02 December 2021, 06:25 WIB

Yuk, Menjelajah Hutan di The Lost Jungle


Nike Amelia Sari | Weekend

UNTUK mengenalkan pentingnya menjaga lingkungan hidup, Museum Macan membuat program menjelajahi hutan maya bertajuk Tromarama: The Lost Jungle (Hutan Yang Hilang). Melalui pengalaman ini mereka mengajak anak-anak untuk mengenal bagaimana keanaekaragaman flora dan fauna hingga interaksi yang terjadi di alam. Ruang Seni Anak ini akan dibuka untuk publik mulai 4 Desember 2021 hingga 15 Mei 2022.

Tromarama: Hutan yang Hilang ialah komisi ruang seni anak museum macan UOB, sebuah komisi dari perupa yang ditujukan untuk anak-anak dan keluarga. Tromarama merupakan kolektif perupa yang dibentuk oleh Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena pada 2006.

Pengalaman virtual ini bersifat edukatif dan interaktif. Anak-anak dapat menciptakan dan mengkreasikan mahkluk imajiner mereka sendiri yang terinspirasi dari hewan-hewan yang terancam punah di dunia nyata. Mereka juga dapat berkreasi menciptakan makhluk imajiner melalui website Museum Macan dengan mudah dari rumah dan mengantar makhluk imajiner tersebut masuk ke hutan digital di galeri Museum Macan.

Selain itu, anak-anak juga dapat mempelajari binatang-binatang yang ingin mereka buat dengan mengakses situs Tromarama: The Lost Jungle Museum Macan, yang berisi informasi tentang binatang-binatang dari booklet panduan arsip Hutan Yang Hilang.

"Di arsip fauna ada berbagai infomasi hewan-hewan mulai dari fakta-fakta menarik, habitat, foto asli dan ilustrasi yang nantinya anak-anak bisa membuat di lembar mewarnai sehingga ini menjadi komunikatif, edukatif, dan informatif. Proyek ini menumbuhkan kesadaran akan keanekaragamana hayati, alam, manusia dan teknologi," jelas Nin Djani, Kurator Edukasi dan Program Publik, Museum Macan dalam konferensi pers virtual Ruang Seni Anak, Tromarama: The Lost Jungle, Rabu (1/12).

Lebih lanjut, dia mengatakan materi arsip fauna juga dilengkapi dengan dua bahasa alias billingual untuk memudahkan anak-anak belajar mempelajari hewan-hewan yang terancam punah. Selain itu, anak-anak juga dapat mengekplorarasi lebih jauh terkait hewan-hewan tersebut dengan menjelajahi sumber-sumber informasi yang telah dicantumkan di arsip tersebut.

Dalam menciptakan karya ini, Tromarama bekerjasama dengan sejumlah pakar biologi dalam meneliti hubungan manusia, alam, dan teknologi. "Anak-anak bisa mendapatkan pengalaman virtual interaktif lewat makhluk imajiner yang mereka kreasikan. Selain itu, anak-anak juga dapat menyimpan makhluk imajiner mereka melalui hape ataupun laptop," ujar Ruddy Hatumena.

Karya The Lost Jungle ini juga menggunakan sofware yang bisa mengambil data cuaca secara relevan dari satu website perkiraan cuaca mulai dari data kecepatan angin, arah angin, curah hujan hingga tingkat kepadatan awan. Dengan begitu, setiap data ini dapat mengaktivasi apa yang akan terjadi di dalam hutan virtual. Misalnya, data kecepatan angin akan mempengaruhi pergerakan makhluk partisipan di dalam hutan. Lalu, data arah angin akan mengatur sudut mata kamera alias mata kita sebagai penonton saat menjekajah hutan. Selain itu, data curah hujan dan tingkat kepadatan awan juga akan mengatur cuaca di dalam hutan. Secara keseluruhan, kondisi di dalam hutan virtual akan mengikuti seperti kondisi cuaca yang nyata terjadi di Kota Jakarta.

Ruang Seni Anak, Tromarama: The Lost Jungle ini memiliki tujuan untuk dapat memberikan imajinasi dan mengembangkan pola pikir kritis dari kreasi seni rupa yang dibuat anak-anak. Selain itu, mereka dapat mengetahui bagaimana hubungan antara manusia, alam, hingga teknologi.

Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat di akun sosial media Museum Macan dan website Museum Macan di www.museummacan.org. (M-4)

BERITA TERKAIT