24 October 2021, 05:15 WIB

Samsudin Dongeng Pembela Bumi


(*/M-1) | Weekend

BERBAGAI cara dilakukan para pejuang lingkungan untuk mengedukasi masyarakat. Pegiat lingkungan Samsudin memiliki cara unik untuk menyampaikan pesan-pesan melestarikan lingkungan, yaitu lewat dongeng keliling.

Uncle Sam, demikian ia akrab disapa, sebelumnya berprofesi sebagai guru. “Lalu saya memutuskan untuk tetap mengajar, tapi dengan cara saya sendiri. Kebetulan karena saya punya pengalaman bagus mengenai dongeng, jadi saya pakai media dongeng sebagai media untuk menjelaskan kepada orang banyak untuk mencintai alam dan mencintai satwa langka," kata Samsudin saat menjadi bintang tamu Kick Andy episode Bumi Rumah Kita yang tayang Minggu (24/10), dengan menggunakan kostum badak .

Samsudin menjelaskan niatnya sebagai pendongeng juga terinspirasi oleh pertemuannya dengan ahli biologi Amerika, Meenaksi Negendran, atau akrab disapa Mini, pada 2014 di Taman Nasional Ujung Kulon. Perbincangan Uncle Sam bersamanya membahas kelangkaan satwa badak. Mulai dari situ akhirnya tercetus ide wayang sebagai media untuk bercerita.

Selain itu, ia menyebut mendiang praktisi penyelamat badak Marcellus Adi Riyanto, atau akrab dipanggil Marcell, sebagai pendorongnya. Pada 2016, dengan mengendarai sepeda ontel, dia melakukan tandem kegiatan dongeng keliling bersama dengan mendiang Marcell dan beberapa teman-teman lainnya.

Perjalanan pertama itu dilakukan pada peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2016. Diawali di depan Kantor KLHK, Gedung Manggala Wanabakti, perjalanan itu berakhir di Stasiun TVRI Jambi. Demi mendukung aksinya saat mendongeng, pria kelahiran Indramayu 50 tahun silam itu juga membuat wayang-wayangan dari karton dan kardus bekas.

Hingga kini, terhitung Uncle Sam telah berkeliling sekitar 13 provinsi. Uncle Sam dapat dikenali dengan kain tua dengan tulisan 'Mendongeng Keliling Anak, Gratis, Rumah Baca Bumi Pertiwi' yang diikatkan pada bagian depan sepeda. Perlengkapan mendongengnya diletakkan dalam kotak yang diikat di tempat duduk belakang sepeda.

“Di dongeng saya untuk badak jawa saya namai Baja (badak jawa). Kalau badak bercula dua dari Sumatra saya namai Batra (badak sumatra)," jelasnya. Samsudin yang mendapatkan penghargaan Kehati Award 2020 untuk kategori citra Kehati ini mengaku pernah pula mengalami dilema ingin hidup normal seperti sebelumnya.

Namun, dadanya kerap merasa sakit jika memikirnya masih banyak anak yang belum dia datangi. Karena itu, Samsudin kembali berkomitmen melanjutkan keliling Indonesia untuk menyebarkan pesan pentingnya pelestarian lingkungan dan satwa. (*/M-1)

BERITA TERKAIT