05 December 2021, 05:40 WIB

Ritual Bedekeh Suku Akit


SUROYO |

TRADISI pengobatan tradisional hampir ada di setiap suku di Nusantara, baik yang sifatnya medis maupun nonmedis. Begitu pun tradisi yang ada pada suku Akit di Riau. Oang Akit (orang Akit), demikian masyarakat suku ini kerap disebut, mengenal ritual bedekeh (bedikie, bedeker). Tradisi ini merupakan ritual pengobatan yang sudah berlangsung turun-temurun untuk mengetahui penyebab penyakit dan mengembalikan si pasien menjadi sehat. Semua penyakit, menurut orang Akit, diyakini disebabkan gangguan roh-roh gaib atau antu (hantu), gangguan dari roh para leluhur, serta sakit yang disebabkan orang lain (disantet) dan kutukan.

Suku Akit dan masyarakat pendukungnya telah memiliki pengetahuan lokal (local knowlegde) dan kearifan lokal (local wisdom) dalam mengatasi berbagai masalah, terutama masalah kesehatan dan cara mengobatinya. Pelaksanaan ritual bedekeh merupakan suatu kegiatan yang unik, bersifat khas yang sarat makna, memiliki suatu kekuatan tertentu, mengandung unsur religi, dan mencerminkan identitas diri dari suku Akit yang menggambarkan sebuah kompleksitas sebuah ritual.

Ritual bedekeh merupakan inti kebudayaan yang penting, tidak sekadar sebagai stimulate of emotion, tetapi menjaga keselarasan antarmanusia dan alam semesta. Dalam menjaga keselarasan manusia diingatkan akan hakikat kemanusiaan bahwa ada kekuatan-kekuatan lain di luar kemampuan jangkauan pikiran manusia.

 

Proses ritual 

Ritual bedekeh biasa dilakukan bomoh. Menurut pandangan masyarakat Akit, bomoh ialah seseorang yang memiliki kepercayaan dan amalan-amalan dalam ritual pengobatan atau sebagai seseorang yang ahli dalam penyembuhan penyakit. Selain sebagai ahli penyembuh atau sebagai pengobat (dalam bahasa Akit), bomoh memegang peranan penting, yaitu sebagai pemimpin Akit (batin) dan merangkap sebagai pengendali atau pengontrol dalam proses upacara-upacara adat masyarakat Akit.

Dalam pelaksanaan ritual bedekeh, bomoh mendapatkan tugas dan fungsi masing-masing. Urusan penyakit yang ringan akan diserahkan kepada antan atau bomoh kecik dan apabila dia tidak mampu atau berhalangan, akan diserahkan kepada bomoh menengah (jakrah). Selanjutnya jika jakrah tidak dapat menyembuhkan pasien, batin akan turun langsung memberikan pengobatan. Batin merupakan pemimpin masyarakat sekaligus merangkap pengendali atau pengontrol dalam proses upacara-upacara adat masyarakat Akit. Peranan batin tersebut, antara lain, sebagai pemimpin dalam ritual penyembuhan dan peramal dalam menentukan hari baik untuk pesta pernikahan, pesta kampung, dan sebagainya.

Ritual biasanya dilakukan satu bomoh, yaitu bomoh besar (batin) dibantu seorang satu asisten kepala (pebayu) dan sedikitnya satu pemain drum (bidung). Ketika bomoh mengatakan pasien perlu penanganan khusus, bomoh akan memanggil para pembantu dalam ritual tersebut. Dalam ritual itu hanya bomoh yang bermain peran dan mengendalikan ritual tersebut dan berusaha untuk mengusir roh-roh jahat dari tubuh pasien.

Sebelum pelaksanaan ritual pengobatan masyarakat Akit mempersiapkan segala sesuatu keperluan untuk upacara pengobatan tersebut, seperti beras, kelapa, serta ayam untuk bekal warga yang ikut dalam pelaksanaan ritual pengobatan tersebut. Kemudian rumah tempat upacara pengobatan betul-betul dipersiapkan dengan matang.

Pertama, bomoh duduk bersila menghadap peralatan upacara ritual lengkap dengan sajen. Asisten laki laki dan perempuan mengasapi bomoh dengan kemenyan mulai ujung kaki sampai ujung kepala. Mereka juga mengasapi darah ayam dan ayam persembahan. Begitu pun dengan semua peralatan yang akan dipakai untuk pengobatan.

Setelah itu, asisten mengambil bahan-bahan untuk mengolesi wajah bomoh dengan ramuan yang terbuat dari kapur sirih. Leher, bahu, dada, sampai kaki bomoh diolesi dengan ramuan tersebut. Asisten yang lain segera menabuh gendang dengan alunan perlahan. Bomoh akan berputar dengan didampingi asisten mengelilingi semua peralatan yang ada dengan tetap diiringi tabuhan musik gendang. Tujuan melihat semua peralatan ini ialah segala alat dan sajian dalam upacara ritual itu dilihat atau dikenal roh-roh leluhur, para malaikat, dan dewa-dewa yang akan membantunya.

Aksi selanjutnya ialah melepas baju yang dipakai bomoh untuk diganti dengan pakaian khusus dalam ritual pengobatan. Pakaian pengobatan itu dipakai hanya pada saat acara ritual berlangsung. Pakaian tersebut sebelumnya telah diasapi dengan bakaran kemenyan. Bomoh juga dipasangi gelang kerincing yang berbentuk bulat pada kaki dan tangannya.

Setelah itu memasang daun-daunan (kelulusan). Kelulusan terbuat dari daun kelapa muda, daun-daun muda, atau berbagai daun yang masih muda. Kelulusan itu ditempelkan di kepala, bahu, dada oleh bomoh. Kelulusan ini disebut suku Akit sebagai pakaian para malaikat.

Berikutnya menawar bomoh dengan cara mengasapi kembali ibu jari kakinya, kemudian tangan dan jari-jarinya, mengasapi muka dan seluruh tubuhnya dengan asap kemenyan. Selanjutnya meminyaki rambut dan badannya dengan asam kemenyan, begitu juga gelang digosokkan ke tubuh bomoh. Seluruh alat dan bahan yang dipakai dalam upacara ritual tersebut terlebih dahulu ditaburi dengan bertih (beras).

Langkah berikutnya ialah menghadap bomoh. Acara menghadap ini cukup unik dan agak memakan waktu karena seluruh roh halus dan malaikat serta barang atau alat dipersembahkan kepada roh tersebut supaya ikut menyukseskan upacara ritual tersebut. Tahap menghadap diawali dengan mengambil seekor ayam jantan yang sebelumnya telah disiapkan. Hewan itu dihadapkan kepada bomoh dan diberikan beras. Apabila ayam tersebut mematok beras, itu berarti ‘guru’ telah menerima ritual ditegakkan dan mulai dilaksanakan. Bomoh lalu mulai memanggil kemudian mengajak segala yang dibutuhkan untuk ritual bedekeh. Dalam tahap ritual ini bomoh dan para asisten dalam upacara ritual melakukan gerakan.

Selama bomoh dirasuki roh leluhur, tingkah laku, gerak-gerik, dan suaranya mengalami perubahan atau terjadi trans. Bomoh akan menari, bernyanyi, mencari obat, dan sebagainya tidak lagi sebagai pribadi manusia biasa, tetapi sudah menyatu dengan penguasa alam. Dalam tahap ini bomoh telah menyatu antara alam lahir dan alam halus. Bomoh mengatakan saat inilah alam besar diperkecil, sedangkan alam kecil dihabisi tinggal alam dalam dirinya. Walaupun saat itu orang-orang yang hadir, asisten, atau bomoh lain melihat bomoh menari dan menyanyi, hakikatnya perilakunya tersebut ialah sedang melakukan perjalanan menemui makhluk- makhluk halus dengan menyampaikan pujian-pujian dan permintaan yang akan disampaikan. Dalam hal ini ia meminta obat sebagai penawar penyembuhan bagi si pasien kepada dewa, dengan memakai alat penerang, yaitu lilin yang terbuat dari liur binatang lebah, atau lilin biasa yang dipakai sehari-hari untuk penerangan.

Dalam ritual pengobatan ini, bomoh biasanya akan meminta bantuan kepada roh satu per satu, baik roh tanah maupun roh laut. Setelah roh-roh tersebut diajak berkomunikasi oleh bomoh, biasanya mereka akan memberikan bisikan-bisikan dalam menemukan roh-roh jahat mengenai penyakit pasien yang sedang diobati. Selama ritual pengobatan, bomoh harus menyiapkan dua istana atau rumah-rumahan (balai) untuk roh penghuni tanah dan perahu (lancang) untuk roh laut sebagai persembahan pada mereka.

 

Bantuan roh

Biasanya bomoh akan dibantu beberapa roh. Hal itu akan dilihat dari karakter bomoh yang bisa digambarkan melalui tindakan, pakaian, atau irama tabuhan genderang. Sementara itu, roh-roh tersebut dikuasai dewa. Roh-roh yang datang dalam upacara ritual bermacam-macam, yaitu ada yang disebut roh Islam, roh Melayu, dan lainnya sesuai dengan bahasa yang diucapkan saat roh-roh masuk ke tubuh bomoh. Akan tetapi, yang dianggap paling kuat membantu ritual yang dilakukan bomoh ialah roh bujang. Secara umum, roh bujang itu mempunyai nama sendiri-sendiri, seperti bujang bebas (biasanya bomoh akan menari gembira dan bebas menari apa saja) atau bujang bongkah (bomoh akan semangat mengangkat dengan penuh kekuatan).

Di pihak lain, roh yang memiliki kekuatan supranatural terkuat dalam ritual pengobatan yang ada pada suku Akit ialah roh hulubalang (komandan atau pemimpin perang). Gambaran roh itu terlihat saat bomoh dimasuki roh itu yang diyakini berhasil dalam memerangi roh-roh jahat dengan pisau selama ritual pengobatan. Di kalangan bomoh Desa Hutan Panjang, roh itu dianggap sebagai roh terkuat dalam membantu ritual pengobatan. Roh lain, yaitu roh bumi (di bawah tanah), hidup di bawah tanah. Roh itu mengambil peran penting ketika bomoh pergi untuk perjalanan ke alam lain yang lebih rendah untuk mencari bantuan. Selain beberapa roh tersebut, terdapat roh gendong, yaitu roh perempuan yang ada di darat.

Apabila bomoh dibantu roh gendong, tiba-tiba ia akan mengenakan pakaian perempuan dan menyanyikan lagu-lagu dengan nada tinggi seperti seorang perempuan. Roh itu diakui sebagai watak gambaran dari cerita Gendong yang merupakan cerita rakyat. Roh-roh Datok Tanjung, Bujang Jawa, Datok Sakti, Belayah, dan lainnya ialah roh yang ada di laut. Roh-roh itu merupakan penjaga laut. Selain itu, ada pula roh hewan, biasanya menggambarkan babi hutan yang hidup liar di hutan tropis. Roh hewan itu dianggap sebagai dewa satu, tetapi kadang-kadang bekerja untuk manusia di bawah kepemimpinan roh hulubalang. Bomoh yang dibantu roh itu dalam ritual pengobatan akan berperilaku seperti hewan, yaitu berjalan dengan keempat kakinya, mengaum, dan menjilat tubuh pasien dengan lidahnya.

Berhasil atau tidaknya bomoh memperoleh permintaannya kepada dewa, roh halus, atau malaikat dinyatakan setelah ia sadar dari kerasukan. Pengobatan dilanjutkan dengan meracik limau (jeruk nipis). Untuk hal pengobatan pun banyak macamnya. Ada yang hanya memberikan ramuan, memantrai saja, atau memberikan jimat, pelindung badan, penunduk, ataupun pemanis (laris manis).

Rangkaian ritual biasanya akan dilakukan dua atau tiga malam berturut-turut. Beberapa larangan harus diikuti keluarga tamu dan bomoh. Setelah menyelesaikan serangkaian ritual pantangan, pintu utama tempat ritual tersebut akan ditutup menggunakan daun pandan dari pagi hari sampai dilangsungkan ritual berikutnya. Penutupan pintu ini bertujuan orang-orang atau tamu yang akan menyaksikan jalannya ritual tidak keluar masuk di area tersebut.

Ritual dan prosedur pengobatan yang ada pada suku Akit menyatakan ritual bedekeh oleh bomoh dijumpai dalam dua sistem. Pertama, sistem penatalaksanaan pengobatan dan kedua sistem perawatan kesehatan. Tahap pertama terdiri atas (a) metode pengobatan yang dilakukan, (b) mencari sebab-sebab terjadinya suatu penyakit (mendiagnosis penyakit), dan (c) penentuan sarana pengobatan. Kedua, sistem perawatan kesehatan meliputi (1) penentuan penyebab penyakit dan (2) tindakan terapi ditekankan pantangan-pantangan yang harus dipatuhi si sakit. (M-4)

 

Tentang Penulis

Dr Suroyo: Dosen pendidikan sejarah FKIP Universitas Riau. Anggota Asosiasi Tradisi Lisan Riau.

BERITA TERKAIT