16 January 2022, 05:05 WIB

Kenduri Pantun Cara Riau Menjaga Tradisi


HERYUS SAPUTRO SAMHUDI | Weekend

DI penghujung tahun silam, persisnya pada 17 Desember 2021, genap setahun pantun ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya tak Benda (WBTB) Dunia, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Riau menggelar puncak acara gerakan budaya bertajuk Kenduri Pantun.

“Kenduri dimaknai sebagai majelis perjamuan makan, perayaan atau ingatan untuk suatu peristiwa, ungkapan syukur, berharap berkah, sedekah, dan sebagainya. Kenduri wujud sebagai tradisi yang mengakar hidup di alam Melayu,” ungkap budayawan Raja Yoserizal Zen, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau yang juga Ketua ATL Riau, di Anjung Seni Idrus Tintin, Bandar Seni Raja Ali Haji, Pekanbaru.

Umumnya kenduri, lanjut Yoserizal, diadakan sebagai majelis perekat ke­kerabatan (silaturahim) bagi puak, kaum, bahkan antarluhak yang ada di dalam negeri. Namun, akar kenduri sebagai tradisi sesungguhnya bukan hanya membuka hubungan horizontal – berkait daur hidup (rite de passage), tetapi juga hubungan vertikal pada Sang Maha Pencipta Kehidupan.

Pantun merupakan genre sastra yang hidup dan berkembang di alam Melayu. Diperkirakan, tradisi ini sudah ada sejak zaman purba. Digunakan sebagai sebentuk cara berbahasa dalam peristiwa-peristiwa khusus, semisal ritual dan upa­cara-upacara komunal. Pantun ada dan ‘diwujudkan’ untuk mengelola hubungan harmonis manusia dengan Sang Pencipta, alam semesta, dan sesama manusia.

Pantun bukan cuma budaya milik orang Riau. Budaya pantun tersebar nyaris di seluruh wilayah Nusantara, bahkan hingga Brunei Darusalam, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Di Indonesia sendiri, banyak masyarakat tidak berbahasa Melayu, tapi mengenal pula tradisi pantun. Di masyarakat Batak, misalnya, pantun dikenal sebagai umpasa, di Jawa disebut parikan, dan orang Sunda menyebutnya paparikan.

Namun, pantun populer sebagai kosakata bahasa Melayu, yang merupakan modal utama lahirnya bahasa Indonesia. Karena itu, pada 2016, Pemprov Riau dan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau ada dalam barisan ATL (atas nama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI) mengusulkan ke UNESCO agar pantun diser­takan menjadi nominasi bersama (joint nomination) Malaysia sebagai Waris­an Budaya Tak Benda Dunia.

Siapa mengira, pantun yang kerap dilecehkan banyak pihak sebagai seni sastra ‘ecek-ecek’, dalam sidang terbuka di Paris, 17 Desember 2020, ditetapkan oleh UNESCO sebagai Intangible Culture Heritage atau Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Penetapan ini membawa konsekuensi tersendiri bagi negara ‘pemilik’ pantun yang sudah diakui sebagai WBTB Dunia tersebut.

“Penetapan UNESCO atas tiap WBTB berkemungkinan dicabut seandainya dalam perkembangannya ternyata warisan budaya tersebut tidak hidup atau kondisinya jauh lebih buruk dari saat ditetapkan sebagai warisan dunia,” ungkap Pudentia Maria Purenti Sri Sunarti atau Pudentia MPSS, Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan, seorang dari penggagas awal pengajuan pantun sebagai WBTB ke Unesco.

Grup Whatsapp

Dalam menghadapi kemungkinan itu, di samping rasa cinta kepada khazanah pantun yang wujud sejak lama dan kini jadi WBTB Dunia, sejumlah budayawan Melayu Riau sebagai bagian dari pemangku kepentingan atas pantun segera menghadirkan Whatsapp Group (WAG) Kenduri Pantun sebagai ruang sastra bagi masyarakat luas yang ingin memos­ting karya-karya pantun baru yang digubahnya.

Lahir pada 18 Desember 2020, selang sehari seusai pantun ditetapkan UNESCO sebagai World Intangible Cultural Heritage atau WBTB Dunia, WAG Kenduri Pantun didirikan sejumlah budayawan dan penyair nasional asal Riau, seperti almarhum Al Azhar, Arisandi, Raja Yoserizal Zen, dan Taufik Ihram Jamil. Kesemuanya aktivis Lembaga Adat Melayu (LAM) dan ATL Provinsi Riau.

Kehadiran WAG Kenduri Pantun ditanggapi positif tak hanya oleh para pegiat sastra yang sudah ‘bernama’, tapi juga masyarakat luas dan bahkan para penulis pantun dari negeri jiran. Pantun karya cipta baru pun bermunculan, menghasilkan 2 (dua) buah buku tebal (800 halaman, 4.000 pantun) bertajuk Sehimpun Pantun dalam Kenduri Pantun, disusun dan diterbitkan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau.

“WAG Kenduri Pantun dan kitab antologi itu cuma awal dari gerakan kami menjaga keberadaan pantun di bumi Melayu, Riau khususnya,” ungkap Taufik Ihram Jamil, penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021 kategori pelopor dan pembaharu dari pemerintah pusat, berdasarkan Surat Keputusan Mendikbudristek No 379/P/2021 tanggal 29 November 2021 yang ditandatangani Menteri Nadiem Anwar Makarim.

Sebagaimana diungkap Taufik Ihram Jamil, kehadiran WAG Kenduri Pantun cuma gebrakan awal dari ‘gerakan budaya’ menumbuhkembangkan pantun di tengah masyarakat Melayu Riau. Sejalan dengan itu juga dilakukan pendekatan dan pembinaan ke para puak dan pelaku budaya yang menjadikan khazanah pantun sebagai peranti utama bentuk-bentuk seni yang dilakoninya.

Lomba Seni Berbalas Pantun tingkat sekolah menengah serta kelompok tradisi pun digalakkan Disbud Riau. Juga pembinaan atas grup-grup seni tradisi yang menggunakan pantun sebagai ‘alat ucap’ dan tutur kisah pertunjukannya. Sebut misalnya pertunjukan seni Zapin serta Randai--teater-tari-musik-sastra asal Minangkabau yang sejak lama juga jadi bagian pertunjukan sastra lisan di Riau.

Bentuk-bentuk pertunjukan seni berbasis pantun itu yang dirangkum dan diha­dirkan sebagai materi pokok acara puncak Kenduri Pantun 2021 yang (mengingat situasi pandemi covid-19, dan dengan tetap memberlakukan prokes ketat) dipusatkan di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru. Acara ini digelar berkesinambungan secara daring dan luring dari pukul 10.00 sampai pukul 22.00 WIB.

Rangkaian kegiatan puncak diawali buka lawang (buka pintu) Kenduri Pantun, dilanjutkan dengan dialog podcast ihwal pantun melalui kanal Youtube ATL Riau yang dipandu Alang Rizal, menampilkan pembicara Taufik Ikram Jamil, Raja Yoserizal Zen, dan pembicara jarak jauh (yang dipancartayangkan lewat live channel Youtube ATL Riau) yakni Prof Dr Nik Rakib dari Prince of Songkla University, Pattani, Thailand.

Apa dan bagaimana posisi pantun dalam keseharian geobudaya masyarakat Melayu juga dipertunjukkan pada puncak acara gerakan budaya Kenduri Pantun itu. Para pemantun dari berbagai pelosok Indonesia dan Malaysia unjuk diri berpantun bergantian lewat kanal medsos di televisi. Bahkan malam harinya di panggung utama tampil Gubernur Riau Syamsuar dalam teks panjang berbentuk pantun.

Serbapantun. Begitu yang saya catat dari pertunjukan puncak acara Kenduri Pantun 2021. Sebentuk gerakan budaya yang apik, yang mendorong saya ingin ikutan bikin sebentuk pantun kilat alias karmina:

Miring beruntun jalan si ketam yuyu
Lama bergerak di paya nagari embun
Tak kan hilang pantun dari Tanah Melayu
Selama ada gerakan budaya Kenduri Pantun. (M-4)

BERITA TERKAIT