31 October 2021, 05:15 WIB

HENGKI SIHOMBING DAN DENNI PUSPA PURBASARI Kontribusi untuk Bangsa


(*/M-1) | Weekend

DIREKTUR Operasional dan Teknologi Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Hengki Sihombing, yang lahir pada 1985, mengaku baru mengenal internet saat memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Pria yang akrab disapa Hengki itu terlahir dari seorang ayah yang bekerja sebagai wartawan dan ibu seorang petani.

Awal mengenal internet, Hengki belum tertarik untuk mendalaminya. Di kala itu, dia masih bercita-cita untuk sekolah di bidang arsitek. Sementara itu, orangtuanya memiliki harapan agar anak mereka menjadi dokter.

Jalan hidup membawanya kuliah di Jurusan Teknik Informatika Universitas Gunadarma. Nyatanya, ia cocok di bidang itu bahkan sudah bekerja di sebuah perusahaan konsultan perangkat lunak sejak sebelum lulus.

Kemudian, dia berpindah ke perusahaan agensi digital di saat tren Facebook ads. Setelah berkenalan dengan beberapa startup dan menjadi digital engineer, pada 2015 Hengki memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan membuat sebuah startup bernama Urbanhire, penyedia aplikasi rekrutmen online. Tiga tahun berselang, Hengki mendapat tawaran dari Kantor Staf Presiden untuk membantu sistem teknologi program Kartu Prakerja dari nol.

"Awalnya saya hanya berniat membantu, tapi saat saya membantu, saya sudah tertarik dengan konsep maupun jenis layanan publik yang didesain seperti transparan, proses pendaftaran tanpa perantara, tidak ada calo, sangat terbuka, dan semua orang bisa mendaftar," katanya saat hadir sebagai bintang tamu Kick Andy episode Pantang Padam Meraih Cita, yang tayang pukul 19.05 di Metro TV.

Dengan menjabat direktur operasi kartu prakerja pada 17 Maret 2020, dan membuat sistem teknologi program Kartu Prakerja, Hengki menjalankan tugasnya dengan baik yang terbukti hingga kini. Dia membuat sistem yang aman dan diakui tidak pernah mengalami down meskipun diakses puluhan juta orang di seluruh Indonesia dengan jumlah 200 ribu pengguna per detik.

Dengan bergabung di program Kartu Prakerja, Hengki memiliki definisi kontribusi sebagai rakyat Indonesia. "Sepertinya ini adalah kontribusi terbesar saya sebagai seorang warga negara karena mungkin saya sebelumnya membuat startup untuk mempertemukan orang pencari kerja dengan orang yang membutuhkan tenaga kerja. Dengan dana sekian triliun (rupiah) yang dikucurkan di program (Kartu) Prakerja dan dalam waktu satu setengah tahun kita sudah menetapkan penerima bantuan itu 11 juta lebih," paparnya.

"Sepertinya itu pencapaian yang sangat besar. Mungkin kalau saya lakukan itu di swasta, mungkin butuh minimal, mungkin, delapan tahun. Jadi, saya lihat, dalam satu setengah tahun saya bisa memberikan dampak besar untuk negeri ini," lanjutnya.

Testimoni dari peserta program Kartu Prakerja dari Indonesia Timur memberikan semangat tersendiri bagi Hengki. Baginya, dengan membuat sistem teknologi yang bagus, dia dapat menjadi jembatan mimpi-mimpi rakyat Indonesia di bagian Indonesia Timur.

Dalam kesempatan yang sama, Denni Puspa Purbasari selaku Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja mengatakan program itu bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di usia kerja.

"Kesulitan dari sebuah program baru adalah karena tidak ada gambaran, kita kemudian harus latihan pikir dengan banyak orang pintar, dengan banyak pelaku semuanya. Kita mendengar dulu kemudian mengecek yang sudah dilakukan apa. Kita, kan, enggak bisa kemudian mengulang apa yang sudah ada," paparnya.

Lebih lanjut, Denni mengatakan program itu sangat berbeda dari program-program lainnya lantaran para peserta bebas memilih minat dan bakat dan peluang yang dilihat. Selain itu, karena adanya pandemi, keseluruhan proses pelatihan dilakukan secara virtual. Terakhir, pelatihan itu sangat praktis karena sebagai pelengkap dari pendidikan vokasi atau pelatihan dari kementerian dan lembaga.

Program Kartu Prakerja juga memberikan peluang untuk mitra-mitra, yaitu lembaga pelatihan, untuk berkompetisi dalam memberikan pelatihan yang bagus. Saat ini, tersedia 440 pelatihan yang disediakan 97 lembaga pelatihan.

Terkait dengan dana yang telah disalurkan, Denni mengungkapkan pihaknya pada 2020 mendapatkan alokasi dana sebesar Rp20 triliun dan tahun ini mendapatkan alokasi dana Rp21,2 triliun. Prioritas untuk masuk program itu ialah anak-anak muda dengan umur 18-35 tahun, sementara usia maksimal dibatasi hingga usia 64 tahun. (*/M-1)

BERITA TERKAIT