25 November 2021, 20:15 WIB

Perubahan Sederhana untuk Selamatkan Iklim


Nike Amelia Sari | Weekend

KRISIS iklim yang terjadi membutuhkan semua orang untuk bergerak, termasuk anak muda. Untuk membangun kepedulian generasi muda itulah Empu Sendok Arts Station (ESAS) mengadakan diskusi Good Society soal iklim, pada Rabu (24/11).

Bertajuk bertajuk Makan Es Krim Rasa Nangka, Krisis Iklim Asli Gak Nyangka!, diskusi yang digelar daring itu menghadirkan sejumlah pembicara. ESAS sendiri merupakan sebuah forum pertemuan pikiran dan pertukaran ide untuk memperkaya kualitas hidup dan mengembangkam sumber daya manusia lewat diskusi dan kegiatan yang menarik dari seni, spiritual, ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tujuan meningkatkan pengalaman manusia. 

Pendiri sekaligus fasilitator ESAS, Felia Salim mengatakan bahwa kegiatan diskusi tersebut mengarah kepada pencarian solusi yang dapat menginspirasi untuk bertransformasi kedepannya dalam masalah krisis iklim. "Kita sudah cukup lama menggeluti sustainability dan krisis iklim, makanya kali ini kita pikir bagaimana kita tidak lagi  membicarakan masalah krisis iklim yang sedikit menantang dan kadang agak mengerikan. Kalau kita berpikir dari perspektif berat dan sulit mungkin orang sudah tidak ingin lagi memberikan perhatian," kata Felia saat diskusi Good Society yang digelar secara virtual, Rabu (24/11). 

Dalam acara diskusi ini CEO dan salah satu pendiri The Balu Curator, Cecile H.M. Schimmel mengatakan jika kepedulian iklim bisa dilakukan dengan cara sederhana. Contohnya adalah dengan memilih fesyen yang ramah lingkungan, misalnya yang menggunakan pewarna alam. 

Pendiri Refora (Mahayana) Permaculture, Andhana Adyandra menjelaskan soal pertanian yang lebih ramah lingkungan. "Permaculture merancang sebuah sistem yang berkelanjutan. Kami membuat agroforest dengan sistem sustainable. Dengan agroforest kita bisa menjadikan bahan bakar dari pohon seperti pohon aren. Pohon aren yang menghasilkan nira yang dapat difermentasi dan disuling menjadi cap tikus. Cap tikus ini mengandung etanol yang bisa dijadikan bahan bakar," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa dengan konsep agroforest ini dapat menghemat lahan karena tidak dibutuhkan lahan yang baru untuk menanam tanaman yang sejenis lantaran dapat ditanam tanaman yang kompleks. "Di Indonesia, beberapa orang sudah melakukan agroforest seperti kebun rumahan di Jawa yang menanam beberapa tanaman, ada pohon rambutan, nangka, duren dan lainnya. Jadi, itu sudah agroforest," tuturnya. (M-1)

BERITA TERKAIT