19 November 2021, 06:00 WIB

Claire Holt, Sejarawan Seni Yang Kesengsem Tari Jawa dan Bali


Galih Agus Saputra | Weekend

Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) tahun ini kembali digelar secara daring. Memasuki usianya yang ke-10, BWCF Society mengemas rangkaian acaranya dengan tema 'Membaca Ulang Claire Holt: Estetika Nusantara, Kontinuitas, dan Perubahannya', mulai 18 hingga 21 November.

Kurator BWCF, Seno Joko Suyono dalam pembukan BWCF 2021 mengatakan festival kali ini mengambil pijakan magnum opus Holt, Art in Indonesia: Continuity and Change (1967). Tema dipilih untuk membicarakan estetika Nusantara sejak gambar gua cadas di zaman pra sejarah, sampai seni rupa modern, dan seni pertunjukan kontemporer Indonesia.

"Claire Holt merupakan saksi mata bagi pertumbuhan seni rupa modern Indonesia. Ia mewawancari banyak maestro seni rupa Indonesia ketika masih muda. Dari Almarhum Hendra Gunawan sampai Affandi," tutur Seno.

Sebagai pembukaan, lanjut Seno, BWCF 2021 menampilkan Pidato Kebudayaan Mantan Direktur French Cultural Center (IFI) Yogyakarta, Jean-Pascal Elbaz tentang Holt, termasuk persahabatannya dengan Arkeolog, WF Sttuterheim dan Epigraf, Louis Charles Damais dalam memahami Indonesia kuno. "Dari pidato Pascal, kami berharap akan didapat gambaran utuh siapa Claire Holt dan bagaimana ia melakukan penelitian di Indonesia," imbuhnya.

Holt sendiri yang juga menulis laporan berkala untuk Office of Strategic Services Amerika Serikat (kini CIA), pertama kali tiba di Indonesia pada 1930an. Menurut Pascal, yang mengutip perkataan Indonesianis Cornell University, Benedict Anderson, Holt ialah perempuan multidisiplin. Kehidupannya sangat bervariasi dan menarik, karena ia menjalani sebagian besar abad 20.

Holt kecil lahir dengan nama Claire Bagg pada 1901 di Riga, Latvia. Pada 1914, keluarganya mengungsi ke Moskow, dan dari situ ia mulai belajar tari bersama guru di sekolah. Pada usia 20, ia kemudian pindah ke New York, dimana masa itu dianggap sebagai masa penting dalam sejarah modern karena banyak sekali seniman yang muncul di New York, atau yang kata Pascal, sama dengan keadaan yang terlihat di Jakarta pada 1950an.

Semasa di New York, Holt memulai karirnya sebagai jurnalis dan kritukus tari sekaligus belajar mematung di studio Alexander Archipenko, pematung kontemporer Amerika kelahiran Ukrania. Pada Mei 1929, suaminya tewas karena kecelakaan dan setelah itu ia memutuskan kembali ke Riga bersama anaknya.

Angelica Archipenko, seniman dan juga istri Alexander Archipenko kemudian menjenguk Holt di Latvia. Pada kesempatan itu pula ia mengajak Holt berkeliling dunia. Pada Maret 1930 mereka kemudian tiba di Bali, hingga mengenal lingkungan intelektual dan seniman. Beberapa yang dikenal ialah pelukis Walter Spies, termasuk Sttuterheim, yang meneliti candi serta kebudayaan bendawi kuno Nusantara, dan kemudian menjalin cinta dengan Holt.

"Tapi yang paling penting untuk Claire Holt, selain mendapat kekasih. Di sini ia mendapat pencerahan tentang seni tari. Dalam buku pertama Claire Holt, dia bilang pertama kali melihat tari di suatu pura di Bali, 'saya katakan kepada diri sendiri, di sini lah saya bisa melihat tari yang hidup," ujar Pascal.

Holt yang mulanya hanya ingin singgah selama dua minggu di Bali, pada kesempatan selanjutnya justru menetap selama sembilan tahun di Jawa bersama Stutterheim. Suatu ketika, dia pergi ke Mangkunegaran di Solo. Kala itu, dia melihat drama tari dan mengaku terkejut karena ada satu gaya menari yang tak kenal kompromi, efektif dan indah. Dari situ lah ia kemudian semakin giat belajar menari bersama Mangkunegara VII.

Kegiatan belajar menari Holt juga berlangsung di Yogyakarta. Kala itu, gurunya ialah penari klasik Jawa, Pangeran Ario Tedjokusumo. Proses belajar menari Holt bersama putra Sultan Hamengkubuwono VII itu berlangsung di sekolah tari Krido Bekso Wiromo yang didirikan pada 1918.

Pangeran Ario Tedjokusumo tidak hanya dikenal sebagai guru tari, akan tetapi juga salah satu mentor Holt berkenaan dengan kebudayaan Jawa. Sepanjang 1936 hingga 1939, Holt lantas menemukan gaya menarinya sendiri yang disebut 'Lecture Performance'. Dalam gaya ini, Holt biasanya akan mengajar sekaligus mencontohkan sendiri berbagai gerakan tari Jawa dan Bali.

"Lecture Performance itu nantinya akan sangat laku, karena dia menjalankan tur di seluruh dunia. Jepang, Inggris, Perancis, dan tentu saja Amerika. Ketika 1939 ia tiba lagi di Indonesia untuk merekam dan mengumpulkan tari, ia tidak lagi hanya di Jawa dan Bali, tapi keliling daerah seperti Toraja, Sumatera, dan Nias," imbuh Pascal.

 

BERITA TERKAIT