16 January 2022, 05:25 WIB

Arief Munandar : Pelajaran Siap Siaga


(*/M-1) | Weekend

GEMPA dan tsunami Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 tidak hanya menimbulkan korban jiwa di Indonesia. Tsunami yang mencapai tinggi 30 meter itu menghilangkan lebih dari 244 ribu jiwa di sembilan negara.

Arief Munandar, warga Aceh, bahkan kehilangan 25 orang keluarganya, termasuk orangtua, istri, dan anak. Saat hadir sebagai bintang tamu Kick Andy, pria kelahiran Banda Aceh 54 tahun silam itu menuturkan, di pagi hari setelah gempa terjadi, suasana kembali tenang.

Ia pun pergi ke warung kopi. Namun, belum lagi menyeruput kopi, ia mendengar warga berteriak tentang air laut yang naik. Arief yang berusaha kembali ke rumahnya yang berjarak 1,5 km tersapu oleh ombak di tengah perjalanan. Ia bisa menyelamatkan diri berkat ban mobil yang juga terbawa oleh arus hingga kemudian ia bisa menggapai pohon kelapa.

Setelah tsunami surut, berhari-hari Arief mencari keluarganya. Selama pencarian itu juga ia ikut pula mengangkut jenazah-jenazah. Akibat begitu lelahnya, Arief pingsan hingga dikira meninggal dan dimasukkan ke kantong mayat.

"Lalu, saya capek kelelahan, tidak makan, dan hanya berjuang untuk minum, entah bagaimana pingsan dan ketika bangun di kantong mayat dan saya teriak untuk minta dibukakan," kenangnya.

Meski kehilangan hampir seluruh keluarganya, Arief melihat tsunami memberikan pelajaran besar bagi masyarakat soal kesiapsiagaan bencana. Arief yang kemudian menikah dengan perempuan yang juga korban tsunami bergabung ke organisasi Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) dan dua tahun kemudian (2007) bergabung dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana). Tekadnya ialah ikut menyosialisasikan kesiapsiagaan bencana, termasuk pentingnya sistem peringatan dini.

Saat gempa terjadi di Sumatra Barat, 2009, Arief ditugasi ke sana untuk membantu korban. Tak hanya itu, ia mengajak korban yang selamat untuk ikut membantu korban yang lain karena kebersamaan akan membuat para korban saling menguatkan.

Pada 2017, dia bergabung di Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) sebagai anggota staf radio komunikasi dan telah mengabdi menjadi pegawai di BPBA sebagai teknisi di radio komunikasi. Saat terjadi gempa, Arif akan menuju menasah/musala kampung untuk menyiarkan peringatan dan laporan tentang kondisi sekitar.

Ketika tinggal di Aceh Besar, Arief juga membangun sikap sadar bencana di keluarganya. Anak-anaknya diajari cara evakuasi mandiri. Di rumah dia selalu menyediakan tas berisi kebutuhan darurat, termasuk bahan bakar sepeda motor selalu dipastikan terisi dan posisi parkir menghadap ke luar agar mudah digunakan saat evakuasi. (*/M-1)

BERITA TERKAIT