14 November 2021, 05:20 WIB

Sapta Kunta Purnama Saatnya Didirikan Sekolah Atlet Disabilitas


PUTRI ROSMALIA | Weekend

PADA Paralimpiade Tokyo 2020, sejarah besar tercipta berkat dua medali emas dari tim parabulu tangkis. Medali emas yang diperoleh di nomor ganda putri oleh Leani Ratri Oktila/ Khalimatus Sadiyah dan di nomor ganda campuran oleh Leani/ Hary Susanto mengakhiri puasa 41 tahun medali emas di ajang olahraga disablitas tertinggi di dunia itu.

Pada Pekan Paralimpiade Nasional XVI Papua 2021, sejumlah rekor nasional diciptakan. Tidak hanya berkat kegigihan para atlet, kemajuan prestasi olahraga disabilitas juga ditentukan dari kualitas pelatih hingga infrastruktur olahraga. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai ekosistem olahraga disabilitas di Indonesia, Media Indonesia berbincang dengan Sapta Kunta Purnama yang menjadi pelatih sekaligus manajer parabadminton Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020 sekaligus Wakil Ketua Panitia Pengawas dan Pengarah Pekan Paralimpiade Nasional XVI Papua 2021, Rabu (3/11).

Berkecimpung sejak 1989 membuat Sapta tahu betul bagaimana ekosistem olahraga untuk disabilitas di Indonesia saat ini. Berikut petikan wawancaranya:

Setelah puasa 41 tahun akhirnya Indonesia bisa meraih emas di Paralimpiade. Sebenarnya faktor penting apa yang bisa menghasilkan perubahan besar ini?

Sejak menjadi tuan tumah ASEAN Para Games 2011, pemerintah semakin memberi dukungan untuk mengikuti multievent para games internasional. Maka kontingennya jadi lebih banyak dan lebih serius untuk berlatih dan dibina agar lebih bisa berprestasi dan dimaksimalkan potensinya.

Sebenarnya banyak cabang olahraga untuk disabilitas lain yang juga memiliki potensi besar, tapi memang harus diakui pengembangan potensinya masih terbatas. Sekarang ini jumlah cabor yang dibina baru ada 22 cabor. Itu pun dengan fasilitas yang masih terbatas dalam berbagai aspek.

Sekarang memang bulu tangkis menjadi yang paling sering menyumbang medali. Itu karena secara umum ekosistem bulu tangkis di Indonesia sudah sangat baik. Orang-orang juga banyak yang mau lebih serius di sana. Fasilitas dan sebagainya sudah jauh lebih terdukung.

Bagaimana secara umum ekosistem olahraga paralimpik di Indonesia?

Sekarang kondisinya setelah 2011 itu semakin baik. Apalagi setelah kita pada 2013 menjadi juara umum di Asia Tenggara. Dukungan untuk melakukan pembinaan, khususnya di tingkat nasional itu sudah semakin baik. Hanya saja untuk di tingkat provinsi atau di daerah, dukungannya belum merata. Belum ada ibaratnya pemahaman bahwa mereka (pemda) juga harus melakukan pembinaan untuk teman-teman disabilitas ini untuk juga bisa berprestasi di olahraga. Selama ini kebanyakan daerah hanya berfokus di olahraga yang nondisabilitas.

Bagaimana Anda melihat kesetaraan ekosistem olahraga prestasi bagi atlet paralimpik, mulai pembinaan, perekrutan, latihan, sampai bonus?

Di tingkat daerah memang masih belum setara antara yang disabilitas dengan yang nondisabilitas. Paling yang sudah mulai baik, serius, dan setara dalam berbagai aspeknya itu baru di Pulau Jawa. Masih banyak yang harus dibenahi untuk di daerah, mulai perekrutan, pembinaan, dukungan anggaran, dan sebagainya. Kebanyakan pemda masih mengira kalau itu sudah menjadi tanggung jawab KONI, padahal bukan. Untuk olahraga disabilitas ini di bawah NPC (National Paralympic Committee (NPC). Makanya banyak di daerah yang belum membina secara serius.

Itu salah satunya terlihat dari beberapa bulan sebelum pelaksanaan Peparnas di Papua yang berjalan saat ini. Awalnya itu hanya ada 17 provinsi yang mendaftar untuk mengirim wakilnya di Peparnas, jadi ada 17 provinsi lainnya yang tidak ikut mengirimkan wakilnya awalnya, dengan berbagai macam alasan termasuk tidak adanya anggaran ke sana. Itu kan berarti memang banyak daerah yang belum tergali potensi para atlet disabilitasnya.

Apa yang harus dilakukan untuk mengubah kondisi tersebut?

 Hal utama tentu ialah dukungan dan keseriusan setiap daerah dalam melakukan berbagai dukungan untuk pengembangan cabor disabilitas. Lalu, selanjutnya juga harus ada koordinasi yang lebih baik antarinstansi pemerintahan agar pengembangannya bisa maksimal.

Misalnya saja dukungan sejak dari tingkat sekolah. Kalau mau semakin banyak atlet disabilitas itu harusnya misalnya di sekolah luar biasa (SLB) itu cabang-cabang olahraga disabilitas harus sudah mulai dikenalkan, masuk kurikulum ke mata pelajaran olahraga misalnya.

Meskipun kami juga secara rutin dari NPC melakukan sosialisasi ke daerah juga, tapi apa yang kami sampaikan belum dilakukan dengan maksimal. Perlu dukungan pemda, juga dari Kementerian Pendidikan misalnya, Kemensos, dan sebagainya. Semuanya harus program yang integrated.

Hal apa lagi yang dibutuhkan untuk kemajuan atlet disabilitas?

Satu hal yang juga menurut saya sangat penting ialah pendirian sekolah khusus untuk olahraga disabilitas. Selama ini paling hanya dilakukan pelatihan terpusat bagi kalangan disabilitas yang dianggap berpotensi. Seharusnya itu sudah ada sekolah khususnya untuk mereka bisa dikembangkan bakatnya. Ibaratnya seperti sekolah atlet di Ragunan yang memang fokus mengasah bakat yang ada dari setiap anak.

Dengan segala fasilitas pendukungnya yang mumpuni dan tentu saja dengan kurikulum yang mendukung peningkatan kemampuan setiap siswanya baik dari sisi olahraga maupun dari sisi akademis lain secara umum. Kurikulum yang sesuai dengan kondisi teman-teman disabilitas yang berbeda-beda, jadi tidak mengeksploitasi. Itu yang menurut saya harus diwujudkan kalau memang mau mendukung pengembangan potensi atlet disabilitas dengan lebih maksimal sejak dini.

Bagaimana dari ketersediaan pelatih?

Kemenpora itu memberi fasilitas untuk peningkatan sumber daya manusia. Kami juga sering dikirim ke daerah untuk memberikan pelatihan pada pelatih-pelatih dari daerah. Jadi memang tidak kekurangan kalau untuk pelatih. Mungkin juga karena selama ini yang ditangani (atlet) juga belum begitu banyak. Untuk pelatih yang harus melatih cabor dengan menggunakan wheel chair (kursi roda), pelaksanaannya tentu lebih rumit. Harus ada pelatihan yang lebih khusus karena pada banyak kasus, penyandang disabilitas dengan kursi roda itu biasanya ada kondisi medis khusus di atlet. Jadi perlu dukungan lebih besar dari pemerintah agar pelatihnya mumpuni.

Bagaimana sebenarnya proses kepelatihan untuk olahraga disabilitas?

Pelatihan dilakukan berupa rangkaian, mulai secara teknis hingga praktik langsung melatih atlet disabilitas di lapangan. Yang bertugas memberi pelatihan ialah kami dari NPC yang memang sudah memiliki kualifikasi untuk melatih atlet dengan disabilitas. Kadang juga mendatangkan trainer dari luar negeri. Kami datang ke daerah untuk melatih.

Biasanya yang akan mendapatkan pelatihan itu diutamakan pada mereka (pelatih) yang sudah punya pengalaman untuk melatih nondisabilitas. Jadi mereka sudah tahu teknik, tinggal diperkaya dengan kemampuan dan pengetahuan tentang kebutuhan atlet disabilitas.

Selanjutnya, mereka (pelatih) juga kami ajak ke pusat untuk melihat dan praktik langsung di pelatnas. Harus praktik langsung karena untuk melatih disabilitas ini perlu memiliki kemampuan teknis dan kognitif dan harus mampu menangani berbagai jenis disabilitas. Setelah itu, mereka (pelatih) terus dipantau sampai ditentukan apakah sudah mampu menjadi pelatih atlet disabilitas secara langsung.

Apakah juga ada pelatihan tentang medis?

Tentu saja. Apalagi misalnya untuk atlet yang menggunakan kursi roda dan memiliki kondisi medis khusus seperti cerebral palsy. Itu kan memerlukan pemantauan dan penanganan khusus, juga pengetahuan pertolongan pertama dan sebagainya. Kemudian, disabilitas tunanetra sejak lahir atau tunanetra bawaan itu juga memiliki kondisi khusus karena penyandangnya tidak memiliki bayangan atas hal-hal di sekitarnya. Jadi orientasi mobilitasnya sangat terbatas dan pelatih membutuhkan waktu lebih untuk melatih, tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Sebelum bertanding juga ada pengecekan dulu secara detail terhadap atlet. Ada petugas untuk mengklasifikasikannya yang sudah tesertifikasi. Itu harus dilakukan agar tidak merugikan lawannya ketika bertanding.

Kita cek misalnya penyandang tunanetra, itu ada levelnya apakah dia buta total atau masih bisa melihat sebagian. Begitu juga jenis disabilitas yang lain. Kami cek dengan detail dan nilai kesetaraannya antarpemain yang akan bertanding dengan sangat detail. Pengetesan kami lakukan dengan sangat ketat karena tidak jarang ada yang ingin mencoba menipu misalnya dengan bilang dia buta total padahal ternyata pas dites tidak total.

Tempat berlatih dan fasilitas yang dibutuhkan olahraga disabilitas seperti apa?

Misal untuk yang menggunakan kursi roda, alas lapangannya harus menggunakan kayu lalu di pinggirnya dengan karpet. Lalu, jalurnya juga harus ada akses untuk kursi roda.

Ini saya kurang hapal jumlahnya, tapi yang pasti fasilitas seperti ini hanya ada di beberapa kota besar seperti di Jakarta dan kota besar di Pulau Jawa. Kalau di luar daerah paling baru ada seperti di Palembang dan Makassar. Itu tentu akan menyulitkan bagi teman-teman disabilitas yang ingin berlatih. Apalagi misalnya mereka yang ingin berlatih secara mandiri bukan latihan yang memang diatur oleh daerahnya untuk pembinaan.

Begitu juga dengan penyediaan kursi rodanya. Ini masih harus ditingkatkan jumlah yang disediakan. Itu kursi rodanya khusus dengan spesifikasi yang harus disesuaikan dengan jenis olahraganya. Harganya bisa lebih dari Rp100 juta per unit.

Sebagai akademisi, bagaimana keilmuwan soal olahraga paralimpik ini diterapkan dan diajarkan?

Memang kalau dari sisi akademik, hal ini masih belum sebanyak itu dibahas. Bahkan, seperti di fakultas-fakultas keolahragaan. Belum ada sampai saat ini kalau berupa program studi yang fokus ke sana. Hanya saja kalau berupa mata kuliah atau seminar-seminar tentang itu sudah ada.

Kalau untuk membuat program studi khusus memang rasanya masih perlu waktu. Khususnya dalam hal ketersediaan SDM pengajarnya, ini masih sangat kurang yang sudah memiliki kualifikasi mengajar tentang itu. Kami berharap seiring waktu akan lebih banyak SDM kami di UNS yang memiliki kualifikasi ke sana jadi kami bisa mendirikan program studi khusus olahraga disabilitas ini.

Ini sangat penting sekali. Apalagi saat ini kalangan disabilitas juga sudah mulai semakin maju, semakin mau keluar untuk bisa berkarya. Jadi sudah sepantasnya dunia pendidikan mendukung. Mengacu kepada undang-undang juga, pemenuhan hak untuk disabilitas dan ketersediaan pendidikan yang mumpuni harus dilakukan. Termasuk untuk meningkatkan jumlah SDM pendukungnya.

Sebenarnya seberapa penting suatu masyarakat atau negara mengupayakan ajang olahraga paralimpik?

Olahraga paralimpik merupakan hal yang sangat penting untuk didukung semua pihak, khususnya pemerintah. semua orang berhak untuk bisa mengembangkan dirinya dan berprestasi, begitu juga dengan kalangan disabilitas.

Negara yang kuat itu tidak memilih-milih siapa yang perlu mereka dukung, mereka lindungi, dan mereka dorong untuk bisa berprestasi. Dalam hal ini juga termasuk teman-teman disabilitas.

Jadi dampak sosialnya juga penting agar kalangan disabilitas ini juga termotivasi untuk bisa berprestasi di tengah keterbatasan mereka dan ini untuk menciptakan kesejahteraan secara nyata di masyarakat. Kalau negara sudah sebaik itu menangani kalangan disabilitas, masyarakat umum yang nondisabilitas juga akan bisa tergerak untuk bisa lebih menghargai kalangan disabilitas dan juga untuk bisa berprestasi. (M-1)

 

 

BERITA TERKAIT