14 January 2022, 19:45 WIB

Hana Malasan Makin Melek Isu Agraria Berkat Ben & Jody


Fathurrozak | Weekend

KEMUNCULAN film Ben & Jody yang menjadi film ketiga dari waralaba Filosofi Kopi (Filkop) Visinema Pictures, menjadi salah satu film yang dinantikan di awal tahun 2022. Wajar, dua prekuelnya bergenre drama. Sementara di film ketiga ini beralih genre ke laga.

 

Beberapa karakter baru pun dihadirkan di film yang masih disutradarai Angga Dwimas Sasongko ini. Salah satunya karakter Rinjani, perempuan dari masyarakat adat desa Wanareja, yang diperankan Hana Malasan. Dalam cerita tersebut, Rinjani bersama adiknya, Tambora (Aghniny Haque), ikut menolong Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) dari sekapan geng pembalak hutan yang diketuai Aa Tubir (Yayan Ruhian).

 

Bagi Hana, ini adalah debutvfilm laganya. Sebelumnya, ia bermain dalam film-film drama, teranyar Cinta Bete (2021).  “Produksinya berbeda jauh dari drama. Ada aksi reaksi, semuanya belajar dari nol. Aku bahkan latihan seminggu lebih awal dengan Kang Yayan (Ruhian). Mulai dari tahapan aksi reaksi, hingga masuk ke koreonya. Dari yang awalnya seminggu cuma tiga-empat hari, jadi tiap hari supaya lebih luwes dan menyatu sehingga meyakinkan. Dan ternyata nagih,” katanya saat wawancara dengan Media Indonesia di Swiss Belinn Simatupang, Jakarta Selatan, Jumat, (14/1).

 

Syuting di sebuah hutan di Jawa Barat yang didesain untuk menciptakan bubble bagi tim produksi film, menjadi pengalaman baru bagi Hana. Para pemain dan kru harus menyesuaikan ritme sirkadian saat syuting, berjibaku untuk menata ulang latar dengan medan yang kerap kali becek sehabis hujan, serta menjaga fokus di tengah cuaca dingin dan adegan yang riskan cedera.

 

Bagi Hana, film ini juga membuatnya menjadi lebih melek pada isu tersebut yang terjadi di banyak daerah di Indonesia. “Bukan hanya cerita drama laga tapi juga ada pesan bahwa sebenarnya isu ini (konflik agraria) masih banyak terjadi smapai sekarang dan belum mendapat perhatian dari banyak orang. Dengan hadirnya film Ben & Jody, setidaknya bisa menyampaikan itu juga,” katanya.

 

Memerankan karakter yang merepresentasikan situasi masyarakat adat di Indonesia, dilihat Hana sebagai suatu jalan untuk lebih peduli pada isu-isu penggusuran lahan. “Sebenarnya aku dulu juga sudah tahu, tapi kini jadi lebih melek lagi. Dan setelah produksi film ini pun, ketika ke daerah tertentu, bertanya tentang kabar masyarakat. Ya banyak yang mengalami. Tapi belum banyak yang sadar saja. Mudah-mudahan melalui film ini, penonton juga yang awalnya sudah tahu, menjadi lebih sadar, bahwa isu ini ada," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT