan kami via daring, Jumat (4/3).

Hai Nina, boleh cerita asal muasal kamu menjadi aktivis lingkungan?
Aku dari kecil sudah terbiasa bersama mama dan papa, mereka juga aktivis lingkungan. Aku ikut mereka meneliti ke sungai, main ke sungai. Lalu aku juga diedukasi, misalnya, kalau lagi ikut mereka ke sungai, aku dikasih tahu kalau sungai itu sangat penting, sungai itu sumber lingkungan kita.

Mereka jelaskan kalau lingkungan kita dibiarkan tercemar terus, dampaknya akan lebih parah dan yang akan merasakannya generasiku, generasi anak muda. Akhirnya, karena sudah terbiasa diajak papa dan mama ke mana-mana sambil dijelaskan, aku tertarik banget.

Setelah aku tahu, aku menganggap isu ini penting. Aku enggak mau hidup di sungai yang kotor. Aku mau minum air yang bersih, menghirup udara yang bersih. Karena itu, aku tergerak untuk menjadi aktivis lingkungan. Yang pasti, yang membuat aku senang, kita bisa membuat perubahan yang positif.

Bagaimana, sih, cara papa dan mama kamu mengedukasi kamu soal lingkungan?
Kita biasanya ngobrol-ngobrol santai. Papa kalau menjelaskan tentang masalah lingkungan, itu pakai cara yang seru, kayak digambarin, dan ada mainan-mainannya juga. Jadinya menyenangkan, bukan mem buat aku pusing.

Namun, yang paling berdampak itu saat sering ke lapangan bareng orangtua. Misalnya, papa ngasih tahu kalau pabrik ini, kertasnya, buang sampahnya ke sungai, mari kita lihat. Jadi, aku ikut lihat langsung, kita ambil sampel airnya dan baca-baca informasi. Itu yang berdampak ke aku, makanya aku bikin juga jurus 3A (analisis, ambisi, aksi). Analisis itu diamati, lalu kita tetapkan targetnya apa di ambisi, baru yang terakhir aksi.

Kapan kamu mulai melakukan aksi mandiri sebagai aktivis lingkungan?
Aku mulai mengedukasi generasi muda itu pas mau masuk SMP. Aku mulai aksi sendiri tanpa orangtua bersama tim River Warrior pada Juni 2019. Aku pertama kali itu menulis surat ke Donald Trump. Selain itu, karena aku butuh juga media untuk sharing, aku pakai Instagram dan Facebook.

Bisa kamu jelaskan tentang River Warrior?
Aku Co-Founder River Warrior dan founder-nya mbak aku sendiri. Kita bikin bareng pada 2019. Komunitas ini kita tujukan untuk membebaskan Sungai Brantas dari pencemaran plastik. Itu dekat tempat tinggalku. Di hilirnya, di Mojokerto, Surabaya, itu dijadikan sumber air minum. Bahan baku PDAM untuk lebih dari 5 juta orang. Padahal, hulunya dijadikan tempat sampah oleh masyarakat. Industri juga buang limbah ke sungai tanpa diawasi.

Walau sudah ada protes, belum ada perhatian serius dari pemerintah kecuali waktu beritanya lagi viral saja.

Mbak aku dan aku lalu mengajak teman-teman kita ikut (River Warrior). Waktu itu aku baru bisa ajak tiga teman untuk kampanye bareng. Namun, akhirnya yang ikut bertambah karena aku konsisten mengedukasi mereka. Seperti di grup kelas, aku ngobrol sama temanteman bahas tentang mikroplastik, tapi pakai cara yang membuat mereka suka dan tertarik, seperti cara papa edukasi ke aku.

Contohnya, di grup kelas, aku kirim video atau komik, atau bawa buku cerita dan poster ke sekolah. Yang paling sering, aku gambarin sambil cerita ke mereka. Jadi, ada teman-teman yang sudah sadar tentang bahayanya plastik dan mau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Apakah mudah mengedukasi teman-teman sebaya kamu atau bahkan yang usianya lebih tua?
Awalnya memang banyak teman yang kurang mendukung karena mereka jatuh cinta sama plastik. Orang melihatnya plastik ini mudah, murah, dan praktis. Sekali pakai langsung buang, enggak usah repotrepot cuci.

Kadang ada yang sengaja, seperti beli satu barang, tapi minta pakai plastik cuma untuk ‘ testing’ aku. Ada juga yang kalau aku cerita, mereka kayak cari kesalahan aku. Namun, aku terus berusaha mengedukasi mereka.

Kamu menulis surat ke banyak lembaga, termasuk ke Presiden AS (saat itu) Donald Trump, terkait tuntutan penghentian impor sampah plastik, bagaimana ceritanya?
Awalnya, pabrik kertas di Indonesia butuh bahan baku untuk mendaur ulang kertas. Karena di Indonesia sampah kertasnya tidak dipilah, akhir nya mereka membeli sampah kertas dari negara maju yang sudah bersih dan terpilah. Akan tetapi, ada tingkatan kualitasnya. Pabrik kertas itu dipilih yang paling rendah kualitasnya, paling murah. Kita hanya beli kertasnya saja, tapi ternyata diselundupkan sampah plastiknya, padahal
kita enggak minta.

Memang pas awal-awalnya, sampah plastik itu dikembalikan ke negara pengirim, tapi terus malah dipindahin ke negara berkembang lain. Ya sudah, setelah beritanya tidak hit, sampah itu akhirnya diterima saja. Setelah pabrik mengambil sampah kertasnya, sampah plastiknya lalu dijual atau bahkan dibuang ke desa-desa sekitar pabrik.

Ada warga desa yang jadi ‘petani’ plastik, mereka pilah yang bisa didaur ulang dan dijual ke pabrik daur ulang. Akan tetapi, untuk daur ulang, harus dipotong kecilkecil dulu, terus menghasilkan (sampah) mikroplastik karena harus dicuci dan kemudian itu dibuang ke sungai.

Sungainya jadi berbusa-busa dan hitam banget sehingga banyak ikan mati karena ter kontaminasi mikroplastik. Mikroplastik ini sangat berbahaya untuk kesehatan. Kemudian yang tidak bisa didaur ulang, dijual ke pabrik tahu sebagai bahan bakar karena lebih murah dan lebih cepat daripada pakai kayu. Padahal, membakar plastik itu dampaknya juga luar biasa.

Pencemaran ini datangnya bukan dari sampah yang kita hasilkan, melainkan dari negara maju. Tuntutan semua surat aku mirip, yaitu untuk menghentikan pengiriman sampah plastik dan tanggung jawab terhadap sampah negara sendiri.

Bagaimana respons atas suratsurat itu?
Yang Amerika, balasan suratnya cuma minta maaf, dia enggak bilang mau melakukan apa, enggak bilang mau setop ekspor. Namun, sekarang sampah Amerika turun, Jerman juga. Australia katanya lagi menyusun peraturan untuk tidak mengirim sampahnya ke negara mana pun, jadi sampahnya ditanggung sendiri.

Oh ya, kenapa sih kamu memilih medium surat?
Aku dari kecil suka menulis diari. Apa yang terjadi, sedikit-sedikit aku tulis setiap harinya. Terus juga menulis itu mudah, semua orang bisa menulis. Kalau aksi menulis surat itu, enggak perlu banyak drama, langsung kirim suratnya, orangnya baca terus dibalas.

Kamu juga akan mengedukasi anak-anak Indonesia menulis surat ke pihak terkait, ya?
Iya, kalau bisa mengajak anakanak muda, apalagi mereka yang terdampak dan mereka bergerak maka dampaknya sepertinya akan besar sehingga akan menjadi perhatian media, masyarakat, pemerintah. Jadi, aku mikir pasti seru jika ngajak anak-anak Indonesia untuk membuat surat ke pemerintah.

Pendekatan apa yang kamu lakukan?
Rencananya kalau sudah tidak covid-19, aku mau edukasi anakanak muda dengan datang ke sekolah- sekolah mereka secara langsung karena mengedukasi secara langsung lebih seru. Namun, karena saat ini masih covid, akhirnya aku mikir untuk membuat program aja di Instagram aku, bikin kayak live Instagram untuk ngajak mereka atau webinar Zoom.

Bagaimana pandangan kamu terkait generasi muda yang belum  berani bersuara?
Teman-teman aku juga banyak yang takut speak up. Alasannya takut cari masalah, takut mancing, banyak banget yang enggak pede, padahal dia punya hak buat bersuara. Aku cuma bilang kalau kita benar, enggak usah takut. Apalagi untuk lingkungan. Dampaknya tidak kita rasakan sekarang, tapi dampaknya puluhan tahun kemudian. Harus mau bersuara jika mau tinggal di lingkungan yang bersih.

Akhir tahun lalu, kamu sempat menghadiri COP-26?
Aku diberi kesempatan untuk screening film dokumenter. Jadi, waktu aku kirim surat ke Donald Trump pada 2019, ada salah satu media dari Jerman, dia pembuat film dokumenter, yang baca berita tentang aku. Kita bikin film tentang empat anak perempuan dari Indonesia, Australia, India, dan Afrika yang berjuang melawan krisis sampah.

Di COP-26 di Inggris itu, aku senang banget bisa ketemu komunitas aktivis lingkungan yang biasanya cuma ketemu saat online meeting saja. Aku juga ketemu aktivis yang temannya Greta (Greta Thunberg, aktivis lingkunga dari Swedia–red), tapi sayangnya aku belum ketemu Greta karena dia sudah pulang.

Lalu, bagaimana rencana kamu ke depannya?
Target aku anak muda dan pemerintah. Jadi, mengedukasi per topik, misalnya, bulan ini bahas tentang mikroplastik, bulan selanjutnya bahaya dan dampaknya. Lalu tetap menulis surat yang berkaitan dengan topik-topik tersebut. (M-2)

BERITA TERKAIT