14 November 2021, 05:10 WIB

Erick Thohir Transparan Jawab Tuduhan


PUTRI ROSMALIA | Weekend

SEJAK sebelum menjabat menteri BUMN, nama Erick Thohir sudah kerap menjadi pemberitaan lewat berbagai strategi bisnisnya. Setelah masuk ke Kabinet Indonesia Maju sejak 2019, Erick juga terus menjadi sorotan baik karena berbagai prestasi dan jabatan yang dipercayakan Presiden Jokowi maupun sebab kritik dan tudingan beberapa pihak terkait dengan bisnis tes PCR.

Terhangat, Erick dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) terkait dengan dugaan keterlibatan dalam bisnis tes PCR. Ia dilaporkan bersama dengan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut B Pandjaitan. Keduanya sama-sama menjabat Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), ditambah Erick juga menjabat Ketua Tim Pelaksana pada komite itu.

Erick dan Luhut dituding memiliki keterkaitan dengan PT Genomika Solidaritas Indonesia (GSI) yang mengelola lab bisnis tes PCR di Jakarta. Erick juga ikut mendapat kritik tajam terkait dengan kondisi keuangan Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah itu dikabarkan tengah terlilit utang hingga Rp70 triliun.

Biaya sewa pesawat oleh Garuda disebut yang paling tinggi dari semua maskapai di dunia. Biaya sewa itu juga yang diduga dijadikan permainan para orang dalam untuk mengambil keuntungan pribadi.

Isu lain yang tak kalah viral ialah soal keputusan Erick dalam memilih nama-nama komisaris BUMN. Pria yang merupakan pendiri Mahaka Group itu dituding menggunakan jabatan-jabatan komisaris sebagai bentuk balas budi kepada pihak-pihak pendukung Jokowi di Pilpres 2019.

Dalam menghadapi berbagai isu yang menerpanya Erick terlihat tetap tenang. Namun, sebenarnya apa yang ada di benak Erick? Hal itulah yang ikut digali di Kick Andy Double Check episode Manuver Erick Thohir yang akan tayang malam ini, Minggu (14/11), di Metro TV.

Seperti biasanya, Andy F Noya tidak ragu memberikan pertanyaan tajam mewakili berbagai pertanyaan di masyarakat. “Apakah Anda tegar?” tanya Andy di studio Metro TV, Jakarta, Sabtu (12/11).

Dengan tenang, Erick menjawab ia selalu berusaha untuk tegar dan tidak terpengaruh akan isu-isu tentang dirinya yang ada di masyarakat. Ia melihat berbagai tudingan merupakan dinamika yang menjadi risiko seorang pejabat publik.

“Anda diduga mandapat keuntungan dari bisnis tes PCR, dengan semua kebijakan soal tes PCR dituduh bahwa Anda yang kemudian diuntungkan, apakah itu benar?” tanya Andy lagi. Saat menjawab itu, Erick dengan tegas menampik berbisnis dan mengambil keuntungan dari kebijakan soal tes PCR. Ia juga menjelaskan lebih jauh soal tudingan adanya hubungan antara ia dan PT GSI.

Isu lain yang juga digali dengan tajam oleh Andy ialah soal keputusan Erick dalam menentukan nama-nama komisaris di BUMN. Terkait dengan hal itu, Erick mengatakan selalu mempertimbangkan sosok-sosok yang akan mengisi jabatan BUMN. Kepada Andy, ia menjelaskan faktor-faktor yang menjadi penilaiannya dan ia juga merujuk pada perundang-undangan.

“Anda menempatkan mantan narapidana kasus korupsi, itu nalarnya bagaimana, apakah Anda kecolongan?” tanya Andy. Ketika menjawab desakan itu, Erick tak menampik bahwa ada beberapa langkahnya yang perlu dikoreksi dan terus diperbaiki.

Pria yang menjabat Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019 itu mengatakan berusaha untuk terus mempercepat kemajuan BUMN-BUMN, sebagaimana yang juga menjadi amanat Presiden Jokowi.

Sebab itu, ia juga sangat menerima ketika Jokowi mengkritik keras kinerja BUMN yang dinilai ketinggalan zaman dan manja. “Anda setuju pernyataan Pak Jokowi bahwa BUMN manja?” ujar Andy. “Iya, saya setuju, sangat setuju,” tukas Erick.

Terkait dengan Garuda, Erick mengatakan sangat terganggu dengan banyaknya negara lain yang ingin menjadikan Indonesia sebagai target pasar mereka. Ia mengatakan tak rela kalau kemudian ada yang memanfaatkan keterpurukan Garuda Indonesia di kemudian hari. “Jadi, menurut Anda, ada konspirasi untuk mematikan Garuda?” tanya Andy.

Hal lain yang tentu saja tak luput dari perhatian Andy ialah isu-isu manuver Erick menjelang Pemilu 2024, khususnya tentang kemungkinan Erick melaju sebagai calon presiden atau calon wakil presiden.

Meski merasa masih terlalu dini kalau membicarakan Pemilu 2024, dirinya juga tak menampik akan adanya ambisi pada pesta demokrasi yang akan datang. “Ambisi positif oke, tapi ambisi buta bahaya. Apalagi konteks ini, menurut saya, masih terlalu dini dibahas sekarang,” akunya.

 

Nikmati peran menteri

Karena memiliki latar belakang sebagai pebisnis, Erick mengaku harus beradaptasi dengan tugas sebagai pejabat negara. “Kalau bicara tentang kehidupan yang sebelumnya, ya, memang nikmat jadi presiden Inter Milan. Memang kehidupan swasta lebih mudah,” ujar pria yang menjadi pemegang saham mayoritas Inter Milan pada 2013 sebelum melepas saham mayoritas pada 2016.

Meski begitu, ia juga menikmati perannya sebagai menteri karena dapat berkontribusi bagi rakyat. “Misalnya ketika terjadi pandemi, saya bisa bergerak lebih banyak, melakukan banyak hal untuk membantu dengan maksimal. Itu akan sulit dilakukan kalau saya hanya bergerak di swasta,” tuturnya.

Erick mengungkapkan tantangan lain sebagai pejabat negara ialah membuat keluarga juga tetap tenang ketika ia dikritik, apalagi difitnah. “Kultur yang diajarkan orangtua saya adalah harus selalu bertanggung jawab dan berempati. Ketika dituduh sesuatu, kita harus berani menjawab dengan transparan,” tutur Erick. (M-1)

BERITA TERKAIT