02 January 2022, 06:20 WIB

Prioritaskan Percepatan Vaksin Dua Dosis


Fathurrozak | Weekend

SEUSAI tsunami covid-19 akibat kemunculan virus korona varian delta beberapa bulan silam, kini muncul varian baru, yakni omikron. Di Indonesia, jumlah yang terkonfirmasi positif covid-19 varian omikron pun kian bertambah. Per Rabu (29/12), tercatat ada 21 penambahan positif sehingga total terdapat 68 orang positif covid-19 varian omikron. Pendapat beberapa ahli bersandar pada studi awal memang menyimpulkan varian omikron memiliki tingkat penyebaran yang lebih tinggi daripada varian delta.

Pada 2022, tantangan global ialah menghadapi kemunculan varian-varian baru di samping vaksinasi yang juga saat ini masih belum terakses secara adil dan universal. Doktor bidang kedokteran dan kesehatan yang juga ketua Perhimpunan Dokter Indonesia Timur Tengah Iqbal Mochtar mengungkapkan meski beberapa negara saat ini sudah mengimbau warga mereka untuk melakukan booster vaksin, ia memandang Indonesia saat ini masih perlu memprioritaskan vaksinasi dua dosis yang lebih merata ke warga.

Media Indonesia berbincang dengan Iqbal tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada 2022 ini terkait tantangan dari varian-varian baru serta langkah yang perlu menjadi kewaspadaan pemerintah dalam upaya pengendalian pandemi. Berikut petikan wawancara melalui konferensi video pada Rabu (29/12).

 

Pada 2022, apa yang perlu menjadi kewaspadaan lebih agar tidak terjadi lonjakan kasus? 

Setiap ada varian baru, wajar kalau itu menimbulkan rasa cemas dan ini bukan saja terjadi ketika omikron, pada varian-varian sebelumnya juga demikian. Namun, kita tidak boleh terlarut pada fase kepanikan. Yang harus dilakukan ialah kewaspadaan sambil terus berusaha mengidentifikasi bukti-bukti yang ada terkait varian omicron karena memang sampai saat ini bukti-bukti ilmiahnya masih sangat terbatas.

Ada beberapa hal yang harus diselisik. Pertama, apakah varian baru itu menyebar lebih cepat. Ini terkait morbiditas. Karena itu, akan menimbulkan tingkat penyakit yang lebih cepat.

Dari penelitian terkait omikron yang baru ditemukan sekitar tujuh-delapan minggu silam, informasi yang ada menunjukkan indikasi omikron memang berkembang sangat cepat, berpuluh kali lipat dari varian delta. Dari informasi yang ada, penyebarannya bisa dua kali lipat dalam dua hingga tiga hari. Sementara itu, varian delta butuh 10-12 hari untuk penyebaran dua kali lipat.

Di samping kecepatan penyebarannya, apa benar varian omikron lebih mematikan? 

Itu, hal kedua, setelah berbicara tentang kecepatan penyebaran, apakah varian ini lebih berbahaya, parah, atau mematikan. Pertanyaan ini masih kontroversial antara satu laporan dan yang lain. Laporan yang ada di Afrika Selatan, meski varian omikron sudah mendominasi, kenyataannya tingkat hunian rumah sakit tidak meningkat. Bahkan, menurun sekitar 30%-40%.

Dari laporan para dokter yang berhadapan dengan varian omikron, mereka melihat keluhannya ringan, seperti batuk biasa, ingusan, dan badan agak lemah. Sifatnya sangat ringan. Sampai saat ini, yang sifatnya fatal yang menyebabkan hospitalisasi belum banyak. Jadi, walau kecepatannya lebih tinggi dari delta, belum terbukti lebih parah. Akan tetapi, tentu ini sifatnya masih data sementara. Apalagi jumlah sampel yang diteliti belum banyak.

Ketiga, yang sering ditanyakan ialah bagaimana pengaruh varian baru terhadap orang yang pernah terinfeksi. Secara teoritis dan empirisnya, orang yang pernah terinfeksi memiliki antibodi yang bisa bertahan sampai cukup lama. Pertanyaannya, apakah varian omikron bisa menginfeksi kembali (reinfeksi) orang yang pernah terinfeksi? Penelitian menunjukkan bisa. Di AS dan beberapa negara lain, sekitar 70% orang yang terinfeksi covid varian omikron merupakan orang yang pernah terinfeksi sebelumnya. Jadi, omikron berpotensi sebabkan reinfeksi.

Apakah vaksin yang ada sekarang cukup ampuh untuk omikron? 

Itu hal berikutnya, apakah varian baru bisa mengganggu kemanjuran vaksin. Apakah orang yang sudah divaksin dua kali, ketika berhadapan dengan varian omikron, kemanjurannya menurun atau tidak.

Dari studi awal, orang yang mendapat dua dosis vaksin, ketika menghadapi omikron, kemanjurannya berkurang sampai berpuluh kali lipat. Kesimpulan sementara para ahli, dua dosis vaksin tidak cukup menghadapi varian omikron. Karena itu, perlu pemberian booster.

Kelima, apakah varian ini memengaruhi obat covid yang ada. Saat ini, ada dua obat yang disetujui oleh WHO. Ternyata, terhadap varian ini, kemampuan obat belum menurun.

Kesimpulannya, varian omikron ini yang meningkat ialah penyebarannya. Bisa menyebabkan reinfeksi dan menurunkan kemanjuran vaksin. Terkait keparahan, masih bertentangan dan efek terhadap obat-obatan covid belum terlalu berpengaruh.

Varian omikron berdampak pada tingkat keampuhan vaksin, sementara di Indonesia, cakupan vaksinasi belum 80%. Kondisi tersebut bisa menjadi celah terjadinya lonjakan kasus?

Itu berpotensi sekali. Di Indonesia, cakupan vaksinasi baru sekitar 50%. Padahal, kenyataannya ketika dilakukan observasi, laporan yang ada di AS menunjukkan jangankan orang dengan satu dosis vaksin, mereka yang sudah dapat dua dosis vaksin saja, di AS itu, istilahnya babak belur ketika berhadapan dengan varian omikron.

Kalau dilakukan ekstrapolasi ke Indonesia, tentu itu sangat berbahaya. Vaksinasi kita masih sangat rendah. Ketika omikron masuk ke Indonesia dan menyebabkan penyebaran yang sangat cepat, itu akan banyak orang yang mungkin terefek dengan varian omikron ini. Kalau tiba-tiba jumlahnya memuncak, ini akan memengaruhi pelayanan dan kesiapan rumah di fasilitas pelayanan kesehatan.

Sudah terjadi transmisi lokal di Indonesia, semakin memperkuat potensi lonjakan di masa mendatang?

Selama ini, ada dua hipotesisnya. Pertama, yang menyebutkan ini (varian omikron) datang dari luar. Varian ini diidentifikasi di Afrika Selatan (Afsel). Karena itu, banyak negara yang menutup pintu bagi orang-orang dari Afsel, termasuk Indonesia. Sementara itu, WNI ketika masuk Indonesia harus menjalani karantina 14 hari.

Namun, ada hal yang harus diperhatikan. Ternyata WHO menganggap varian ini sudah tersebar ke seluruh dunia. Terlepas dari adanya transmisi dari luar, WHO sudah menegaskan kemungkinan besar banyak negara telah memiliki varian ini. Ini datangnya dari mana, apakah dari luar atau transmisi lokal? Jawabannya, kemungkinan ialah transmisi lokal. Varian sudah ada dan baru diidentifikasi.

Dalam kondisi seperti ini, sudah cukup benar dengan melakukan restriksi yang masuk ke negeri kita. Kemudian, di dalam negeri, hal penting yang pertama ialah menggenjot segera mungkin cakupan vaksinasi kita. Walau banyak varian saat ini, penatalaksanaan sama; 3M dan 3T, dan vaksinasi yang jadi ujung tombak. Vaksinasi bukan saja proteksi untuk individu, melainkan juga pada komunitas.

Jadi, percepatan vaksinasi ialah prioritas utama? 

Menurut saya, yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia ialah penggenjotan vaksinasi. Harus betul-betul ditingkatkan. Ini juga menjadi masalah ketika ada sekelompok orang yang ketakutan dengan omikron lantas menuntut booster vaksin ketiga. Padahal, di Indonesia sendiri yang dosis satu maupun dua dosis masih terbatas.

Harus diakui penatalaksanaan pandemi di Indonesia sudah sangat bagus ditandai dengan positivity rate yang menurun. Jumlah kasus juga menurun walau angka kematian (fatality rate) masih di atas rata-rata global.

Namun, kita perlu belajar dari banyak negara di dunia saat ini. Beberapa negara sebelumnya sudah mencapai hasil yang sama dengan Indonesia, bahkan lebih bagus. Misalnya, India yang sempat menekan positivity rate ke angka yang rendah. Korea Selatan, hampir setahun positivity rate rendah sekali, bahkan di bawah standar WHO. Vietnam, benar-benar terkontrol. Juga Selandia Baru yang bahkan penatalaksanaan pandeminya oleh WHO dijadikan contoh.

Akan tetapi, sejalan dengan waktu, negara-negara tersebut juga mengalami peningkatan signifikan. Kita bisa melihat negara yang berhasil mengontrol kondisi morbiditas dan mortalitas beberapa bulan hingga setahun masih bisa terjadi lonjakan. Jadi, jangan terlena dengan angka-angka yang ada saat ini. Jangan ketika positivity rate turun, angka kasus turun, kita jadi berleha-leha. Itu salah.

Tidak boleh lengah, ya? 

Satu hal yang perlu dipelajari dalam pandemi ialah sifatnya sangat tidak terprediksi. Tidak ada jaminan kalau sudah bisa mengontrol dalam beberapa waktu, kondisi akan terus seperti itu. Akan selalu ada kemungkinan (kasus) memuncak. Penatalaksanaan tidak boleh lengah. Lengah sedikit bisa menimbulkan hal-hal yang lebih serius.

Tingkat kematian atau kefatalan penyakit (fatality rate) di Indonesia masih di angka 3,4% atau 3+ dari 100 yang terinfeksi meninggal. Sementara itu, fatality rate tingkat global berkisar 1,9%. Bagaimana untuk menekan angka tersebut?

Ini terkait dengan banyak hal. Memang tidak bisa secara mudah melakukan generalisasi. Namun, tentu saja yang pertama ialah terkait kesiapan rumah sakit (RS) kita. Orang yang sudah terkonfirmasi positif, kok, bisa meninggal. Harusnya bisa dirawat dengan baik. Ini terkait penatalaksanaan di rumah sakit, bagaimana? Apakah memiliki obat cukup, oksigen cukup, alat-alat ICU yang cukup? Itu termasuk salah satu faktor yang sebabkan fatality rate masih tinggi. Kalau penatalaksanaan dan kesiapan rumah sakit baik, itu bisa ditekan.

Kedua, kecepatan identifikasi kasus positif. Kalau mau menekan fatality rate, pertama harus mempercepat pelacakan. Aktifkan tes dan tracing. Kalau ada yang punya keluhan mungkin flu biasa, bisa langsung diajak lakukan tes. Jadi, bisa melacak orang yang ada pada fase dini. Lakukan tracing, harus bisa tangkap siapa saja yang tes. Tentukan mana yang positif dan tidak. Yang positif, berikan perawatan maksimal.

Dan, tentu cakupan vaksinasi. Tidak saja mencegah covid, tapi juga fungsi pentingnya ialah mengurangi pemberatan penyakit. Karena itu, kalaupun terinfeksi, tidak membutuhkan perawatan RS atau kalaupun masuk RS, tidak butuh ICU.

Fatality rate ini terkait penatalaksanaan sistemis dan komprehensif dari hulu ke hilir. Semua harus baik. Kalau ada satu area yang terjadi kelemahan atau kecacatan, ada hal yang tidak adekuat, angka itu masih akan tetap ada. Saya kira yang dilakukan pemerintah bagus. Yang kita minta ialah mereka meningkatkan penatalaksanaan agar fatality rate bisa ditekan ke angka yang lebih rendah.

Pemerintah sudah mewacanakan soal booster, menurut Anda? 

Merupakan kesempatan bagi kita mumpung angka (omikron) belum melonjak untuk mengintensifkan dua dosis vaksin. Tidak usah fokus ke booster. Dosis satu dan dua saja masih tertatih. Baru sekitar 50% penduduk Indonesia. Artinya, ada sekitar 135 juta warga yang belum terproteksi vaksin. Ini nantinya yang akan menimbulkan varian baru. Kalau penatalaksanaan tidak baik, vaksinasi tidak merata, ketika tidak memenuhi target, berpotensi menimbulkan mutasi dan varian baru.

Sekarang pemerintah memang perlu mempersiapkan stok booster ketiga. Namun, fokusnya di lapangan selesaikan dulu vaksinasi dua dosis. Kita benar-benar harus menggenjot agar dua dosis vaksinasi mencapai 70%-80% penduduk kita. Baru nanti setelah tercapai bisa mulai memperkenalkan booster secara gradual.

Jangan mencurahkan energi (booster) untuk jumlah yang masih sedikit ini (omikron). Ada jumlah yang lebih besar, 50% penduduk yang harus mendapat dua dosis vaksin.

Meski tidak perlu jadi fokus, bagaimana agar kelak saat booster dilaksanakan bukan sekadar terjangkau oleh mereka yang mampu membayar?

Ini jadi bahan perdebatan para ahli etis dunia. Karena vaksin merupakan public goods yang sama dengan pendidikan dan hal-hal yang dibutuhkan masyarakat, sebagian ahli etis menganggap dalam kondisi seperti ini tidak boleh berbayar. Harus gratis. Ini upaya yang harus dilakukan pemerintah agar semua vaksin yang dibutuhkan cukup bisa diberikan ke masyarakat.

Misalnya, nanti ternyata jumlah vaksin tidak cukup atau tidak memadai karena beberapa hal, harus melakukan skala prioritas yang disebut sebagai stratifikasi risiko. Dari situ akan dilihat siapa yang paling berisiko terkontaminasi dengan varian omikron. Siapa di antara kelompok masyarakat yang secara profesi, misalnya, paling berisiko terkontaminasi dan harus berikan prioritas ke mereka.

Termasuk, yang pertama ialah tenaga kesehatan. Aneh kalau mereka melayani orang sakit malah mereka yang tumbang. Selain itu, petugas-petugas publik yang berhadapan dengan orang dalam jumlah banyak. Misal, yang ada di stasiun-stasiun, tempat keramaian, mereka yang bertugas di sana harus diproteksi. Ketiga, orang-orang yang berisiko tinggi. Ada kelompok masyarakat yang risiko terkenanya tinggi, seperti memiliki komorbid, imunosupresi, atau gangguan tekanan darah tinggi dan gangguan sistemis lain.

Yang saya harapkan, vaksin harus tersedia secara universal ke masyarakat Indonesia. Hanya, waktunya ada yang duluan dan belakangan. Tidak bisa ada kelompok masyarakat yang tidak mendapat jatah vaksin.

Soal universalitas vaksin, apakah ketimpangan akses antarnegara menjadi faktor krusial yang berimpak pada tidak kunjung selesainya pandemi ini?

Saya melihat pada sketsa global saat ini ada semacam salah kaprah dalam melihat penatalaksanaan vaksin. Setiap negara itu cenderung memproteksi dan peduli pada negaranya masing-masing atau bisa kita sebut vaccine nationalism.

Mereka berpikir tidak bisa melewati pandemi kalau penduduknya tidak terproteksi. Kalau perlu, tiga-empat dosis, tanpa memperhatikan negara lain.

Sebenarnya, ini konsep yang tidak terlalu tepat. Dalam pandemi, ada satu prinsip yang berlaku: no one is safe until everyone is safe. Walau satu negara memproteksi penduduknya secara ketat dan dengan dosis vaksin berlebih, ketika ada negara tetangga yang belum memenuhi target vaksin, itu berpotensi mengganggu kestabilan yang ada di negara itu karena kita saat ini hidup dalam interkonektivitas yang masif. Terbukti, ketika WHO memberikan target pada akhir September semua negara harus minimal memvaksin 10% penduduknya paling tidak satu dosis, apa yang terjadi? Ada lebih dari 40 negara yang tidak bisa mencapai target. Kalau, misalnya, suatu varian masuk ke negara tersebut, yang katakanlah kurang dari 10% penduduknya baru dapat satu dosis vaksin, varian tersebut akan berkembang secara cepat. Penyakit yang ditimbulkan bisa parah dan mungkin timbul varian-varian baru.

Makanya, dalam analisis saya, pada 2022 yang terjadi ialah pertarungan varian dengan vaksin. Selain bertarung, belum ada penanganan pandemi global yang efektif yang bisa mengalahkan covid. Akan muncul varian-varian baru. Sekarang baru 15. Nanti akan ada varian ke-16, 17, dan seterusnya.

Vaksin akan makin banyak karena vaksin akan didesain dan dimodifikasi untuk melawan varian ini. Sepanjang belum mencapai penatalaksanaan adekuat secara global, bukan saja segmental, akan menimbulkan varian baru. Ini yang jadi momok pada 2022.

Kondisi tersebut tidak bisa digugat secara kolektif di tingkat global?

Pada tingkat internasional, beberapa institusi melakukan berbagai upaya inisiatif. Salah satunya COVAX. Suatu aliansi yang gampangnya, di situ WHO meminta tiap negara diminta menyumbang vaksin mereka. Dari situ, vaksin disumbangkan ke negara-negara berkembang.

Ini upaya WHO untuk membuat vaksin merata secara global ke seluruh dunia. Namun, tetap ada perasaan nasionalisme dari negara-negara yang susah diterabas. Sebagai contoh, di Israel saat ini sudah siap-siap dosis keempat. Jadi, bayangkan Israel sudah siap dosis keempat, sementara negara lain cakupannya 10% saja tidak mencukupi.

Bagaimana penanganan pandemi dan vaksinasi di tempat Anda menetap saat ini, di Qatar?

Saat ini, di Qatar jumlah positivity rate secara umum relatif membaik daripada beberapa waktu lalu. Kemudian cakupan vaksinasinya juga sudah mencapai 100% untuk dosis kedua. Sekarang ini tengah memasuki dosis ketiga. Untuk sementara, yang jadi prioritas ialah orang-orang di garis depan yang bertugas di bidang kritis. Dalam waktu dekat, masyarakat akan dapat dosis ketiga.

Di Qatar, sistem penatalaksanaannya sangat terintegrasi dan satu koordinasi. Leading sektornya ialah menteri kesehatan atau di sini ministry of public health. Begitu menkes tetapkan satu aturan, semua institusi di bawahnya itu ikut, tidak ada yang ngeyel. Ketika menkes memerintahkan semua masjid dan sarana ibadah tutup, ya, benar-benar tutup. Tidak ada yang diam-diam masih melaksanakan kegiatan. Semua patuh. Ini kelebihannya. Mereka benar-benar melaksanakan secara terintegrasi, satu komando berlaku untuk semua.

Aturan juga sangat ketat. Misalnya, ada yang melanggar aturan karantina saja, itu sampai ditahan dan bahkan namanya disebut di surat kabar. Karena itu, orang itu memiliki budaya patuh dengan yang diterapkan pemerintah. (M-2)Fathurrozak

BERITA TERKAIT