05 December 2021, 05:20 WIB

SUDJIWO TEJO Tafsir Ulang


(*/M-1) | Weekend

SELAIN ikut memandu acara pada Kick Andy episode Indonesia Banget ini, seniman dan budayawan Sujiwo Tejo juga menjadi bintang tamu. Pria yang bernama asli Agus Hadi Sudjiwo ini memiliki darah seni yang kental dari sang ayah, Soetedjo, yang merupakan seorang dalang.

Namun, ternyata Tejo remaja sempat malu dengan profesi sang ayah. Ia bahkan sampai marah dan menghindari hal-hal yang berbau kesenian tradisional Jawa. Hal itu lantaran Tejo belum mengerti keindahan seni tradisi Indonesia dan lebih senang mengikuti aliran banyak temannya yang banyak bermain band.

Namun, takdir pula yang membawa pria asal Jember, Jawa Timur, itu kembali ke akar tradisi. Itu terjadi setelah ia mendengar lakon wayang yang dibawakan salah satu dalang kondang Yogyakarta di radio. Alunan suara gamelan Jawa terdengar sangat indah di telinganya dan Tejo pun langsung jatuh cinta.

Setelah tamat SMA, Tejo melanjutkan pendidikannya di Jurusan Matematika dan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung. Selama kuliah, Tejo selain menjadi penyiar radio kampus, ia juga belajar bermain teater. Tejo yang membuat himne jurusan untuk orientasi studi pada 1983 ini lalu mendirikan Ludruk ITB bersama budayawan Nirwan Dewanto. Pada 1981-1983, Tejo menjabat Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di ITB.

Selepas kuliah, Tejo sempat bekerja sebagai seorang jurnalis selama delapan tahun di harian Kompas. Kecintaannya terhadap dunia seni membuatnya banting setir menjadi penulis, pelukis, pemusik, dan dalang wayang. Pria yang identik tampil dengan busana jas dan kain ini menciptakan sendiri lakon-lakon wayang kulit, salah staunya berjudul Semar Mesem (1994).

Selain mengajar di Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) sejak 1997, Tejo juga kerap memberikan workshop teater ke berbagai daerah di Indonesia. Dia juga memelopori berdirinya Jaringan Dalang yang bertujuan memberi napas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Puncaknya pada 2004, dia beserta rombongannya berhasil melakukan misi kesenian berkeliling Yunani sambil mendalang.

Sebagai dalang, Tejo melakukan kegiatan menafsir ulang cerita wayang yang juga dia bukukan, seperti Tejo menceritakan bagaimana Shinta jatuh cinta pada Rahwana yang memang menjadi takdirnya. Dengan melakukan tafsir ulang tersebut, Tejo mengaku bahwa sampai sekarang masih banyak anak-anak muda yang suka wayangnya. Maka dari itu, dia mengatakan perlu bagi seniman untuk mengembangkan dari dasar yang sudah ada.

"Tujuan untuk menegaskan kembali bahwa seniman itu beda sama museum. Dua-duanya diperlukan, museum harus mempertahankan keaslian. Seniman mengembangkan dari dasar yang asli itu," katanya.

Tejo juga berpendapat bahwa suatu kerugian jika anak-anak muda tidak menjaga dan mempelajari tradisi yang ada sebab memang secara alamiah jika anak muda melakukan pencarian prinsip hidup. Seni budaya dan tradisi kita akan membantu menemukan pencarian itu karena memang banyak mengandung filsafat dan nilai hidup. “Tidak mempelajari tradisi itu seperti terus berusaha sebaik mungkin untuk menemukan roda, padahal roda sudah ada,” ujarnya.

Di sisi lain, ia sepakat jika inovasi harus dilakukan dalam melestarikan seni tradisi, termasuk lewat membuat penafsiran-penafsiran baru. Hal itu agar seni tradisi tetap dapat dinikmati semua kalangan. Hal itu pula yang membuat Tejo ikut ambil bagian dalam film Gundala Putra Petir karya Joko Anwar yang diadaptasi dari komik karangan Hasmi Suraminata. Ia memainkan Ki Wilawuk, musuh kuat Gundala. Tejo juga sedang menggarap cerita Ratu Kalinyamat bekerja sama dengan Bakar Production.

BERITA TERKAIT