26 October 2021, 01:41 WIB

Yang Masih Menjadi Ganjalan dalam Dunia Puisi Indonesia


Fathurrozak | Weekend

Penyair Joko Pinurbo mengatakan saat ini perkembangan puisi di Indonesia sudah semakin semarak bila dibandingkan pada masa awal-awal ia menulis puisi. Menurut amatannya, semakin banyak penyair yang menunjukkan corak berbeda-beda.

“Antara satu dengan yang lain, itu menunjukkan corak yang berbeda. Warna lokal juga mulai diolah kembali dari para penyair di berbagai daerah. Jadi panorama puisi di Indonesia semakin meriah,” kata penulis Perjamuan Khong Guan, dalam siaran langsung Nunggu Sunset di Instagram Media Indonesia, Senin (25/10).

Sepakat dengan Jokpin, penyair Inggit Putria Marga juga melihat diksi-diksi yang digunakan sudah semakin beragam yang menunjukkan adaptasi dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat saat ini.

“Munculnya diksi-diksi yang lebih bebas daripada sebelumnya. Penggunaan diksi dari kata-kata gaul, itu banyak juga diolah oleh teman-teman. Ada juga puisi-puisi yang dikombinasikan dengan bahasa ibu. Ini kan suatu kreativitas yang layak dihargai juga,” kata peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 itu dalam kesempatan sama dengan Jokpin.

Meski keduanya sepakat saat ini perkembangan puisi di Indonesia sudah semakin semarak, tetapi ada satu yang masih jadi persoalan. Representasi dan panggung yang adil bagi perempuan penyair masih jadi pekerjaan rumah dunia sastra kita.

Inggit misalnya mencontohkan, dalam antologi puisi bersama, selalu saja jumlah karya milik perempuan penyair masih minor.

“Memang terlihat ada ketimpangan dari segi jumlah misalnya. Panggung untuk para perempuan penyair, untuk mereka berbicara, masih kurang,” kata Inggit.

Beberapa faktor yang menyebabkan itu terjadi di antaranya selama ini menurut Jokpin kita hidup dalam kuasa patriarkat yang cukup bertahan lama. Sehingga itu juga berpengaruh pada dunia sastra, termasuk bias dari para redaktur, editor, dan penentu kebijakan lolosnya suatu karya yang dipublikasikan masih didominasi laki-laki. Atau yang disebut Inggit sebagai penentu standar. “Masalahnya juga di situ. Sejak awal karya diseleksi sudah ada bias. Oleh karena itu harus mulai terbiasa untuk bersikap lebih fair,” kata Jokpin.

Ia pun yang kerap diminta menjadi kurator sastra secara objektif juga melihat ke karya-karya perempuan penyair. Ia juga mengapresiasi perjuangan yang dilakukan oleh para perempuan penyair dalam merebut ruang dan wacana dalam sastra.

“Perjuangan kita bukan semata-mata perjuangan bersastra. Tapi menciptakan ekosistem yang lebih adil,” kata peraih dua kali Kusala Sastra Khatulistiwa itu.

Pada Festival Bahasa dan Sastra 2021 yang diadakan Media Indonesia, Jokpin dan Inggit akan melelang puisi tulisan tangan mereka. Hasil lelang tersebut nantinya akan disalurkan untuk biaya pendidikan anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat pandemi covid-19. (M-2) 

BERITA TERKAIT