08 March 2022, 21:59 WIB

Keraton Yogyakarta Gelar Simposium Internasional dan Pameran Jayapatra


adiyanto |

Dalam rangka memperingati Jumenengan atau kenaikan tahta Sri Sultan HB X yang ke-33, Keraton Yogyakarta menggelar simposium Internasional dan pameran dengan tema Jayapatra : Dedikasi Yogyakarta Bagi Bangsa. Pameran digelar di bangsal pagelaran Keraton Yogyakarta selama empat bulan ke depan mulai Selasa (8/3) dan bisa disaksikan secara langsung maupun virtual.

Dalam pameran ini, dihadirkan beragam arsip dan bukti sejarah peran Keraton Yogyakarta dan masyarakat dalam dinamika politik nasional. Mulai dari Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, Amanat 5 September 1945, pemindahan ibukota negara ke Yogyakarta, Agresi Militer Belanda II hingga Serangan Umum 1 Maret 1949 dan kelahiran Republik Indonesia Serikat.

Peran keraton dan masyarakat Yogyakarta dalam dinamika politik nasional tidak dapat dipungkiri.  Sejumlah peran vital telah dimainkan kota ini dalam berbagai hal. Pada bidang pendidikan, misalnya, Keraton Yogyakarta merintis pendidikan berbasis budaya melalui sekolah tamanan, kemudian berkembang menjadi sekolah-sekolah ala Barat.

Puncaknya, kehadiran 71 sekolah partikelir pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII menjadi bukti perhatian sultan atas pendidikan. Sekolah-sekolah tersebut selanjutnya berkembang menjadi Hollandsch Inlandsche School dan mengakomodasi kebutuhan pendidikan di Yogyakarta.

Estafet perjuangan di bidang pendidikan diteruskan pula oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan mengizinkan kawasan keraton sebagai ruang belajar Universitas Gadjah Mada. Di sisi lain Sri Sultan Hamengku Buwono IX secara pribadi terlibat langsung dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

“Perjuangan ini dilanjutkan pula oleh Sri Sultan Hamengku Bawono ke X. dalam mempertahankan kedaulatan republik melalui praktik-praktik budaya dan reformasi di Yogyakarta,” ujar putri raja Yogyakarta GKR Mangkubumi.

Tema pameran

Jayapatra berarti perjanjian kemenangan, yang mengacu pada perjuangan menempuh kemerdekaan dipenuhi dengan berbagai perjanjian hingga memenangkan sebuah kebebasan. Payung tema ini hadir sebagai upaya menarik kembali sejarah panjang Yogyakarta sebagai kota kerajaan yang memiliki pengaruh besar atas kelahiran republik. Peran-peran di bidang pendidikan, sosial, politik, ekonomi, hingga kebudayaan selanjutnya diterjemahkan dalam masing-masing tema simposium, sekaligus sudut-sudut ruang pamer.

“Agenda ini menjadi momentum untuk kembali merefleksikan diri atas perjuangan panjang dalam merebut kemerdekaan sekaligus mengejawantahkan berbagai praktik dalam menjaga kemerdekaan.

Harapannya pameran ini hadir sebagai upaya keraton dalam mengilhami generasi muda agar ‘melek sejarah’ tentang Yogyakarta dan perannya atas kelahiran republik,” pungkas GKR Bendara, Penghageng Nityabudaya,  divisi keraton yang berwenang atas museum dan kearsipan dalam pembukaan pameran tersebut, seperti tertera dalam rilis yang diterima Media Indonesia, Selasa (8/3). (RO/M-4)

BERITA TERKAIT