19 December 2021, 06:30 WIB

Melanggengkan Hidup Gamelan


Fathurrozak | Weekend

ORGANISASI Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) pekan ini resmi menetapkan gamelan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Keputusan itu diumumkan dalam sidang UNESCO sesi ke-16 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paris, Prancis, Rabu (15/12).

Inskripsi gamelan, yang nominasinya diajukan Indonesia sejak 2019, menjadi warisan budaya ke-12 Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, ada wayang, keris, batik, pendidikan membatik, angklung, tari Saman, tiga genre tari Bali, noken, pinisi, pencak silat, dan pantun yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia oleh UNESCO.

Penetapan oleh UNESCO barangkali bisa menjadi momentum bagi generasi muda untuk menaruh atensi lebih besar terhadap gamelan sebagaimana dulu terjadi pada batik. Perkara itu, Media Indonesia berbincang dengan Guru Besar Ilmu Arkeologi FIB Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Prof Dr Timbul Haryono MSc. Arkeolog yang melakukan penelitian tentang gamelan tersebut antara lain membahas perihal upaya pelestarian gamelan, juga pemaknaan dan perkembangannya dari masa lalu hingga kini masuk dalam percampuran budaya populer. Berikut petikan wawancara melalui konferensi video pada Jumat (17/12).

 

Apa yang perlu digarisbawahi dari penetapan gamelan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO?

Tentu saja ini suatu penegasan dunia lewat UNESCO bahwa gamelan itu kekayaan budaya Indonesia karena yang namanya gamelan itu di seluruh kepulauan dan etnik mengenal dan memilikinya. Hanya, bentuknya memang sesuai dengan etnik masing-masing. Namun, sebagai alat bunyi-bunyian, sudah jelas itu milik bangsa Indonesia dari semua etnik, sejak lama.

Setelah ada ketegasan itu, kita harus tegas-tegas menyambut dengan baik karena diakui dunia, disertai langkah-langkah tindakan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Pertama, tentu usaha pelestarian harus dilakukan, baik pelestarian bentuk alatnya maupun pelestarian pada kekayaan lagu-lagu yang berhubungan dengan gamelan.

Kedua, pengenalan pada semua lapisan masyarakat. Meskipun dunia sudah mengakui itu milik bangsa Indonesia, tidak semua masyarakat kita merasa mempunyai itu. Jadi, secara internal perlu dikuatkan, supaya pengertian dan pemahaman tentang gamelan itu merata. Meratanya itu secara vertikal (dimensi waktu) ataupun secara horizontal (dimensi ruang).

Dimensi waktu itu artinya harus diperkenalkan sejak usia dini sampai dewasa. Dimensi ruang, ya ke semua daerah, diperkenalkan.

Akan sangat bagus jika pemerintah daerah punya kebijakan untuk memberikan seperangkat peralatan gamelan. Kita mendengungkan pelestarian, tapi kalau mereka (masyarakat) tidak tahu barangnya seperti apa, ya sama saja.

 

Seperti apa upaya pemerintah sejauh ini dan apakah sudah ideal?

Sebenarnya tidak bisa mengatakan ideal atau tidak. Namun, secara nyata memang sudah ada usaha-usaha itu. Pertama, di pendidikan yang terstruktur, itu sudah ada. Seperti di perguruan tinggi seni atau pendidikan menengah. Kemudian di pendidikan yang tidak terlembaga, tiap kampung itu juga ada grup-grup atau gabungan kumpulan pegiat gamelan.

Justru di akar rumput itu yang memang harus diperhatikan karena mereka berasal dari daerah masing-masing. Kalau pendidikan kan ya itu sudah terstruktur. Namun, di akar rumput kan kadang tidak terjangkau pendidikan formal. Memang pendidikan formal untuk kesenian itu bisa dikatakan tidak merata. Namun, ya sudah ada bentuk-bentuk (pelestarian) itu.

 

Bagaimana dengan regenerasinya? Masih didominasi para pegiat yang sudah sepuh?

Itu yang penting. Generasi itu kan berubah sesuai dengan waktu atau zamannya yang juga berubah. Sementara itu, kebudayaan itu juga semakin global. Ada pengaruh kebudayaan dan kesenian asing yang masuk Indonesia. Jadi tidak cukup dari golongan yang tua saja. Regenerasi harus dikuatkan.

Dengan mengatakan gamelan ialah bagian dari identitas mereka, para generasi yang lebih muda. Sebagai identitas kultural. Kalau mereka sudah bisa mengatakan hal tersebut bahwa gamelan ialah identitas suku bangsa, itu berarti seluruh lapisan masyarakat sudah memahami. Untuk menciptakan generasi yang betul-betul paham dan mengetahui ini, sejak awal regenerasi, dari masa kanak-kanak sudah diperkenalkan dengan gamelan.

 

Seperti apa pendidikan gamelan untuk anak?

Tepung (kenal), contoh anak-anak kecil diperkenalkan dengan gamelan yang memang secara bentuk dan dibuat secara kecil. Baru-baru ini sudah ada tentang disertasi pengembangan gamelan pada anak-anak dengan bentuk gacil (gamelan cilik). Seperti gamelan pada umumnya, tetapi bentuknya kecil. Anak-anak bisa bermain sendiri sehingga peruntukannya bukan cuma untuk golongan dewasa.

Anak-anak itu harus diperkenalkan melalui perangkatnya, bendanya. Kalau sudah disediakan dan mulai kenal, itu kemudian akan ada tahap berikutnya, srawung. Bersahabat dengan gamelan itu menjadi bagian kehidupan dan berkesenian. Begitu juga dengan generasi muda dewasa dikenalkan dengan diberi pengertian.

 

Apa pembacaan Anda terkait dengan gamelan dengan keterkaitannya daerah di luar Jawa? 

Kalau kita sebut gamelan, ya jangan dispesifikkan gamelan Jawa. Kita sebut gamelan sebagai alat bunyi-bunyian. Semua etnik punya (instrumen) itu sesuai dengan kebutuhan mereka. Kan istilahnya macam-macam, kalau di Jawa gamelan, di Bali gambelan, istilahnya macam-macam. Itu kan kebudayaan, sesuatu yang sudah dilakukan secara bersama, disepakati dan difungsikan masyarakat.

Nantinya juga jangan sampai hanya karena yang disebut ialah gamelan, lalu cuma yang bentuk gamelan Jawa saja. Harus merata. Semua alat bunyi-bunyian dengan ciri khas masing-masing menurut bahasa etnik tertentu, juga diupayakan pelestariannya. Pelestarian itu kan usaha yang umum. Jangan hanya jangkau Jawa. Jangkau juga misalnya Sumatra, Kalimantan, kelompok etnik dan suku tertentu.

 

Bagaimana sebenarnya ihwal kehadiran awal gamelan di Nusantara itu?

Kalau kita berbicara sebagai alat bebunyian dan bagian dari kesenian, gamelan misalnya khususnya untuk Jawa, sebenarnya ini sudah ada pendapat sejak 1800-an oleh sarjana Belanda JLA Brandes (leksikografer). Ia mengatakan bangsa Indonesia, khususnya di Jawa, sudah mengenal 10 unsur kebudayaan yang berasal dari daerahnya. Bukan importasi dari wilayang asing. Dari 10 unsur itu, salah satunya gamelan. Berarti memang dalam pemikirannya itu, gamelan asli Indonesia.

Kebetulan saya bergerak di bidang itu (arkeologi), gamelan ada di dalam prasasti-prasasti. Di prasasti kuno dari abad 8-9, paling tidak sudah ada macam-macam instrumen musik. Ini bibit kawit, ada asalnya perkembangan menjadi bentuk gamelan yang seperti sekarang ini. Seperti gong, kendang, sudah ada sejak zaman kuno.

Dari prasasti abad ke-9 atau sekitar 1.100 tahun yang lalu, itu sudah ada. Ini terus berkembang mengikuti zaman, menjadi lengkap seperti bentuk gamelan yang sekarang kita kenal. Jangan diartikan sejak awal sudah seperti sekarang bentuknya. Kemunculan pertama hanya kelompok instrumen kecil, terutama yang bentuknya perkusi. Ini ditambah dengan bukti-bukti berupa gambar yang ada di dalam relief candi, seperti Candi Borobudur, Prambanan, atau candi di Blitar. Ditambah lagi ada bukti-bukti tertulis tentang hasil kekayaan berupa kitab sastra, itu mulai disebut dalam karya sastra.

Kebudayaan itu berfungsi baik fisik untuk kebutuhan hidup mereka. Namun, juga punya keperluan nonfisik. Gamelan, sebagai alat bunyi-bunyian bukan sekadar untuk hiburan, melainkan juga untuk kelengkapan upacara-upacara ritual. Ini bagian dari kehidupan suku bangsa waktu itu.

 

Apa ada pergeseran pemaknaan sosial maupun kultural gamelan dewasa ini?

Sampai saat ini, gamelan masih punya fungsi sebagai hiburan jelas. Fungsi nonhiburan juga masih. Untuk upacara-upacara ritual, disertai dengan gamelan. Seperti nanggap wayang ritual.

Saat ini, sebenarnya gamelan itu memiliki makna lambang. Bisa kita pakai untuk menjelaskan makna persatuan. Dengan wujudnya yang bermacam-macam, mulai suara hingga bentuk. Kalau semua yang beragam itu dibunyikan secara bersama-sama menurut kaidah tertentu, akan terasa enak. Ini melambangkan agar bangsa Indonesia yang bermacam suara, bentuk, adat, disatukan dengan cara yang sama.

Gamelan itu melambangkan persatuan, berbagai bentuk menjadi satu kesatuan yang kalau didengarkan enak. Kalau dibunyikan sendiri-sendiri atau berbarengan, tapi tidak ada yang memimpin, itu menjadi tidak enak didengar sehingga bisa dimaknai sebagai simbolis lambang persatuan.

 

Selain sanggar dan warga, secara akademik dan eksplorasi barangkali lebih banyak juga dilakukan dunia perguruan tinggi. Peran apa yang bisa mereka ambil untuk melanggengkan hidup gamelan?

Ikut memperkenalkan dan menyebarkan tentang gamelan di pelosok-pelosok. Menyebarkan tentang pengertian juga fungsinya. Menyebarkan kesamaan pandangan tentang gamelan itu sebagai barang peninggalan nenek moyang.

Sekarang ini orang Indonesia sangat beragam, ada yang memandang gamelan itu baik, tetapi ada juga yang memandang tidak baik. Ini dipersatukan dulu. Harus dengan kacamata gamelan sebagai hasil dari kebudayaan.

Melihatnya dengan kacamata kebudayaan, jangan dari aliran apa pun. Dengan demikian, setiap manusia bisa menghormati peninggalan leluhurnya. Itu yang harus dilakukan para generasi muda. Menyebarkan pemahaman itu.

Kemudian sebarkan secara praktisnya. Nah, dalam ranah praktis ini, ada kelompok-kelompok sanggar. Hanya, gamelan itu kan kalau secara satu keseluruhan perangkat mahal. Bisa jadi tidak tiap grup atau wilayah memilikinya. Karena mahal ini, perlu campur tangan pemerintah untuk membantunya. Tidak harus dari gamelan perunggu, misal, mungkin yang ringan seperti besi. Namun, ini ya harus diupayakan dari pemerintah. Kalau masyarakat usaha sendiri, itu sangat mahal.

 

Dengan mengganti materi perangkat, tidak turut mereduksi makna atau nilainya?

Nilai suatu benda itu ada pada materialnya dan pada nilai simbolis. Gamelan jangan dipandang materialnya saja. Itu budaya nonfisik, kemudian budaya yang fisik. Gamelan ada yang dari perunggu, dari besi. Ini semua tidak mungkin dimiliki kelompok desa terpencil karena susah.

Jadi, yang penting bagaimana pemahaman tentang substansi gamelan itu. Adalah alat untuk srawung, bukan tepung saja. Entah alat dari bahan bagus, atau apa, itu terserah si pemilik alat. Ini tidak mengurangi substansi itu. Kalau untuk keperluan ritual itu kan bukan gamelan fisiknya, bukan bendanya, tapi bunyinya.

 

Di era ini, gamelan juga kerap dikolaborasikan dengan musik-musik populer. Apa yang bisa dilihat dari hal ini?

Saya melihatnya itu sebagai budaya. Kebudayaan itu mesti bercampur dengan unsur-unsur budaya lain dan itu dinamis. Yang tadinya hanya seperti itu wujudnya, tapi untuk keperluan secara dinamis, hiburan, di masa kini dicampur dengan beberapa alat. Bahkan, ada yang membuat gamelan dari bunyinya saja. Bukan bentuk fisik. Namun, bunyinya menirukan gamelan, dengan komputer misalnya. Itu untuk ikut melestarikan. Jadi melestarikan tidak harus dipahami fisiknya, tapi melestarikan nonbendawinya itu.

 

Jadi sangat terbuka sekali pemaknaan dan bentuk pelestariannya?

Itu kan tergantung pada fungsi penggunaannya. Tidak apa-apa kalau memang fungsinya seperti itu (bunyi), sementara bentuk aslinya tidak memiliki. Fleksibel. Kalau dipaksakan harus dari bahan ini dan itu, nanti jadi tidak bisa melebarkan pemahaman itu. Wah, berarti mahal, tidak usah sajalah. Orang itu jangan ditakut-takuti dengan fisiknya, tapi kesadaran akan suara, bentuk, dan fungsinya itu.

Kebudayaan itu dinamis. Bisa menerima dari unsur-unsur asing. Kan ada juga wayang kulit modern yang sudah bercampur dengan macam-macam. Karena kebudayaan itu wujudnya ada tiga macam. Ada gagasan pikiran yang ada dalam manusia, ada tindakan seperti ritual dan ada wujud atau benda itu hasil dari tindakan. Gamelan itu wujud tindakan yang berupa wujud gagasan.

 

BERITA TERKAIT