24 January 2022, 09:15 WIB

Opa-Oma, Sering-seringlah Tertawa Bersama Teman


Nike Amelia Sari | Weekend

Tertawa nyatanya memang terbukti memberikan berbagai manfaat untuk kesehatan tubuh. Penelitian di Jepang baru-baru ini mengungkapkan tertawa dengan teman dapat mengurangi risiko kecacatan lebih dari 30%  pada mereka yang berusia di atas 65 tahun.

Studi ini mempelajari lebih dari 12.000 orang berusia 65 tahun ke atas yang tinggal di Jepang. Tim menemukan bahwa berbagi lelucon dengan teman mengurangi risiko kecacatan sekitar 30% jika dibandingkan dengan orang berusia 65 tahun ke atas yang tertawa sendirian, seperti saat menonton TV.

Sedangkan berbagi tawa dengan pasangan yang baik mengurangi risiko cacat kognitif atau fisik lebih dari 30% untuk orang berusia 65 tahun ke atas. Ini juga dibandingkan dengan orang-orang pada usia yang sama yang tertawa sendirian, seperti ketika mereka menonton TV tanpa ditemani siapa pun.

Menariknya, mereka yang tertawa dalam percakapan dengan teman memiliki risiko kecacatan fungsional yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tertawa bersama pasangannya atau dengan anak atau cucunya.

Para peneliti menyarankan bahwa tertawa bersama teman dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, yang pada gilirannya dapat mengurangi risiko kecacatan. "Tertawa dengan teman membawa manfaat kesehatan seperti pelepasan stres, peningkatan fungsi kekebalan tubuh, dan rasa keterhubungan sosial," kata penulis utama Yudai Tamada di Universitas Nagoya di Aichi, Jepang, seperti dikutip dari dailymail.co.uk, Kamis (20/1).

Penelitian yang dipublikasikan di Preventive Medicine ini bertujuan untuk menguji hubungan antara tertawa dalam kehidupan sehari-hari dan timbulnya cacat fungsional di antara orang-orang di Jepang. Sejauh ini, potensi manfaat kesehatan dari tertawa dalam kehidupan sehari-hari jarang dieksplorasi.

Untuk mempelajari lebih lanjut, Tamada dan rekan-rekannya beralih ke Studi Evaluasi Gerontologis Jepang (JGES), yang didirikan pada  2010 dengan tujuan untuk memeriksa faktor-faktor yang terkait dengan kesehatan dan kesejahteraan pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas.

Para peneliti melakukan survei dengan melibatkan 12.571 responden (dengan 46,1%  di antaraya laki-laki) tentang kebiasaan tertawa mereka.

"Kami mengevaluasi tawa mereka dalam kehidupan sehari-hari dari tiga perspektif, jenis situasi di mana orang tertawa, jumlah situasi di mana orang tertawa dengan orang lain, dan orang yang tertawa bersamanya," kata para peneliti.

Tim tersebut mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi kausalitas secara akurat.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian yang berfokus pada hubungan antara tawa dalam kehidupan sehari-hari dan beberapa hasil kesehatan. Misalnya, pada tahun 2016, peneliti Jepang menemukan hubungan antara lebih banyak tawa dan prevalensi penyakit jantung.

Sementara pada 2020, kejadian penyakit kardiovaskular ditemukan secara signifikan lebih tinggi di antara subjek dengan frekuensi tawa yang rendah. Sementara pada tahun 2021, mereka yang jarang tertawa dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah jangka panjang di antara pria paruh baya. (M-4)

 

BERITA TERKAIT