21 November 2021, 05:05 WIB

Jason Surya Tamin Kecil-Kecil Jago Bisnis


NIKE AMELIA SARI |

JIKA dilihat dari akun Instagram @tangkitchen.id yang berpengikut lebih dari 13 ribu, usaha kuliner ini bisa dibilang cukup sukses. Tidak hanya itu, baru dimulai saat pandemi melanda, Tang Kitchen yang berbasis di Surabaya telah memiliki dua toko luring dan menu yang terus bertambah. Dengan berawal dari siomai, kini usaha itu juga telah menyediakan berbagai menu dimsum dan bakmi.

Yang makin membuat kagum ialah tokoh sentral usaha tersebut bocah yang kini masih berusia 14 tahun. Jason Surya Tamin, sosok anak muda yang kartun dirinya juga menjadi logo usaha tersebut, mengawali cikal bisnis dari kegiatan keluarganya saat awal pandemi.

Saat hadir sebagai bintang tamu Kick Andy episode Bisnis si Kecil yang tayang hari ini di Metro TV, Jason menuturkan, di awal pandemi, keluarganya kerap memasak siomai bersama akibat kegiatan luar rumah yang terbatas. Dari situ timbul ide Jason untuk berjualan siomai daring.

"Awalnya jualan siomai online dan ada yang berminat akhirnya pesan dan ternyata enak. Awalnya kita ngirimnya enggak pake packaging yang beneran," imbuh pelajar kelas 3 SMP itu.

Karena menjadi anak ayah seorang pebisnis kecap, Jason mengaku sudah terbiasa memiliki ide bisnis sejak kecil. Anak bungsu dari dua bersaudara itu melakoni bisnis jastip di usia 11 tahun. Ide bisnis itu muncul dari ruang bagasi yang belum termanfaatkan saat ia jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarga.

"Usaha bidang kuliner ini dimulai saat Jason umur 13 tahun. Tetapi, dalam minat bisnis, Jason sudah mulai dari umur 11 tahun. Waktu itu, mulai dengan usaha jasa titip. Jastip ini berawal dari Jason yang ke luar negeri bareng keluarga, ruang sisa bagasinya pasti ada dan itu bisa buat barang-barang dagangan," paparnya.

Jason mengaku, meski ide bisnis kuliner berawal darinya, ia tidak sendiri dalam menjalankan bisnis. Permodalan bisnis pun diakui berasal dari orangtuanya.

"Modal awalnya dengan packaging dan logo-logo masih kecil sekitar Rp10 juta karena awalnya masih sistem PO (pre-order) dan tidak butuh sebuah gerai saat itu," jelas anak kelahiran 23 Maret 2007 itu. Peran sang ibu pun krusial di bidang pemasaran hingga kini. Sang ibu pula yang menangani komunikasi WA dan DM Instagram jika Jason sedang bersekolah.

Soal gaji sang ibu, Jason menjawab dengan kelakar. "Kalau Mama, saya gaji dengan kasih sayang," candanya.

 

Inovasi

Meski didukung penuh oleh orangtua, Jason tidak sekadar mendompleng. Ia menunjukkan kerja keras dengan melahirkan inovasi.

Tak hanya itu, Jason sempat membuat ide brilian dengan mengirimkan pesanan kepada pelanggan lewat drone. Tak disangka, inovasi yang dilakukannya justru viral dan akhirnya sukses besar. Ide itu diadaptasi dari Amazon, perusahaan asal Amerika yang juga menerapkan pengiriman barang menggunakan drone.

Menurutnya, penggunaan drone dapat menghindari kemacetan dan mengurangi kontak fisik antara penjual dan pembeli. Namun, untuk sementara ini, layanan antar dengan drone hanya mencakup radius 3 kilometer dari restoran.

Karena menyadari diri yang masih hijau dengan pengalaman bisnis, Jason pun berupaya terus menambah ilmu dengan bergabung ke Asosiasi Pengusaha Kuliner Indonesia (Apkulindo). Di sana, ia menjadi anggota termuda.

Lewat perkumpulan itu, Jason pun bisa menggali berbagai ilmu untuk terus melebarkan bisnis. Hasilnya, bisa dilihat sendiri, mulai bentuk layanan, menu yang beragam, hingga pemasaran dan pencitraan yang didukung tokoh-tokoh penting. Beberapa hidangan yang sesuai dengan tren kekinian ialah ricebowl, beef yakiniku, dan kudapan berupa pie.

Berkat dua gerai yang telah dimilikinya, Jason pun mengantongi penghasilan yang cukup besar. Selain ditabung, sebagian penghasilan dialokasikan Jason untuk kegiatan sosial.

"Beberapa ditabung sendiri, beberapa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi Jason selalu sisihkan 10% dari penghasilan Tang Kitchen untuk donasi," imbuhnya. Meski masih belia, ia menyadari kegiatan sosial sudah menjadi keharusan dari bisnis. Kesuksesan dinilainya bukan hanya soal materi.

"Sukses yang sebenarnya itu ketika keberhasilan tidak hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Soalnya, Jason juga ada prinsip I am happy when I am can be useful for others," paparnya.

Pada Mei 2020, Jason mendonasikan hasil penjualannya untuk masyarakat terdampak oleh pandemi. Bahkan, dia menyerahkan bantuan tersebut langsung kepada Wali Kota Surabaya di kala itu, yaitu Tri Rismaharini. Donasi itu digunakan untuk pembelian APD, masker, dan sebagainya.

"Awal-awalnya itu, Jason pakai semua dari penghasilan Tang Kitchen saat itu untuk beli masker sama APD. Soalnya di waktu itu, Jason juga melihat berita kalau tenaga medis kekurangan masker dan APD," kenangnya.

Di umur bisnis yang masih singkat ini Jason menilai tantangan terberat ialah mengelola waktu dan menghadapi haters. Kemajuan bisnisnya kerap dianggap disebabkan faktor keluarga yang kaya.

"Awalnya Jason pernah nangis, haters bilang misalnya, 'Privilege kamu anak orang kaya', tapi mereka tidak tahu kalau Jason sudah berjuang banget," kenangnya. Sebagai remaja, Jason mengaku cercaan itu sampai membuatnya menangis dan terpuruk selama dua hari.

Ia bahkan sempat ingin mengakhiri bisnis jika tidak mendapat semangat dari keluarga. Jason juga bangkit karena belajar dari pengalaman teman-teman pebisnis yang kerap dianggap hanya memanfaatkan faktor keluarga. Kini Jason telah belajar bahwa cercaan ialah juga bagian dari tantangan berbisnis. Ia kini lebih berupaya fokus untuk tidak cepat berpuas diri dan terus berupaya mengembangkan bisnisnya. (M-1)

BERITA TERKAIT