19 December 2021, 06:40 WIB

Lestari dalam Fleksibilitas


Fathurrozak | Weekend

FAMILIER dengan lagu LathiSingle kelompok musik Weird Genius tersebut sempat viral di antara pengguna media sosial Tanah Air pada 2020. Lathi dianggap unik karena antara lain memadukan musik elektronik dengan gamelan Jawa.

Weird Genius tentu bukan yang pertama. Jauh sebelumnya, banyak musikus dalam negeri yang mengolaborasikan karya mereka dengan gamelan maupun alat musik etnik lain. Mendiang Harry Roesli, umpama, semasa hidupnya pernah merilis album Titik Api (1976). Album tersebut konon digadang sebagai yang pertama mengusung perkawinan musik progressive rock dengan gamelan Jawa.

Kemudian, ada pula grup fusion jazz seperti Krakatau maupun Karimata yang banyak menyertakan elemen gamelan dalam karya-karya mereka. Album Jezz yang dirilis Karimata pada 1991, misalnya, sarat dengan bebunyian gamelan Jawa maupun gamelan Bali.

Musik gamelan bahkan sempat mendunia ketika elemennya dihadirkan sutradara Peter Jackson dalam film kedua dari trilogi Hobbit. Film tersebut melibatkan kelompok gamelan Jawa, Gamelan Padhang Moncar, yang berbasis di Selandia Baru.

Bicara soal kolaborasi gamelan dengan musik arus utama, dewasa ini seorang komposer tidak perlu memiliki seperangkat gamelan untuk dapat melakukannya. Kini berkat digitalisasi, mulai banyak aplikasi digital yang dapat menghasilkan bunyi bak gamelan asli.

Melihat fenomena tersebut, Prof Dr Timbul Haryono Msc mengatakan musik gamelan tidak terlepas dari dinamika kebudayaan yang dalam perjalanan waktu pasti akan berbaur dengan unsur-unsur budaya lain. “Yang tadinya hanya seperti itu wujudnya, tapi untuk keperluan secara dinamis, hiburan, di masa kini dicampur dengan beberapa alat. Bahkan ada yang membuat gamelan dari bunyinya saja. Bukan bentuk fisik, tapi bunyinya menirukan gamelan, dengan komputer misalnya. Itu untuk ikut melestarikan,” ujarnya.

Ia berpandangan, penggunaan tersebut sah-sah saja lantaran melestarikan gamelan tidak semata dari fisiknya, tapi juga kenonbendawiannya alias bebunyiannya.

Tanpa fleksibilitas tersebut, lanjutnya, bisa jadi akan semakin susah mengajak masyarakat awam untuk turut melestarikan gamelan sebagai warisan budaya dari Indonesia. Apalagi, gamelan tidak dapat dikatakan barang murah. Satu set alat musik ansambel tersebut bisa dihargai puluhan juta rupiah untuk yang terbuat dari besi. Sementara itu, gamelan dari perunggu bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Kalau dipaksakan harus dari bahan ini dan itu, nanti jadi tidak bisa melebarkan pemahaman itu. Wah, berarti mahal, tidak usah sajalah. Orang itu jangan ditakut-takuti dengan fisiknya, tapi kesadaran akan suara, bentuk, dan fungsinya itu,” kata Timbul.

BERITA TERKAIT