03 December 2021, 06:36 WIB

Sejumlah Perupa di Jabodetabek Gelar Pameran Tunggal Serentak


Galih Agus Saputra | Weekend

Jejaring budaya Bosen2020 menggelar 'Parade Pameran Tunggal 51 Perupa'. Parade itu dimulai sejak Kamis, 2 Desember 2021 hingga 2 Februari 2022 mendatang dengan ratusan karya meliputi lukisan, skesta, drawing, keramik, instalasi, patung, digital video art, dan lain sebagainya.

William Robert yang menggagas Bosen2020 sejak awal pandemi covid-19 mengatakan, pameran kali ini berawal dari kebiasaannya mengunjungi para perupa di ruang kerjanya masing-masing, yang tersebar di berbagai wilayah Jabodetabek. Menurutnya, pada masa tersebut para perupa tidak kehilangan semangat, bahkan terus melahirkan karya meski dalam keadaan terbatas.

Maka dari itu pula, kata William, pameran ini sengaja dirancang untuk menampilkan kepada publik mengenai ketangguhan para seniman di masa pandemi. Berbagai kegiatan seperti lokakarya, bincang dengan para seniman, webinar, peformance art, dan lain sebagainya turut diadakan untuk mengundang apresiasi publik selama dua bulan berlangsungnya pameran.

"Pameran ini bisa diakses secara langsung di venue tiap pameran di berbagai tempat, 51 ruang pamer. Selain para apresiator bisa melihat pameran ini secara langsung, gelaran seni rupa ini juga bisa diapresiasi secara online. Event ini berbeda dengan program open studio, meskipun sebagian besar perupa menghadirkan karya-karyanya dalam sebuah pameran tunggal di studio masing-masing. Setiap seniman menyelenggarakan pameran tunggal, selayaknya sebuah pameran di ruang pamer lainnya," terangnya, saat konferensi pers di Weichert Art Studio, Ragunan, Rabu, (1/12).

Bagi Pengamat Seni Rupa, Melani Setiawan 'Parade Pameran Tunggal 51 Perupa' ialah gelaran yang cukup menakjubkan dan telah menjadi rekor. Pasalnya, di penghujung menurunnya pandemi covid-19, kerinduan para perupa untuk berekspresi dapat terwujud kembali.

Selain itu, lanjutnya, parade pameran seni rupa seperti kali ini  belum pernah terjadi di Indonesia. "Kabarnya William datang satu-persatu ke rumah seniman secara santai, tidak dengan cara kurasi yang terlalu banyak wacana. Seniman diberikan kebebasan untuk memberikan pengalaman tunggal ala senimannya sendiri. Masing-masing poster dan publikasi lainnya dikoneksikan melalui jejaring online dengan saling mengikuti media sosial masing-masing," imbuh Melani.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid mengatakan ide untuk menggagas 'Parade Pameran Tunggal 51 Perupa' ini cukup luar biasa. Dalam satu setengah tahun belakangan, katanya, banyak sekali kegiatan kesenian yang terhenti. Oleh karena itu adanya 'Parade Pameran Tunggal 51 Perupa' telah menjadi ruang publik yang mempertemukan kembali para perupa.

"Dengan begitu, kita bisa terus menjaga ikatan di antara kita. Kita bisa tetap menghadirkan karya secara bersama, walau dalam ruang fisik yang berbeda. Pameran di masing-masing studio ini juga akan menjadi bukti bahwa pameran tidak selalu berada di galeri atau ruang pamer yang mewah, tapi bisa di studio masing-masing atau lingkungan setempat. Dan apa yang sekarang menjadi siasat untuk mengatasi keterbatasan karena Covid-19, mungkin di masa mendatang akan menjadi pola yang baru," terangnya.

Salah satu perupa yang berpartisipasi dalam perhelatan kali ini, Adikara menggelar pamerannya di Studio Adikara, BSD, Tangerang Selatan. Dalam pameran tersebut, ia mewajibkan pengunjung untuk menjalankan protokol kesehatan, dan hanya memberi kesempatan bagi empat orang dalam setiap sesi kunjungan. Adapun sesi kunjungan tersebut dibuka pada pukul 13.30-17.00 WIB, setiap Sabtu hingga Selasa.

Menurutnya, pameran kali ini terselenggara atas dasar apa yang dimiliki para perupa. Masing-masing perupa mungkin akan menggelar pameran di studio besar atau kecil, namun dalam hal ini bukanlah fisik yang menjadi tolok ukurnya.

"Tetapi bagaimana soal nilai kesenian setiap orang itu diperlihatkan kepada publik. Paling tidak ke masyarakat sekitarnya. Apa yang dapat kita harapkan dari situ sebenarnya adalah seni bagian dari publik. Kalau saya kembali ke teori-teori lama, seni hanya untuk seni, saya katakan tidak sekarang. Seni untuk masyarakat. Seni untuk lingkungan. Seni untuk penyembuhan atas ketertekanan ini," imbuh perupa, yang mengemas pameran tunggalnya dengan tema 'Garis-Garis Saban Hari' tersebut.(M-4)

BERITA TERKAIT