12 January 2022, 20:07 WIB

Inilah Ramalan Perubahan Pola Serangan Siber di 2022


Putri Rosmalia | Weekend

Ancaman serangan siber terus meningkat. Seiring kemajuan teknologi, kemampuan para peretas melakukan serangan juga semakin meningkat.

Di tahun 2022, beberapa jenis serangan siber diprediksi akan mendominasi. Selain itu, akan ada perubahan pola-pola serangan. 

Menurut studi yang dilakukan oleh Tim Riset dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky, berikut ini empat tren ancaman siber teratas yang harus diwaspadai, khususnya di negara-negara Asia Tenggara. 

1. Penurunan serangan ransomware yang ditargetkan

Masa pandemi bertepatan dengan munculnya serangan ransomware yang ditargetkan. Di banyak negara, serangan siber terjadi pada sektor paling kritikal serta bisnis yang sensitif terhadap gangguan. 

Beberapa perusahaan dari Asia Tenggara termasuk di antara korban serangan tersebut. Namun, dengan kerja sama internasional yang kuat dan beberapa gugus tugas untuk melacak kelompok ransomware, para ahli Kaspersky percaya bahwa jumlah serangan semacam itu akan berkurang selama tahun 2022.

Salah satunya karena saat ini peningkatan keamanan  dan kesadaran banyak negara telah meningkat. Itu lantaran pengalaman banyaknya serangan terencana yang merugikan di tahun 2021. 

2. Penipuan daring tingkat lanjut dan rekayasa sosial

Salah satu karakteristik warga negara berkembang adalah keingingan untuk mendapatkan perasaan yang aman. Investasi yang besar untuk teknologi, termasuk keamanan siber, dapat menghasilkan perasaan aman secara daring dalam jangka panjang.

Tingkat scam atau penipuan secara daring yang sangat merugikan diprediksi masih akan terus berlanjut. Masyarakat juga perlu mewaspadai scammers yang menggunakan situs bank palsu untuk mencuri rincian perbankan. Begitu juga peniruan identitas terhadap platform e-commerce teratas.

Selain itu, scam dan eksploitasi dengan cara lain seperti SMS, panggilan telepon otomatis, pengirim pesan populer, hingga jejaring sosial juga diyakini masih akan terus bermunculan.

3. Serangan industri kripto dan NFT

Dengan mengamati penyerang canggih dengan sumber daya manusia yang mumpuni, peneliti Kaspersky menyimpulkan bahwa masyarakat tahun akan segera dihadapkan dengan gelombang serangan yang lebih signifikan terhadap bisnis aset dan mata uang kripto.

Bahkan industri NFT (nonfungible token) yang berkembang tidak luput dari sasaran para pelaku kejahatan siber. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa negara-negara di Asia Tenggara memimpin dalam hal kepemilikan NFT, dengan Filipina menduduki puncak daftar dengan 32% mengatakan mereka memiliki aset digital tersebut.

Di antara 20 negara yang disurvei, Thailand (26,2%) menempati peringkat kedua diikuti oleh Malaysia (23,9%). Vietnam berada di peringkat 5 (17,4%) dan Singapura di peringkat 14 (6,8%). (RO/M-2) 

BERITA TERKAIT